Testimoni Rektor IAIN Raden Intan dalam buku Aksi dan Inspirasi Rektor Unila 2007-2015

BEBERAPA dosen di Universitas Lampung (Unila) yakni Maulana Mukhlis, Bainah Sari Dewi, Chery Saputra, dan Bartoven Vivit Nurdin bersama jurnalis senior Lampung Post Sudarmono menulis sebuah buku yang didedikasikan untuk Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S. yang akan mengakhiri jabatannya selama dia periode pada November ini.

Buku yang diberi judul Aksi dan Inspirasi Rektor Unila 2007-2015 ini diawali dengan sambutan Rektor Unila Terpilih Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P, juga ada testimoni dari Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo dan Rektor IAIN Raden Intan Lampung Prof. Dr. Moh. Mukri, M.Ag.

Berikut adalah testimoni Prof. Dr. Moh. Mukri dalam buku : Aksi dan Inspirasi Rektor Unila 2007-2015

~
Ada terminologi yang sampai saat ini saya yakini dan saya jalani sebagai ‘modus’ terbaik dalam memimpin. Yakni “Empat R.” R pertama adalah rasio, yaitu pikiran, kecerdasan, atau logika. R kedua adalah raga. Orang bekerja menggunakan tubuh atau kekuatan kesehatan, demikian juga dalam memimpin. R ketiga adalah rasa. Ini ranah tertinggi dari potensi manusia yang diolah hati, ini olah rasa. Sedangkan R keempat adalah religi. Pencapaian hidup paripurna adalah ketika relijiusitas seseorang telah mapan. Dia akan selamat dalam memimpin.

Menanyakan posisi Pak Sugeng P Harianto dalam memimpin Unila, saya tetap menggunakan terminologi itu. Manusia tidak ada yang sempurna, tetapi saya harus mengatakan, Pak Sugeng punya dominasi atas elemen 4R itu. Maka, dia selamat bisa menjalankan tugasnya sebagai rektor hingga dua periode atau selama delapan tahun.

Saya katakan selamat, bukan sukses atau gagal. Sebab, perjalanan berprosesnya suatu institusi sesungguhnya tidak bisa dipanggulkan kepada sesosok manusia bernama rektor, direktur, atau apapun namanya yang berada di puncak pimpinan. Demikian juga Pak Sugeng, dia adalah dirijen yang memberi komando kepada ribuan pemegang alat instrumen pada orkestra bernama Universitas Lampung, Unila.

Absurd sekali jika ada kekurangan, jika itu fakta, kemudian ditimpakan kepada seorang Sugeng belaka. Dan saya yakin, karena Pak Sugeng punya beberapa unsur dari 4R tadi, oleh karena itu meski terdapat banyak kemajuan dan keberhasilan yang telah Unila raih, dia tidak mungkin secara jumawa memproklamasikan diri sebagai orang yang mencetak sinar cemerlang atas keberhasilannya itu. Beliau juga tak mungkin berhasil jika tidak didukung oleh staf-staf yang paling berkeringat menjalankan instruksi-instruksinya.

Seorang konduktor memang punya kuasa mengayunkan stik ke arah manapun selama masih dalam wilayah oktaf-oktaf birama. Seorang pemimpin juga demikian. Ia bisa menunjuk dan memerintah setiap pemegang delegasi untuk memainkan perantinya sesuai arahan. Tetapi, sekali lagi tak ada sesuatu yang bergerak dinamis itu sempurna. Ada pemegang gitar yang dawainya putus saat dipetik, ada peniup terompet yang kadang tersedak, ada juga vokalis yang terpeleset setengah oktaf, dan lainnya. Maka, orkestra itu bisa saja ada fals-sumbang di mana-mana. Apakah konduktor itu kemudian dicap gagal? Tentu tidak begitu.

Dua periode memimpin, artinya dia sudah berhasil melalui mekanisme konstitutif evaluasi pada kepemimpinan periode pertama. Terpilihnya kembali Sugeng pada periode kedua adalah tolok ukur paling normatif untuk menggambarkan bagaimana kepemimpinannya pada periode pertama. Fakta itu tak terbantahkan menggunakan teori apapun. Apa yang lebih kuat ketimbang fakta.

Meskipun demikian, saya adalah orang luar yang bisa saja mengandalkan asumsi dalam memberi penilaian. Tetapi, pergaulan saya kepada civitas akademika Unila bukan baru seumur jagung. Terlebih, saya juga beraktivitas pada tune atau frekuensi yang sama, yakni pendidikan tinggi. Maka, pengalaman saya menjadi pimpinan di perguruan tinggi bisa menjadi referensi statemen saya.

Hal-hal yang menguatkan premis itu adalah fakta lain di atmosfer Unila. Pak Sugeng dipilih bukan menggunakan mekanisme seperti pemilihan bupati, wali kota, gubernur, bahkan presiden. Ia maju pada kontestasi yang harus merebut hati, pikiran, dan rasa orang-orang hebat anggota senat.

