Unila Gelar Seminar Internasional Trans-disciplinary Aprroach

0
1525
42182224_524561124670774_4635630783225135104_o
42241148_524561244670762_188810322860048384_o
42199580_524561211337432_5282102457390858240_o
42223537_524561198004100_2411722951016579072_o
42195039_524561104670776_3180920571181400064_o

UNIVERSITAS Lampung (Unila) mengadakan seminar internasional bertajuk “Community-Oriented and Watershed-based Approach for Harmonizing Enviromental Conservation and Regional Economy”, Kamis (20/9/2018).

Kegiatan yang berlangsung di ruang sidang lantai 2 Rektorat Unila ini diresmikan oleh Rektor Unila Prof. Dr. Hasriadi Mat Akin, M.P. Dalam sambutannya, Rektor mengucapkan selamat datang kepada para pembicara yang telah hadir di Kampus Hijau.

Prof. Bustanul Arifin selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan, acara ini merupakan rangkaian kerja sama Unila dengan Jepang dan Filipina yang dijalin sejak 2012.

Pada intinya, kata dia, Universitas Lampung sebagai kampus harus mencari cara baru untuk mengharmonisasi antara sisi ekonomi dan lingkungan. Karena jangkauannya sangat luas, maka program kerja ini tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan butuh keterlibatan sejumlah stakeholder.

“Saya sebagai ekonom pertanian pasti melibatkan teman-teman di biologi, statistik, bahkan lingkungan. Inilah saatnya bagi kita mencari cara baru yakni trans-disciplinary approach. Lebih lengkap dari interdisciplinary approach. Pada trans-disciplinary approach, saya dituntut untuk mempelajari ilmu lain,” ujarnya.

Sebagai contoh kasus pertama yang diteliti yakni daerah aliran sungai (DAS) Sekampung yang merupakan daerah aliran sungai untuk Lampung dari hulu hingga hilir. “DAS ini melibatkan 6 juta penduduk. Apapun di DAS ini ada, seperti kopi, kakau, padi, singkong. Terus sampai ke selatan, timur, aqua culture, tambak, termasuk mangrove conservation,” kata dia.

Guru Besar FP Unila ini mengungkapkan, trans-disciplinary approach merupakan hal baru. “Kita undang petani dan membawa para peneliti untuk mengunjungi lokasi. Setelah itu duduk bersama dalam suasana ilmiah,” tuturnya.

Bustanul menambahkan, melalui kerja sama kegiatan yang didukung Toyota Foundation ini diharapkan mampu menumbuhkan jejaring. Dan yang paling penting, lanjutnya, memberikan sistem peringatan dini bagi para petani sehingga mendorong mereka menyelesaikan masalah.

Seminar ini menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Prof. Ryohei Kada dari Shijonawate Gakuen University dan Shiga University dengan materi berjudul “International Collaboration for Sustainable Resource Management ini Asia”, dilanjutkan Prof. Muhajir Utomo dari Unila yang memaparkan materi bertajuk “Historical and Scientific Perspectives on Mangrove Conservation on Lampung”, serta Prof. Kazue Fujiwara dari Yokohama National University yang membahas soal “Mangrove Conservation ADN Ecosystem Services: Lessons From Asia Experience”.

Acara yang merupakan kolaborasi para peneliti dari Indonesia, Jepang, dan Filipina ini terdiri dari empat sesi yang diisi oleh para peneliti dari Unila, University of the Philippines Los Banos, Kyushu University, Shijonawate Gakuen University, Shiga University, dan Shiga university.[Caca/Inay_Humas]