Warek III Bantah Kekang Aspirasi Mahasiswa

 

WAKIL Rektor III Universitas Lampung (Unila) Prof. Karomani membantah adanya tudingan pengekangan kebebasan mengemukakan pendapat terhadap mahasiswa di kampus. Menurutnya Rektorat mempersilakan mahasiswa menyampaikan aspirasi namun dengan santun dan etika.

“Tidak benar jika tindakan kami terhadap para koordinator aksi 17 Juli 2017 lalu merupakan bentuk pengekangan
terhadap mahasiswa,” ujar Karomani menanggapi pernyataan Herwin Saputra selaku Jendral Aliansi Gugus 9 yang beredar di media sosial.

Menurutnya, upaya pemanggilan beberapa koordinator aksi dan orang tua mereka ke kampus tidak terkait persoalan kebebasan mengemukakan pendapat melainkan soal pelanggaran etika yang beberapa mahasiswa lakukan saat aksi unjuk rasa berlangsung Senin pekan lalu.

“Yang berprestasi akan diberi penghargaan. Mereka yang diduga melakukan pelanggaran tentu akan diproses. Itu
prinsipnya. Jika terbukti melanggar tentu akan dijatuhkan sanksi sebagaimana peraturan kampus,” pungkasnya.

Pemanggilan itu menurut Aom, sapaan akrab Karomani, adalah untuk meminta keterangan atau informasi dugaan pelanggaran etika dengan mengumpulkan bukti dari berbagai pihak. Termasuk berupaya berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang tua mahasiswa.

“Jadi tidak benar jika proses pemanggilan ini merupakan bentuk ancaman atau tekanan terhadap kebebasan berpendapat mahasiswa. Silakan mengemukakan pendapat namun tetap dengan kesantunan dan dengan etika, juga tidak melanggar aturan,” tegas Aom.

Mengenai dugaan pelanggaran, Karomani menjelaskan, berdasarkan dokumentasi dan keterangan saksi, para korlap (koordinator lapangan) aksi diduga telah bersikap arogan, berkata kasar, bahkan menerabas masuk ruang pimpinan Unila.

Tindakan pemanggilan tersebut menurut Karomani merupakan upaya tim pleno dalam menjalankan perintah Rektor menindaklanjuti mereka yang diduga bersalah sebagaimana keputusan atau hasil rapat pleno antara rektor, para wakil rektor, dekan, dan wakil dekan III terkait aksi Gugus 9 lalu.

“Sanksi kepada mereka yang bersalah akan diberikan sesuai pedoman. Bisa mendapat sanksi berat, sedang, ringan. Pemanggilan orang tua mahasiswa justru dimohon datang untuk meminta masukan baiknya sepertinya apa, bukan menakut nakuti.”

Karomani berharap, hasil diskusi dan masukan dengan para orang tua dapat meringankan sanski anak mereka yang diduga melanggar. “Adapun sanksi akademik atau nonakademik akan diputuskan oleh Rektor atas pertimbangan dan masukan hasil pengembangan tim pleno, jadi bukan oleh saya selaku Warek III.”

Pemanggilan orang tua mahasiswa telah Karomani lakukan pada Jumat (21/7/2017). Karomani pun menyinggung kekecewaan mahasiswa terhadap batalnya rencana dialog bersama Rektor Unila pada 20 Juli lalu sebagaimana dijadwalkan usai aksi.

Karomani menjelaskan, Rektor berhalangan hadir lantaran harus bertolak ke Jakarta secara mendadak. “Namanya pejabat itu kadang-kadang harus menghadiri agenda mendadak. Jadi bukan Warek III bohong, tapi karena memang pak rektor harus ke Jakarta pada tanggal tersebut,” jelasnya.[Humas_Unila]

Foto: Pelepasan PSM