Siapa itu anggota senat? Ia adalah orang-orang dengan kompetensi tinggi pada ilmunya masing-masing, gelarnya juga tak ada yang kurang dari magister, mereka juga para “politisi”, dan yang harus menjadi catatan, suara mereka harga rupiahnya unlimited atau tidak terbeli. Sulit untuk menerima bahwa suara orang-orang hebat itu tidak berkualitas –meskipun menggunakan metode voting–. Ini artinya, menang periode kedua adalah buah dari ‘keseimbangan rasa’ yang dirasakan oleh para anggota senat pada periode pertama.

Baiklah, kita tinggalkan diskursus itu. Soal Pak Sugeng, saya hanya ingin mengatakan bahwa dia memimpin Unila dengan rasa. Jika banyak pengamat mengatakan Lampung adalah laboratorium politik Indonesia, saya katakan bahwa Lampung juga laboratorium kepemimpinan. Karakter masyarakat dan budaya yang ada memang membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga kapal tetap melancung dengan stabil. Memimpin organisasi apapun di Lampung harus tahu persis kapan layar dikibarkan, kapan melempar sauh, dan kapan saatnya berlabuh.

Bagi saya, Unila adalah gairah. Ia lahir lebih dulu dari pada IAIN Raden Intan yang saya pimpin saat ini, jauh lebih besar, lebih mapan, dan sedang diakselerasi untuk mendekat dan masuk ring sebagai PTN terbaik. Ada proyeksi sebagai 10 universitas terbaik Indonesia pada 2025.

Kenapa itu sesuatu yang menggairahkan? Sebagai –saya tak segan menyebut runner up–, IAIN Raden Intan punya raw model yang berada amat dekat dan setiap saat bisa kami buntuti langkahnya dan tirukan prosesnya, saya jiplak produknya. Bahkan, kami juga tak segan membajak sources unggul yang ada; yakni dosennya.

Cara saya mengarahkan IAIN Raden Intan dalam hal menduplikasi sukses Unila ini mungkin ada sebagian pihak yang menganggap tidak fair. Tetapi, saya meyakini, meniru kebaikan adalah bagian dari ibadah yang memberikan pahala kepada pihak yang diteladani. Artinya, ketika kami meniru model kemajuannya Unila, sesungguhnya kami mempersembahkan kebaikan. Mencuri ilmu, bahkan dengan membeli, lalu kami bawa pulang, bongkar, dan otak-atik sehingga mengetahui persis keunggulan dan kelemahannya.

Saya harus mengakui, kampus IAIN Raden Intan sekarang yang banyak dipuji orang karena tata ruang dan keasriannya itu “belajar” dari “kesalahan” Unila. Saya tidak mengatakan tata ruang Unila buruk, tetapi kami bisa memperbaiki kekurangannya. Itu mungkin berkah karena IAIN lahir setelah Unila.

Tak etis saya membandingkan dua kampus ini. Sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan, bahwa bagi IAIN Raden Intan, Unila adalah cermin. Kami tak begitu peduli apakah cermin itu dilap atau tidak, keropos atau tidak. Ketika kami bercermin, yang kami lakukan adalah bersolek. Memperbaiki posisi rambut, memberi rona di pipi, memoles lipstik di bibir, bahkan memeriksa gigi, apakah ada cabai tersangkut menjadi selilit.

Jika tidak ada Unila, mungkin kami tak pernah bersolek. Jika Unila jauh, mungkin kami tak pernah latihan public speaking sebelum tampil di hadapan khalayak. Jika Unila tak lebih dulu ada, mungkin kami jadi lembaga norak karena kelewat pede. Unila adalah inspirasi berkeringat bahkan berdarah-darah bagi IAIN Raden Intan. Mungkin, dari itu juga yang membuat kami ikut berkeringat untuk kemudian sehat, namun kami tidak perlu berdarah-darah.

Sosok Pak Sugeng saya kira adalah orang yang punya kapasitas, punya strategi tarung, dan punya karakter kuat. Bahwa dia kerap terkesan slenge’an, saya kira itu adalah cara dia untuk membawa diri dan menetralisasi keadaan. Tidak semua saat adalah sesuatu yang kondusif. Ada percik-percik yang mungkin pula memantik urat kepala menegang, maka Sugeng mengalihkannya dengan canda tawa riang.

Saya kenal Pak Sugeng sejak lama. Kami berangkat dari orang tua dengan strata yang sama. Jadi, ada kesamaan dalam banyak hal, tetapi ada pembeda yang juga mungkin menjadi keunggulan atau kelemahan masing-masing.

Ketika bertemu, kami saling menambal. Pengalaman Pak Sugeng di Unila adalah pelajaran bagi saya untuk saya aplikasikan di IAIN. Yang pasti, kami punya semangat yang sama.

Saya tidak tahu setelah purnatugas Pak Sugeng sebagai rektor mau kemana dan mau ngapain. Yang pasti, dia punya kapasitas, kapabilitas, kompetensi, dan makin sepuh makin wise.

Terjun ke politik? Oh, itu pilihan menarik. Tetapi, saya yakin pak Sugeng punya pertimbangan matang untuk mengambil langkah strategis. Investasi nama ketika berada pada posisi puncak di Universitas negeri terbesar di Lampung memang cukup moncer, tetapi itu saja tidak cukup. Selamat Mas Sugeng… !