(Unila): Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Universitas Lampung (LP3M Unila) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Panduan International Credit Transfer (ICT). Kegiatan berlangsung di ruang rapat LP3M, Kamis (28/3/2019).

Diskusi kelompok terarah ICT ini diadakan sebagai salah satu upaya Unila menuju world class university. Dukungan internasionalisasi itu pun diterapkan bagi seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa.

International credit transfer dipersiapkan agar setiap fakultas memiliki competitive and comparative sides. Misalnya program joint curriculum dan credit transfer sebagai bentuk program mobilitas mahasiswa.

“Jangan sampai tergerus gelombang teknologi. Masing-masing fakultas harus punya internasional guide”

Hal itu digagas untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa terkait atmosfer akademik dan kehidupan kampus di universitas mitra.

Ketua Pusat Kurikulum dan Pengembangan Pembelajaran (PKPP) Dr. Pujiati, M.Pd., menerangkan, tahun lalu tim PKPP bersama Wakil Rektor Bidang Akademik Unila Prof. Bujang Rahman mengadakan kunjungan ke Perguruan Tinggi lain.

Sebagai tindak lanjut dari lawatan itu, tim PKPP pada 22 Maret 2019 lalu mulai memetakan kurikulum program studi pada konteks international credit transfer. Hal itu sebagai langkah awal Unila untuk memiliki panduan yang mengatur international credit transfer.

Puji juga menjelaskan, hasil pemetaan itu disusul dengan FGD untuk merumuskan Panduan International Credit Transfer.  FGD diikuti perwakilan pimpinan fakultas di lingkungan Universitas Lampung. “Draf pedoman ini kami siapkan mengacu dari Belmawa, mohon masukan dan sarannya,” ajak Puji.

Bujang saat membuka kegiatan mengatakan, ini merupakan langkah strategis Unila menyesuaikan perkembangan saat ini. Sebab berbagai persoalan saat ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu.

“Perlu kebijakan-kebijakan mendasar untuk merespons hal ini. Jika tidak, kita akan tertinggal jauh karena seluruh Perguruan Tinggi sudah menyiapkan serangkaian strategi untuk lebih maju,” tegasnya.

Bujang menambahkan, setidaknya ada dua hal yang bisa memacu langkah itu. Yakni paradigma yang terkandung unsur teknologi dan kecakapan dari manusia itu sendiri. Kebijakan kurikulum kelak berbudaya fleksibel menyesuaikan globalisasi.

“Jangan sampai tergerus gelombang teknologi. Masing-masing fakultas harus punya internasional guide,” imbuhnya.[Riky/Inay_Humas]