(Unila): Memenangkan penghargaan sebagai pusat riset strategis dan inkubator Sumber Daya Manusia (SDM) unggul pendukung program pembangunan Provinsi Lampung oleh Lampung Post Award 2026 dengan tema “Asta Cita Bersama Lampung Maju”, pada Selasa, 14 april 2026 di Hotel Emersia.
Acara ini dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Komjen. Pol. (Purn.) Dr. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M., Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., Bupati Lampug Timur Ela Siti Nuryamah, S.Sos.I., M.E., M.A.P.., Plt. Bupati Lampung Tengah I Komang Koheri, S.E., M.Sos., dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Bimo Epyanto.
Pada eksekutif forum bertema “Bersinergi Mengakselerasi Pembangunan Lampung Menuju Indonesia Emas 2045”, Gubernur Gubernur Lampung menyampaikan Provinsi Lampung memiliki potensi besar di berbagai sektor, khususnya pertanian dan pariwisata yang berperan krusial dalam mendorong pembangunan daerah.
Namun demikian, optimalisasi hasil panen dinilai masih belum maksimal, terutama dalam aspek hilirisasi. Kondisi ini menyebabkan sebagian petani belum memperoleh pendapatan yang sepadan dengan hasil produksi mereka.
“Kami berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengoptimalan pengolahan bahan mentah, pembangunan kawasan industri, serta peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan yang berkelanjutan,” ujar Gubernur Lampung.
Berangkat dari penyampaian Gubernur Provinsi Lampung, Prof. Lusi selaku narasumber berkesempatan menyampaikan pendapatnya tentang pentingnya pendidikan. Ia menyoroti peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Provinsi Lampung masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama oleh berbagai pihak.
“Datanya yang dicatat oleh kami, bahwa APK di Provinsi Lampung adalah sekitar 24,36 persen. Sementara di Indonesia sudah mencapai 32,89 persen. Artinya di situ tertinggal jauh untuk APK yang ada di Provinsi Lampung,” jelasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya peran masyarakat dan orang tua dalam mendorong anak-anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terutama setelah lulus dari SMA atau SMK.
“Kita usaha semaksimal mungkin bagaimana supaya pendidikan ini merata. Kurang lebih 250 ribu setiap tahunnya itu yang lulus dari SMA, SMK atau sederajat. Tetapi untuk masuk ke perguruan tinggi hanya sekitar 12–13 ribu,” tambahnya.
Meski demikian, Prof. Lusi menyampaikan kualitas pendidikan di Provinsi Lampung menunjukkan tren yang semakin positif, khususnya pada penerimaan mahasiswa di beberapa program studi strategis.
“Artinya, kualitas pendidikan yang ada di Provinsi Lampung ini semakin meningkat. Belum lagi di fakultas-fakultas lainnya, dia menunjukkan sudah ada pergerakan secara positif,” katanya.
Sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, ia menambahkan perguruan tinggi terus melakukan pembenahan sistem akademik serta peningkatan kualitas program studi.
“Kami di Unila sendiri berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki sistem yang ada, sehingga dari 126 program studi, lebih dari 50 persennya sudah terakreditasi unggul, dan kemudian ada 30 program studi yang sudah terakreditasi internasional,” ujarnya.
Melalui pembenahan sistem dan peningkatan kualitas institusi, diharapkan angka partisipasi pendidikan tinggi di Lampung tidak lagi sekadar angka statistik, melainkan menjadi cerminan meningkatnya aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan orang tua menjadi kunci agar kesenjangan antara jumlah lulusan sekolah menengah dengan mahasiswa baru dapat segera teratasi.
Dengan begitu, Provinsi Lampung dapat melahirkan generasi unggul yang siap bersaing secara global seiring dengan semakin banyaknya program studi yang meraih pengakuan internasional. [Magang Nurma Safira & Shalu M]




