
(Unila): Bagi sebagian orang, mengenakan jaket almamater Universitas Lampung (Unila) mungkin hanyalah sebuah rutinitas awal perkuliahan. Namun, bagi Mar’atushsholihah, simbol kebanggaan itu adalah manifestasi air mata, kerja keras orang tua, dan sebuah kemenangan besar atas trauma kegagalan.
Mara, begitu ia akrab disapa di lingkungan kampus. Mahasiswa baru program studi S-1 Penyuluhan Pertanian, Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian (FP) Unila ini datang dari Kabupaten Pesawaran membawa mimpi besar yang nyaris runtuh oleh realitas hidup.
“Bagi aku, Unila dan jaket almamater yang dikenakan saat ini bukan sekadar lambang status sebagai mahasiswa, melainkan bukti nyata dari perjuangan, doa orang tua, dan kesempatan kedua yang sangat berharga,” ungkapnya.
Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Mara tumbuh dalam keterbatasan ekonomi yang nyata. Ayah dan ibunya bekerja keras memeras keringat sebagai buruh harian lepas sekaligus mengurus kebun orang lain dengan pendapatan bulanan di bawah Rp1.000.000.
Namun, saat Mara mencoba memburu beasiswa KIP-Kuliah untuk menyambung sekolah, ia justru terbentur tembok regulasi akibat sistem mendata keluarganya masuk dalam desil 6-10 yang dikategorikan mampu. Cobaan tidak berhenti di sana karena pintu masuk perguruan tinggi seolah sengaja dikunci rapat setelah ia merasakan pahitnya ditolak berturut-turut pada jalur SNBP dan SNBT.
“Jujur, butuh waktu yang cukup lama untuk bangkit dari kekecewaan. Melihat teman-teman sudah diterima di kampus impian, sementara aku masih harus berjuang mendaftar di mana-mana, mental aku benar-benar diuji,” ujarnya.
Trauma kegagalan UTBK sebelumnya sempat membuat Mara terjebak dalam pusaran overthinking dan kehilangan rasa percaya diri, terlebih karena jalur PMPAP yang ia incar juga kembali menguji mentalnya lewat tes berbasis UTBK dan wawancara di tengah ketatnya persaingan kuota. Namun, di titik terendah itu, ia memilih bangkit dan menjadikan kecemasannya sebagai bahan bakar untuk melangkah maju.
“Aku menolak untuk menyerah dan selalu menguatkan diri dengan kalimat, mungkin ada takdir dan kesempatan yang lebih baik dari apa yang kupilih kemarin,” ungkapnya.
Titik balik itu akhirnya datang melalui informasi media sosial dari kakak tingkat Forum Mahasiswa PMPAP (Forma PMPAP) Unila mengenai Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses Pendidikan (PMPAP), jalur khusus Unila bagi anak daerah kurang mampu. Perjuangan babak baru pun dimulai dengan mengurus segala berkas ke sekolah asalnya, MAN 1 Pesawaran, yang berjarak 30 menit dari rumah serta berkoordinasi dengan pengurus desa.
Saat menaruh pilihan, Mara memberanikan diri memilih jurusan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya, yaitu S-1 Penyuluhan Pertanian. Keputusan ini diambil karena FP Unila merupakan salah satu yang terbaik di Lampung, sejalan dengan cita-citanya untuk menjadi seorang konsultan atau penyuluh pertanian setelah lulus nanti.
“Sambil terus berdoa, jika ini memang rezeki saya, pasti pintu itu akan dibukakan. Yang penting saya sudah berusaha maksimal, selebihnya saya pasrahkan,” kenangnya.
Harapan dan untaian doa yang terus dipanjatkannya akhirnya terjawab nyata saat pengumuman resmi menyatakan Mara lolos melalui jalur PMPAP. Keberhasilan ini membawanya pada babak baru yang melegakan, di mana ia dibebaskan sepenuhnya dari biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta Sumbangan Pengembangan Institusi atau IPI.
“Reaksi orang tua tentu terharu dan bersyukur melihat anak mereka yang sempat berkali-kali gagal akhirnya punya kepastian untuk kuliah tanpa membebani biaya. Mereka langsung mendorong saya untuk registrasi ulang,” ujarnya.
Ketika kakinya pertama kali menginjakkan kaki di kampus dalam gelaran Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), perasaan Mara bercampur aduk antara senang, haru, dan tidak percaya.
Menjadi bagian dari keluarga besar Agribisnis Unila membuatnya langsung memasang target untuk lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude, aktif berorganisasi, serta membawa ilmunya pulang demi memajukan para petani di daerah asalnya.
Di akhir obrolan, Mara menitipkan pesan mendalam bagi seluruh anak muda yang sedang bertarung dengan keterbatasan ekonomi dan kegagalan akademik agar tidak pernah takut bermimpi.
“Kegagalan dan penolakan itu hal biasa, tapi menyerah adalah pilihan. Jurusan yang tidak kita harapkan kemarin, bisa jadi jalan kesuksesan kita di masa depan. Kita punya rencana, tapi Allah penentu takdir. Semangat!” tutupnya.
Kisah Mara menjadi sebuah refleksi berharga dari sudut kampus bahwa bangku perkuliahan harus selalu ramah bagi mimpi-mimpi anak bangsa, tanpa peduli dari mana mereka berasal.
Keteguhan hatinya dalam menembus keterbatasan ekonomi dan trauma kegagalan memberikan kesan mendalam bahwa di tangan generasi yang tidak mudah menyerah seperti Mara, masa depan pertanian dan tongkat estafet bangsa ini akan berada di tempat yang aman. [Magang_Asnia Sundari]




