(Unila): Universitas Lampung (Unila) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan kepemimpinan yang berdampak melalui ruang dialog inspiratif.
Hal tersebut tercermin dalam Podcast Unila Talks (U-Talks) yang digelar di Studio Humas Unila, Senin, 4 Mei 2026, dengan menghadirkan Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng.
Di balik kepemimpinan yang tegas dan visi yang progresif, tersimpan kisah sederhana tentang mimpi, dukungan keluarga, dan keberanian menembus batas.
Rektor periode 2023-2027 tersebut mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama yang menduduki posisi tertinggi di kampus Unila, sebuah capaian yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dipandu Dr. Feri Firdaus, S.I.Kom., M.A., selaku host, perbincangan berlangsung hangat dan reflektif, mengupas perjalanan, nilai, serta perspektif kepemimpinan perempuan di lingkungan perguruan tinggi.
Prof. Lusmeilia, yang dikenal sebagai Rektor perempuan pertama Unila, membagikan kisah personal yang tidak hanya informatif, tetapi juga sarat inspirasi.
Ia menuturkan, perjalanan menuju posisi Rektor bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal, melainkan proses panjang yang dibentuk oleh pengalaman, ketekunan, serta dukungan keluarga.
“Jadi sebenarnya menjadi Rektor di universitas tidak pernah terbayang dalam benak saya, tetapi orang tua saya selalu mensupport, terutama ibu saya,” ungkapnya.
Perjalanan akademiknya dimulai dari bangku Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, tempat ia meraih gelar sarjana pada 1991.
Ketekunannya membawanya melanjutkan studi ke Prancis, hingga meraih gelar magister pada 1999 dan doktor pada 2004 dari Université de Caen dan Université de Nantes.
Namun, di balik capaian akademik yang gemilang, ada dorongan sederhana yang terus ia ingat, yakni pesan ibunya.
Pesan sang ibu yang sederhana namun kuat menjadi pemantik semangatnya untuk terus melampaui batas diri. Ia mengenang bagaimana harapan itu sempat terasa seperti angan-angan, hingga akhirnya membentuk keyakinan akan masa depan.
“Jadi kalau ibu saya kepala sekolah, saya Rektor universitas,” tuturnya.
Pengalaman sebagai mahasiswa Teknik Sipil di tengah dominasi laki-laki turut membentuk karakter kepemimpinannya. Ia belajar tentang ketangguhan, kemampuan beradaptasi, serta keberanian untuk tetap berdiri dalam situasi yang tidak selalu mudah bagi perempuan.
Menurutnya, posisi yang ia emban saat ini bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah besar yang sarat tanggung jawab. “Jabatan ini bukan hanya tingkat, tetapi adalah amanah, pekerjaan yang penting dalam hal tanggung jawab,” tegasnya.
Dalam perspektif kepemimpinan, ia juga menyoroti kekuatan khas yang dimiliki perempuan. Ia memaknai, perempuan memiliki kemampuan berpikir luas dan mampu fokus pada berbagai hal sekaligus.
Kemampuan multitasking ini, menurutnya, menjadi salah satu keunggulan yang mendukung perempuan dalam menjalankan peran kepemimpinan.
Ia menambahkan, perempuan adalah sosok yang istimewa, mampu mengelola banyak peran dalam waktu yang sama tanpa kehilangan esensi kepemimpinannya.
Pandangan ini ia bawa dalam memimpin institusi pendidikan, dengan pendekatan yang tidak hanya rasional, tetapi juga empatik dan adaptif.
Kisah kepemimpinan ini tidak hanya menjadi catatan sejarah bagi Unila, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa, sivitas akademika, hingga masyarakat luas.
Batasan bukanlah sesuatu yang tetap dan bahwa perempuan memiliki ruang yang sama untuk tumbuh, memimpin, dan membawa perubahan. [Magang_Asnia Sundari]
