(Unila): Sistem pertanian di berbagai belahan dunia kini telah mengalami evolusi sebagai dampak kemajuan teknologi dan meningkatnya pengetahuan manusia.

Indonesia sendiri sebagai salah satu negara agraria juga mengalami perubahan tersebut terutama di era revolusi industri 4.0 ini yang mana dituntut untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian.

Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan penerapan teknologi tepat guna dan informasi yang terus update sehingga tantangan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 tidak lagi menjadi masalah besar.

Peran pelaku pertanian baik dari kalangan pengusaha, peneliti dan petani menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di bidang pertanian. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pertemuan ilmiah berupa seminar nasional yang membahas informasi dan teknologi terbaru dalam upaya perlindungan tanaman.

Perhimpunan Fitopatologi dan Entomologi Indonesia (PFI dan PEI) Komda Lampung memfasilitasi pertemuan tersebut yang diharapkan menjadi media untuk memperoleh informasi terkini dalam mengatasi tantangan di era revolusi industri 4.0 sehingga peningkatan hasil pertanian dapat terus berjalan dan pembangunan pertanian berkelanjutan dapat tercapai.

Pemrasaran berasal dari pemangku ABG (academisi, business, goverment), akademisi oleh Dr. Kurnia Muludi (Ketua Jurusan Ilmu Komputer FMIPA Unila dan Dr Heri Santoso (PPKS Medan, bisnis oleh Nico Alfredo, SP (PT Bayer Indonesia) dan M. Iqbal S.P (Terminix PT Agricon Putra Citra Optima), serta unsur pemerintah oleh Ardi Praptono, S.P., M.Agr (Direktur Perlindungan Perkebunan Kementerian Pertanian).

Jumlah peserta seminar sekitar 150-an orang berasal dari anggota PFI dan PEI, dosen, peneliti, pemerintah daerah, karantina tumbuhan, pengusaha, wirasawasta, dan mahasiswa.

Kegiatan yang digelar di ruang sidang lantai 2 Rektorat Unila ini juga didukung oleh sebelas pelaku bisnis yaitu PT. Agrokimia yang bergerak di bidang perdagangan/distributor benih, pupuk dan pestisida yang berpartner dengan PT Bayer, FMC, Rainbow, AGM, NPCA, Syngenta, Dupont, DGM, M2U, dan lain lain.

Dukungan juga oleh PT GGF (Great Giant Food) yang merupakan group bisnis Gunung Sewu dengan pengembangan agrobisnss antara lain buah buahan, daging sapi, daging ayam, dan susu segar, produk nanas olahan (nanas kaleng dan juice concentrate) dan pisang.

Sedangkan PT Sumitomo Chemical Asia yang berkantor pusat Singapura dengan produk Petrochemicals & Plastics, Energy & Functional Materials, Health & Crop Sciences, It-Related Chemicals.

Pendukung lain yaitu CV Tunas Artha Mandiri (distributor pestisida, herbisida dan pupuk), PT Sanitas (distributor pestisida dan herbisida), Terminix (urban pest control & fumigasi), CV Surya Pest (pestisida, urban pest control, fumigasi, peralatan aplikasi pestisida dan pertanian lainnya), PT Bayer Indonesia (Pharmaceuticals, Consumer Health, Crop Science, dan Animal Health), PT Hamoni Global Lestari (distributor pestisida, insektisida, rodentisida dan peralatan pertanian, perkebunan, pest management, safety chemical).

Selanjutnya Taman Wisata Wongsotirto Agro Park (Jasa Wisata, Tanjung Bintang Lampung Selatan) dan Klinik Tanaman Fakultas Pertanian Unila dengan produk yang di tawarkan yaitu biopestisida seperti Trichobas yang telah memiliki paten yang merupakan salah satu penerima paten dari 26 paten yang ada di Unila yang mendapatkan rekor MURI.

Dr. Radix Suharjo sebagi ketua panitia seminar dan temu bisnis, Dr. Sudiono Ketua Komda PFI Lampung dan Prof Dr. Hamim Sudarsono Ketua Komda PEI Lampung berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi media komunikasi akademik namun juga menjadi permulaan dan perkuatan kerja sama antara akademisi, bisnis dan pemerintah.

Kegiatan digelar dalam rangka menghadapi tantangan dan peluang di era revolusi industri 4.0 yang terus berubah dengan cepat sehingga peran serta semua pihak dapat memberikan sumbangsih pada masyarakat. Temu bisnis juga dapat ditandaklanjuti dengan perjanjian kerja sama atau perjanjian bisnis berupa kontrak jual beli. [rilis]