Unila dan Tiga PT di Bandarlampung MoU dengan BPOM

47492744_561547930972093_644197892709416960_o
47375620_561547557638797_4457012430643396608_o
47341231_561547704305449_6660066757815828480_o
47491561_561547480972138_1956197920738902016_o
47488549_561546684305551_578478613838430208_o

(Unila): Tantangan pengawasan obat dan makanan kian hari makin beragam seiring berkembangnya teknologi informasi dan jalur distribusi pasar yang melebar akibat perdagangan bebas.

Potensi kejahatan kemanusiaan di bidang obat dan makanan sangat rentan terjadi, terlebih di Indonesia yang cakupan wilayahnya sangat luas.

Melihat hal ini diperlukan sebuah sinergi dan kolaborasi dari semua pihak untuk memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia, tak terkecuali Perguruan Tinggi.

Oleh karena itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Bandarlampung bersama empat Perguruan Tinggi yang ada di kota setempat berkomitmen meningkatkan pengawasan obat dan makanan.

Komitmen itu dikukuhkan dalam sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang dilakukan BPOM dengan Universitas Lampung (Unila), Institut Teknologi Sumatera (Itera), Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung, dan Universitas Mitra (Umitra) Lampung.

Penandatanganan nota perjanjian itu dilakukan oleh Kepala BPOM Bandarlampung Dra. Syamsuliani, Apt, M.M., dan Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Hasriadi Mat Akin, M.P., Rektor Itera Prof. Ir. Ofyar Z Tamin, M.Sc., Ph.D., Rektor UTB Lampung Dr. Agus Mardihartono, M.M., dan Wakil Rektor III Universitas Mitra Lampung Armen Patria, S.Kp., M.M., M.Kes. Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Pertanian, Rabu (5/12/2018).

Nota kesepahaman bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya manusia dan sinergi pengawasan obat dan makanan di seluruh wilayah Lampung, yang pada akhirnya akan meningkatkan efektivitas sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing lembaga.

Selain itu, kata Syamsuliani, kerja sama ini didasari kesadaran bahwa pengawasan obat dan makanan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu mendapat perhatian utama.

“Kami tidak akan bisa bekerja sendiri karena globalisasi, penyelundupan produk ilegal, koordinasi lintas satker, dan keterbatasan sumber daya menjadi tantangan yang sangat besar bagi BPOM. Untuk itu kami harus mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Rektor Unila Prof. Hasriadi menyampaikan, di era industri 4.0 ini semua pihak harus bekerja sama membangun sumber daya manusia, terutama di bidang pengawasan obat dan makanan. Unila dengan berbagai program studi yang bergerak di bidang kesehatan juga berencana membangun gedung pusat riset awal tahun 2020 mendatang. “Ini latar belakang kita membangun kerja sama supaya dapat meningkatkan kompetensi dan inovasi-inovasi yang berhubungan dengan obat dan makanan,” pungkasnya.

Pada acara ini turut dihadiri para wakil rektor, dekan, kepala bagian, kepala subbagian, tenaga kependidikan di lingkungan Unila, serta perwakilan mahasiswa Unila, Itera, UTB, dan Umitra Lampung.[]