Teknik Elektro-PLN Gelar FGD Soal Listrik

(Unila): Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik (FT) bersama PLN menggelar Focus Discussion Group (FGD) Opinion Leader Multi Sektor, Forum Pemred, dan BEM “Menjadikan Subsidi Listrik Tepat Sasaran”. Kegiatan digelar selama dua hari mulai besok Rabu-Kamis (21-22/10).

Kasubbag Humas Unila M. Badrul Huda, S.I.Kom., mengatakan, pelaksanaan FGD ini merupakan salah satu upaya sosialisasi dan edukasi kepada pemangku kepentingan yang dianggap memiliki pengaruh dalam pembentukan opini publik.

PLN menggandeng Jurusan Teknik Elektro sebagai media sosialisasi karena merasa perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai latar belakang dan dampak yang akan timbul terkait penertiban kategori pelanggan istrik.

Berdasarkan survei lapangan yang dilakukan Divisi Niaga PLN Pusat, subsidi listrik untuk golongan tarif R-1 450VA dan 900VA yang diperuntukkan bagi rakyat miskin dirasa belum tepat sasaran. Menurut data PLN pada 2015 menunjukkan, jumlah pelanggan di kedua golongan tarif tersebut sebesar 44,9 juta pelanggan, dengan alokasi subsidi sebesar Rp 55 triliun.

Padahal, data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga miskin dan rentan miskin hanya 24,7 juta rumah tangga. Sebagai tindak lanjut kesimpulan Rapat Kerja Menteri ESDM dengan komisi VII DPR RI pada 17 September 2015 terkait subsidi listrik tahun 2016, ditetapkan bahwa subsidi untuk 24,7 juta rumah tangga miskin dan rentan miskin hanya Rp37,31 triliun.

Oleh karena itu, PLN akan menyeleksi konsumen yang layak menerima subsidi berdasarkan kriteria yang ditetapkan pemerintah. Proses seleksi yang antara lain berupa penertiban kategori pelanggan diperkirakan akan menimbulkan keresahan dan gejolak di masyarakat.

Adapun narasumber yang dihadirkan yaitu dari PLN pusat/unit juga pengamat listrik atau ekonomi yang aham kondisi PLN dan situasi kelistrikan secara makro dan lokal. “Peserta besok terdiri dari anggota BEM, pemimpin redaksi media massa, opinion leader (OL) baik dari kalangan LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta adakemisi,” ujarnya.[*]