Rektor Terima Kupas Tuntas Award 2018

47322852_560903484369871_262434046657691648_o
47391775_560903441036542_1188602782936989696_o
47687118_560903367703216_8919713914837532672_o
47353399_560903211036565_5260692328888139776_o

(Unila): Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., menerima penghargaan Kupas Tuntas Award Tahun 2018. Penghargaan itu merupakan penghargaan kepada sejumlah tokoh di Lampung yang dinilai berprestasi memajukan Provinsi Lampung di bidangnya masing-masing.

Penghargaan diserahkan pada malam Anniversary ke-12 Surat Kabar Kupas Tuntas di Ballroom Hotel Emersia Bandarlampung, Senin (3/12/2018) malam.

Penghargaan diberikan oleh Kepala BNNP Brigjen. Pol. Tagam Sinaga, S.H., kepada Rektor Universitas Lampung Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P.

Zainal Hidayat, S.H., selaku ketua pelaksana menyampaikan, pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh daerah ini merupakan kali pertama selama 12 tahun Kupas Tuntas didirikan. Penghargaan diberikan sebagai ungkapan terima kasih atas sumbangsih, ide, dan pemikiran yang telah diberikan.

Direktur Utama Kupas Tuntas Donald Harris Sihotang mengatakan, penghargaan Kupas Tuntas ini juga dituliskan dalam sebuah buku terbaru karya Kupas Tuntas berjudul “Inspirasi dari Lampung”.

“Buku ini berisi berbagai prestasi dan pencapaian para tokoh yang dinilai berprestasi. Nominasi penghargaan yang diterima juga berbeda-beda. Ada yang di bidang pendidikan, pariwisata, ekonomi kerakyatan, pelayanan publik, dan berbagai bidang lainnya,” kata Donald.

Adapun Rektor Unila, mendapatkan penghargaan karena dinilai berhasil membawa kemajuan signifikan di Kampus Universitas Lampung, terutama pada pembangunan infrastruktur maupun peningkatan akademik. Misalnya saja, di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., RSP Unila yang sempat mangkrak kembali dilanjutkan.

Bagi Hasriadi, RSP Unila memang sangat penting. Selain mendukung pelayanan kesehatan masyarakat dan Fakultas Kedokteran Unila, RSP merupakan front office Unila, bagian terdepan lingkungan kampus. Maka tidak heran, melanjutkan pembangunan RSP ini menjadi salah satu misi yang disampaikan Hasriadi saat mencalonkan diri sebagai rektor di tahun 2015 lalu.

“Awal jadi rektor saya bertekad bagaimana caranya rumah sakit ini bisa terwujud. RSP itu front officenya Unila. Selama RSP itu tidak jadi, orang luar tidak akan pernah melihat Unila dari depan. Karena yang kelihatan hanya hutan. Oleh sebab itu saya berusaha untuk mencarikan dana,” kata Hasriadi.

Biaya yang dibutuhkan untuk merampungkan RSP ini memang tidak sedikit. Menurut Hasriadi, untuk infrastruktur saja membutuhkan dana sekitar Rp650 miliar hingga Rp700 miliar. Jika ditambah pemenuhan fasilitas kesehatan, totalnya bisa mencapai Rp1 triliun. Untuk itu, dibutuhkan pendanaan yang cukup besar. Tak mungkin mengharapkan dana SPP mahasiswa. Bagi Hasriadi, dana SPP tak akan cukup.

“Kita memang sejak awal nggak mengharapkan SPP mahasiswa. SPP mahasiswa hanya bisa disisihkan Rp25 miliar, mau jadi Rp700 miliar berapa puluh tahun bisa terkumpul? Mungkin sudah pada pensiun semua belum selesai tuh rumah sakitnya,” ujar Rektor.

Tak hanya RSP Unila, semenjak menjabat jadi Rektor, begitu banyak pembangunan fisik yang sudah diresmikan oleh Hasriadi. Seperti Gedung Student Center dan Masjid At-Tarbiyah, Gedung Perkuliahan E Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Gedung Teaching Factory meliputi gedung Business Learning Centre (BLC) dan Entrepreneur Development Center (EDC), ruang Satuan Pengendali Internal (SPI), lahan parkir (shuttle bus), serta berbagai fasilitas di kampus hijau tersebut.

Perjuangan untuk ini, kata Hasriadi guna mendukung visi Unila menjadi 10 besar perguruan tinggi di Indonesia pada 2025. Tidak sekadar mengandalkan proses akademik saja tetapi berusaha menciptakan inovasi-inovasi baru, seperti melengkapi sarpras dan gedung. Berbagai pendanaan kini sudah masuk dan hasilnya dapat dilihat pembangunan di sana-sini terus berjalan.

“Salah satu yang sudah berjalan yaitu pembangunan Rusunawa untuk mahasiswa. Di tahun 2018 sudah dibangun satu gedung. Di tahun depan akan dibangun dua lagi. Tidak kurang dari 10 gedung kita sudah bangun. Ada yang renovasi, ada yang baru, ada juga melanjutkan pembangunan sebelumnya,” jelas dia.

Selanjutnya di tahun 2019, Unila akan melanjutkan pembangunan secara besar-besaran. Yaitu membangun 4 embung senilai Rp37 miliar. Kemudian akan dibangun pusat pengelolahan sampah. Tujuannya, agar Unila benar-benar menjadi kampus hijau.[]