(Unila): Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, M.P., membuka Seminar Nasional (Semnas) FISIP ke-3 di Hotel Bukit Randu, Kamis (8/8/2019).

Seminar bertajuk “Agenda Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Local Knowledge” itu diikuti 52 pemakalah perwakilan 13 perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia. Presentasi para pemakalah dibagi menjadi tiga sesi.

Panitia menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. Bustanul Arifin (Dewan Komisioner dan Ekonomi Senior INDEF); Dr. Najib Azca, Ph.D. (Sosiolog UGM); dan Dr. Nina Yudha Aryanti, M.Si. (Ketua Pusat Kajian Budaya LP2M Unila).

Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan Ir. Taufik Hidayat, M.M., MEP., mewakili Gubernur Lampung menyampaikan, dari sisi demografis Provinsi Lampung memiliki jumlah penduduk terbesar kedua di Sumatera. Adapun jumlah penduduk produktif pada tahun 2018 sebesar 51,1%.

Hal ini juga menjadi peluang pencapaian bonus demografi yang memasuki puncaknya pada tahun 2035. Sedangkan dari segi kekayaan alam, Provinsi Lampung merupakan penyangga pangan nasional sekaligus penghasil komoditas pertanian, perkebunan, perternakan, yang besar seperti ubi kayu dan nanas peringkat pertama nasional.

Pisang kopi dan tebu peringkat dua nasional. Jagung, kambing, kakao, dan udang peringkat 6 nasional, sedangkan sapi potong dan ayam buras peringkat 7 nasional. “Selain itu keindahan alam juga menjadi tujuan wisatawan,” tuturnya.

Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin mengatakan, tidak ada satupun yang bisa menghalangi terjadinya globalisasi. Jika tidak mengikuti akan menjadi masyarakat kuno. Namun di sisi lain banyak sekali nilai-nilai baru yang sangat dibutuhkan untuk membangun negara Indonesia di tengah arus globalisasi.

Oleh sebab itu harus diimbangi dengan budaya lokal. Ini salah satu hal yang harus diperkuat dalam rangka menghalau efek-efek negatif dampak globalisasi.

“Kekalahan bangsa kita dalam globalisasi ditunjukkan dengan hal-hal yang menggerus kearifan lokal. Nilai-nilai budaya kita termarjinalisasi oleh proses yang namanya globalisasi. Nah ini salah satu yang perlu kita sikapi,” kata dia.[Penda_Humas]