Ridho Kagumi Inovasi Tiga Mahasiswa Unila

(Unila): Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo kagum akan inovasi tiga mahasiswa Universitas Lampung (Unila) yang membuat lampu di dalam air guna meningkatkan hasil tangkapan ikan. Ridho pun memastikan dinas terkait akan menindaklanjuti hasil temuan tersebut.

“Kami mengapresiasi temuan tersebut. Kami juga beberapa kali mengunjungi Unila dan memang banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh mahasiswa. Sebagai generasi intelek, mahasiswa harus memberikan kontribusi bagi pembangunan khususnya di Lampung,” kata Ridho, Rabu (29/3/2017).

“Mudah-mudahan dengan adanya temuan alat tangkap itu, hasil tangkapan para nelayan di Lampung bisa meningkat dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Lampung,” tambah Ridho.

Inovasi teknologi di bidang kelautan hasil karya tiga mahasiswa Unila adalah lampu berbahan aki yang bisa menyala di air dengan kedalaman 30 meter selama 10 jam. Lampu yang dinamai Sophisicated Fish Cather Macheni (SFCM)-Tech ini mampu meningkatkan pendapatan nelayan hingga empat kali lipat.

Lampu yang waterproof (tahan air) ini dirancang oleh tiga mahasiswa dari jurusan berbeda di Unila. Ketiganya adalah Ari widodo (21) mahasiswa perikanan dan kelautan; Muhamad Yasin (22 ) mahasiswa teknik elektro; dan Muhammad Agung Hardianto( 22 ) mahasiswa teknik pertanian.

Berdasarkan teori, ikan tertarik dan cenderung mendekati cahaya pada malam hari. Penyebabnya, fitoplankton memerlukan cahaya untuk melakukan fotosintesis, kemudian zooplankton yang berukuran besar akan berkumpul untuk memakan fitoplankton tersebut.

Adanya fitoplankton dan zooplankton akan menarik ikan-ikan kecil datang untuk memakannya, dan selanjunya ikan-ikan besar akan datang untuk memakan ikan kecil tersebut.

Ari menuturkan, lampu SFCM-Tech yang difungsikan untuk menambah hasil tangkapan ikan itu murni rancangan dan buatan mereka bertiga.

“Jadi kita buat sendiri dari nol, dari tahun 2015. Saya mengonsep alatnya, dan Yasin merancang kelistrikannya,” kata Ari. Ari mengungkapkan, alat ini sedang mengikuti program seleksi inovasi teknologi dan bisnis Kementrian Riset dan Teknologi – Pendidikan Tinggi untuk mendapatkan dana hibah. Selanjutnya, dana hibah akan dipergunakan  untuk memroduksi alat tersebut dalam skala besar.

Ari menyebutkan, SFCM-Tech ini sudah diujicobakan oleh sejumlah nelayan di wilayah Teluk Lampung. Hasilnya, kata Ari, ada peningkaan hasil tangkapan hingga 4 kali lipat. “Ini mampu menarik ikan sehingga hasil tangkapan nelayan kecil, khususnya nelayan bagan makin banyak, ” ujarnya.

Inspirasi Sungai Musi

Gagasan pembuatan lampu ini, sambung Ari, tercetus dari keprihatinannya atas aktivitas nelayan di kampung halamannya di Sumatra Selatan. “Para pencari ikan di sungai Musi makin sembarangan. Mereka menggunakan alat yang dapat merusak biota air. Sudah hasilnya sedikit, tidak ramah lingkungan pula,” ungkapnya.

Ari kemudian berkoordinasi dengan Agung untuk berinovasi membuat alat sebagai solusi permasalahan tersebut. “Awal mula prototipe tahun 2015, dan itu masih skala sungai. Jauh ke sini saya berpikir kenapa tidak diaplikasikan ke laut,” ucapnya. Ia pun mulai merancang alat yang dapat menangkap ikan secara ramah lingkungan.

“Setelah itu kita godok secara matang alat tersebut, sehingga akhir tahun 2016 terciptalah SFCM-Tech, kemudian kita coba di Pulau Pasaran,” ungkap Ari. Agung menambahkan, inovasi teknologi ini memiliki harga produksi yang relatif murah dan mudah diaplikasikan. Jika diproduksi secara massal, satu lampu SFCM-Tech akan dibandrol Rp300 ribu.

