UPT Perpustakaan Gelar Semiloka Memperkuat Kompetensi dan Inovasi

45801826_547121279081425_5138718843979431936_o
45549385_547120895748130_1010569550929854464_o
45573660_547121149081438_2441167039184764928_o
45726007_547121015748118_360034348075843584_o
45633722_547120882414798_6034960063456608256_o

(Unila): Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr.  Bujang  Rahman, M.Si., membuka Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Perpustakaan bertajuk “Knowledge Management Untuk Meningkatkan Kompetensi dan Memperkuat Inovasi Perpustakaan”. Kegiata yang diikuti 100 peserta ini digelar di Hotel Emersia Bandarlampung, Senin (5/11/2018).

Agenda ini merupakan semiloka (seminar dan lokakarya) tahunan UPT Perpustakaan Universitas Lampung bekerja sama dengan FPPTI (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi) wilayah Lampung dan juga Dinas Perpustakaan serta Kearsipan Provinsi Lampung.

Kegiatan akan berlangsung sampai dengan Rabu, 7 November 2018, dengan rangkaian acara yang diawali semiloka dilanjutkan workshop pada hari kedua, dan lokakarya call paper.

Tujuan kegiatan adalah untuk mengetahui perkembangan terbaru di bidang perpustakaan serta meningkatkan kemampuan dalam menulis karya ilmiah. Pada kegiatan ini panitia menghadirkan tiga narasumber antara lain Ismail Fahmi, Ph.D., Imam Budi Prasetiawan, M.I.Kom., dan Amirul Ulum, M.IP.

Erni Fitriani, S.Sos., M.Si., selaku ketua pelaksana dalam laporannya menyampaikan, pemakalah di kegiatan ini diikuti sebanyak 31 peserta yang berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Para peserta terdiri dari 12 provinsi yaitu Banda Aceh, Sumatra Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi.

Prof. Dr.  Bujang  Rahman, M.Si., menyampaikan, tema seminar sangat menarik dan sangat tepat. Saat ini kita berada pada revolusi industri 4.0 yang mengalami perubahan begitu cepat dari industri 3.0. Tiga tantangan perpustakaan saat ini di antaranya pertama tingkat ketersediaan. Pada era yang sudah cangih saat ini tidak hanya mengandalkan hadrcopy tetapi juga mencari softcopy yang dapat diakses dari manapun.

Kedua, tingkat kemudahan akses. Bagaimana menciptakan website yang mudah diakses oleh jaringan. Ketiga kemenarikan, ini tidak kalah penting karena harus mengetahui bagaimana cara menarik orang untuk kembali lagi mengunjungi perpustakaan baik secara online maupun offline.[Penda/Humas]