(Unila): Video berdurasi 10 menit dibuat Agustina Rajendra Putri, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila), bersama ke-18 temannya yang berasal Indonesia, Pakistan, Thailand, Kenya, Amerika, Turkey, India, Malaysia, Spanyol, Perancis, Kambodia, Brazil, Filipina, Hondura, Uzbekistan, dan Vietnam.

Video yang dibagikan pada Sabtu (2/5/2020) siang itu diunggah ke beberapa fitur media sosial seperti IG TV, Facebook, dan Youtube pribadi iti dibuat sebagai bentuk keprihatinannya terhadap kasus Covid-19 yang kian hari kian meningkat di berbagai negara.

Tak hanya itu, dalam pendidikan kedokteran sosialisai pencegahan suatu penyakit sendiri masuk dalam tahapan pertama dari “5 level of prevention” yang disebut health promotion.

Berangkat dari alasan inilah ia berinisiatif bekerjasama dengan teman-temannya yang tinggal di luar negeri untuk membuat video edukasi pencegahan Covid-19 kompilasi dengan sumber yang valid dengan tujuan meluruskan mitos maupun rumor yang tidak berbasis medis untuk mencegah Covid-19.

Mahasiswi angkatan 2016 ini bersama teman-teman yang tinggal di luar negeri sering bertanya dan bertukar kabar mengenai kondisi Covid-19 di negaranya masing-masing. Saat mengobrol, ia menyempatkan diri bertanya tentang kasus Covid-19 yang masih tetap meningkat meskipun sudah diberlakukan berbagai macam aturan dari pemerintah.

Dari hasil obrolan itu Agustina pun mendapat benang merah yang menjadi inti kendala di berbagai tempat, yaitu belum terbiasanya masyarakat dengan pembaharuan kebiasaan.

“Video yang dibuat juga mengingatkan bahwa apabila masyarakat bekerjasama dengan satu tujuan melawan penyebaran Covid-19, maka kita dapat menang,” kata dia.

Selain itu, video ini menyampaikan secara khusus tentang kesehatan mental pada wabah Covid-19 oleh salah seorang pelajar bernama Rose dari Italia. “Respons teman-teman saya sangat antusias, mengingat sebelumnya saya sedikit menyinggung bahwa memang masih dibutuhkan edukasi pencegahan Covid-19 serta sesuatu yang bersifat optimisme,” katanya.

Antusiasme juga terlihat manakala ada satu teman yang berasal dari Spanyol. Saat itu ayahnya baru saja mendapatkan musibah. Namun, ia tetap membuat dan mengirimkan video pada deadline yang ditentukan.

Hal itu cukup membuat Agustina terharu dan merasa sangat dihargai karena antusiasme mereka dalam memberikan edukasi ini sangat tinggi. Dengan mengambil referensi dari World Health Organization (WHO) dan Center of Disease Control and Prevention (CDC), ia merangkum 19 poin penting yang akan disampaikan.

Setelah itu persiapan pembuatan video dilakukan dengan berdiskusi dan bertukar ide isi script video melalui grup Whatsapp. Mereka juga menentukan berapa lama durasi video yang dibuat per orang untuk mencegah video yang terlalu panjang dan berbelit-belit sehingga informasinya bisa jadi tidak tersampaikan.

Proses pembuatan video ini dilakukan dengan menggabungkan 19 video berdurasi 1 sampai 1.5 menit yang sudah dibuat oleh masing-masing orang. Kemudian video itu dikumpulkan oleh Agustina dan diedit bersama rekannya di Indonesia.

Video dimulai dari perkenalan dan asal negara, edukasi, dan diakhiri dengan satu kalimat kunci berbunyi “Saya yakin bersama-sama kita mampu melawan Covid-19 secara efektif dan mari kita mulai dengan mengambil inisiatif untuk kesehatan yang lebih baik kini dan sekarang” dengan menggunakan bahasa ibu negaranya.

Agustina mengakui beberapa kendala juga dihadapi selama proses produksi. Seperti beberapa teman yang gagal ikut karena terkendala ujian, zona waktu, dan seorang teman terkena musibah.

Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya, terlebih setelah mengetahui ada beberapa teman lain juga ingin berkontribusi jika ada keberlanjutan. Selain itu, video ini juga mendapat perhatian dari UNICEF Malaysia dan AFS-USA, serta ditonton oleh motivator internasional terkenal asal Amerika, Brandon Farbstein.

Melalui video ini, gadis yang hobi membaca itu berharap semua pihak dapat semakin sadar bahwa Covid-19 merupakan ujian bagi semua sehingga tidak boleh egois serta harus lebih meningkatkan kepedulian dan sensitivitas tentang Covid. Penyebaran Covid-19 dapat ditekan tindakan-tindakan preventif yang sederhana. Selanjutnya, semangat dan optimisme harus dimiliki oleh masyarakat.

Tidak peduli besar atau kecil tindakan yang dilakukan pasti akan bermanfaat demi kebaikan sesama. Meski kendala atau hambatan muncul, ia optimistis Tuhan pasti akan membantu selama niat tersebut baik.

“Melalu video ini juga kami menyampaikan bagaimana menghindari stigmatisasi bagi penderita, survivor Covid-19 berserta para frontliner. Mereka perlu diperlakukan sama seperti manusia lainnya. Kita semua adalah warga dunia, dan mari kita bahu membahu dalam ujian ini,” imbuhnya. [Humas/Angel]