“Itu jelas sangat murah mengingat lampu hanya pakai aki 12 volt dengan daya 10 watt yang tahan hingga 10 jam,” kata Agung. Dengan biaya operasional murah itu lah, Agung yakin inovasi ini bakal meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Karena hasil tangkapan banyak, operasionalnya murah. Dibandingkan pakai genset bisa habis Rp80 per malam,” ujarnya.

Ia memaparkan, selama ini nelayan cenderung menggunakan lampu yang dicelupkan ke dalam air dengan sumber listrik dari mesin genset. Menurut dia, penggunaan genset idak maksimal dikarenakan suara bising yang ditimbulkan cenderung mengganggu ikan saat mendekati sinar lampu.

“Kurangnya pengetahuan nelayan bahwa sering pakai genset akhirnya dapat membuat ikan takut,” katanya. Yasin mengatakan, SFCM – Tech ini dapat bertahan hingga 3 tahun.“ Perawatannya sangat mudah, cukup mencas aki lagi sebagai daya lampu,” ujarnya. Ia mengungkapkan, selama merancang alat ini terkendala dengan minimnya bahan. Menurut dia, sangat sulit mendesain rangkaian listrik arus DC yang tahan di dalam air dengan jangka waktu yang lama.

“Cari bahan-bahan yang sesuai dengan desain itu agak susah. Apalagi (lampu) yang tahan kedalaman laut,” tandasnya. Sementara Wardianto, dosen pembimbing Ari Widodo, Mengunakan SFCM – Tech merupakan sebuah inovasi baru. “Memang sebelumnya alat seperti itu sudah ada. Tapi, bisa jadi penemuan terbaru karena penggunaan alat dan bahan yang murah,” sebutnya.

Selain itu, lampu tersebut menggunakan arus DC yang hemat energi. “Dengan daya 12 volt sudah mampu bertahan 10 jam. Bandingkan dengan alat lain yang menggunakan genset dan memiliki watt yang besar kalau alat ini hanya 10 watt,” tegasnya.

Dipatenkan

Ketua Center for Career and Entrepreneurship Development University of Lampung (CCED) Unila, Ayi Ahadiyat mengungkapkan, pihaknya akan mematenkan alat tersebut. “Ini dalam proses hak cipta, agar tidak ada tangan-tangan nakal yang mencontohnya,“ ujarnya dihubungi via telepon. Menurut dia, hak paten merupakan bentuk dukungan pihak kampus terhadap karya mahasiswa. “Untuk pengakuan pihak luar masih kita pertandingkan melalui seleksi Menristek-Dikti,” ungkapnya.

Selain itu, Ayi mengungkapkan inovasi Ari dkk ini merupakan pencapaian luar biasa. Sebab, peserta Menristek-Dikti itu notabene adalah dosen, sedangkan dari Unila diwakili mahasiswa. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Karomani mengungkapkan karya inovasi terbaru dan ini sangat kita apresiasi,“ ujarnya.

Untuk membangkitkan inovasi di kalangan mahasiswa Unila, Karomani akan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi. “Ini agar menjadi pemicu untuk para mahasiswa agar mau berinovasi dan mengangkat almamater hingga di kancah internasional,” kata Karomani. Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung, Ilyas Hayadi Muda, mengapresiasi penelitian yang dilakukan tiga mahasiswa Unila. Menurut Ilyas, jika memang terbukti bisa meningkatkan hasil tangkap para nelayan jelas akan sangat membantu.

“Kami sangat mendukung itu. Memang seharusnya seperti itu (penelitian) para mahasiswa. Sehingga masyarakat terutama nelayan bisa terbantu. Kami juga akan sangat berterimakasih,” ujar Ilyas, Rabu. Ilyaspun menyatakan segera berkoordinasi dengan pihak Unila agar bisa mengambil langkah tindak lanjut seperti sosialisasi kepada nelayan Lampung. “Nantinya juga kan kami uji, seperti apa cara kerjanya, bagaimana bisa meningkatkan hasilnya,” paparnya.[alf/iny-humas]

Unila di media, sumber : Tribun Lampung, 30 Maret 2017