(Unila): Universitas Lampung (Unila) terus memperketat pengamanan pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 melalui sistem berlapis yang memadukan skrining fisik, penguncian sistem komputer, enkripsi soal, pengawasan ruang, dan koordinasi lintas panitia, guna menutup celah kecurangan sejak peserta memasuki lokasi ujian hingga seluruh data ujian selesai diproses.
Tak hanya mengandalkan pemeriksaan fisik di pintu masuk, Unila juga menerapkan pengamanan berbasis sistem melalui penggunaan ‘UTBK OS’, yakni sistem operasi khusus dari panitia pusat yang membuat komputer peserta hanya dapat menjalankan aplikasi ujian.
Dalam wawancara pada Kamis, 23 April 2026, Kepala UPA TIK Unila Dr. Eng. Ir. Mardiana, S.T., M.T., IPM., menjelaskan, pengamanan UTBK tahun ini dimulai dari lapis pertama berupa skrining menggunakan metal detector, pemeriksaan manual oleh petugas, hingga pembatasan ketat terhadap barang bawaan peserta.
Tas peserta diwajibkan dijinjing, bukan diselempangkan, agar tangan tidak leluasa menjangkau barang yang dibawa. Sementara perangkat komunikasi dan elektronik dibatasi, sedangkan telepon genggam yang masih dibawa peserta harus dalam kondisi mati dan langsung diletakkan di tempat yang telah disediakan sehingga tidak bisa diakses selama ujian berlangsung.
Menurut Mardiana, pengamanan di dalam ruang ujian juga diperkuat dengan pengawasan langsung oleh petugas. Meski seluruh ruangan telah dilengkapi CCTV, beberapa kamera sengaja dimatikan apabila mengarah ke layar komputer peserta karena hal itu tidak diperbolehkan dalam aturan.
Sebagai gantinya, pengawasan dilakukan lebih ketat oleh pengawas ruangan dengan rasio satu pengawas untuk 10 peserta. Skema ini dinilai cukup efektif untuk memastikan setiap peserta terpantau tanpa mengganggu jalannya ujian.
Inovasi paling menonjol dalam pelaksanaan UTBK di Unila tahun ini adalah penggunaan ‘UTBK OS’ yang menggantikan sistem sebelumnya. Jika pada tahun-tahun lalu pengamanan perangkat mengandalkan aplikasi Safe Exam Browser, kini komputer peserta langsung dijalankan dengan sistem operasi khusus dari panitia pusat yang dimuat melalui flashdisk di masing-masing perangkat. “Jadi tidak ada aplikasi apa pun yang bisa berjalan selain dari OS tersebut,” ujar Mardiana.
Dengan sistem ini, komputer peserta tidak dapat mengakses internet, Wi-Fi, maupun aplikasi lain di luar aplikasi ujian dan hanya terhubung melalui jaringan LAN yang telah disiapkan panitia.
Pengamanan juga diterapkan pada distribusi dan pengelolaan soal. Mardiana menegaskan, soal UTBK telah dienkripsi dari pusat dan hanya bisa dibuka menggunakan token pada waktu yang sudah ditentukan. Token yang sudah diterima panitia tidak bisa dipakai lebih awal sebelum sesi dimulai.
“Soal itu sendiri dienkripsi dari pusat dan hanya bisa dibuka dengan menggunakan token,” katanya.
Setelah ujian selesai, berkas hasil pengerjaan dikumpulkan, dikemas, diunggah, lalu seluruh data dihapus sesuai prosedur pusat sehingga setiap sesi dimulai dalam kondisi sistem yang kembali bersih. Setiap sesi pun menggunakan token yang berbeda sebagai bagian dari pengamanan tambahan.
Di sisi lain, Unila juga tetap memastikan pelaksanaan UTBK berlangsung inklusif bagi peserta disabilitas. Tahun ini, Unila mendata peserta tuna rungu dan tuna daksa dengan pendampingan khusus, terutama bagi peserta yang menggunakan kursi roda atau alat medis.
Untuk peserta dengan kebutuhan khusus lainnya, seperti low vision, panitia pusat dapat menyiapkan aplikasi khusus berdasarkan laporan jumlah peserta dari lokasi ujian. Menurut Mardiana, kesiapan teknis ini menjadi bagian dari upaya agar keamanan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek pelayanan.
Sementara itu, Komandan Satuan Pengamanan sekaligus ketua regu pengamanan lapis pertama, Akwan, S.H., M.H., mengatakan pengawasan di pintu masuk dilakukan dengan ketelitian tinggi.
Setelah peserta diperiksa menggunakan metal detector, petugas akan melanjutkan dengan pemeriksaan manual bila ditemukan indikasi mencurigakan. Bagian-bagian yang diperiksa meliputi kancing baju, telinga, ikat pinggang, hingga kacamata karena seluruh area tersebut dinilai berpotensi menjadi tempat penyembunyian alat komunikasi ilegal.
Untuk peserta perempuan, pemeriksaan dilakukan oleh tim medis perempuan demi menjaga privasi dan tetap sesuai SOP. Petugas keamanan juga memantau gerak-gerik peserta saat menuju ruang ujian. Peserta yang terlambat, tiba-tiba berhenti, atau menunjukkan perilaku tidak wajar akan diperiksa lebih intensif.
Menurut Akwan, berhenti mendadak saat berjalan bisa menjadi indikasi peserta sedang menyetel alat komunikasi tersembunyi. Karena itu, peserta diminta tetap berjalan tanpa berhenti menuju ruang ujian.
Ia menambahkan, konsistensi personel juga dijaga agar standar pemeriksaan tetap sama. “Kami sangat profesional dan tidak berganti-ganti orang di divisi skrining agar SOP tetap terjaga,” ujarnya.
Hingga hari ketiga pelaksanaan, Unila melaporkan situasi UTBK tetap aman dan kondusif tanpa temuan kecurangan. Hal ini menjadi catatan penting, terutama di tengah maraknya laporan di sejumlah daerah lain terkait penggunaan receiver, headset bluetooth, dan alat komunikasi tersembunyi.
Mardiana mengakui, modus seperti itu memang menjadi perhatian nasional, bahkan ada wacana perlunya perangkat pendeteksi sinyal ilegal untuk memperkuat pengawasan di masa mendatang. Namun sejauh ini, pelaksanaan di Unila dinilai berjalan lancar.
Di Provinsi Lampung, lokasi UTBK dibagi antara Unila dan Itera, sementara penempatan peserta hingga pembagian sesi sepenuhnya ditentukan pusat. Menurut Mardiana, skema tersebut juga menjadi bagian dari mitigasi keamanan untuk mencegah pola kecurangan yang terorganisasi. [Riky Fernando]



