Oleh Sudjarwo                                        Profesor Sosial di FKIP Unila

HIPOTESIS yang diajukan selama ini bahwa dampak adanya Covid-19 terhadap semua elemen kehidupan tidak terbantahkan, salah satu di antaranya pada kehidupan kejurnalistikan. Gempuran itu membuat pengelola harus putar otak agar medianya tetap hidup, tidak terkecuali Lampung Post.

Harian tertua di Lampung ini harus menyelamatkan diri dari pukulan telak korona. Pimpinan harus memiliki strategi jitu agar para wadyabala tidak harus dirumahkan apalagi di-PHK. Sementara pembaca menurun drastis karena tidak bisa mengakses seperti saat ekonomi tidak terkena guncangan.

Idealisme tetap harus dijaga sebagai muruah kejurnalistikan, sementara pertimbangan ekonomi harus dikedepankan. Pilihan sulit ini harus dihadapi semua media. Sebab itu, pembaca harap maklum jika jumlah halaman harus dikurangi dan kualitas kertas harus diturunkan.

Terkadang, harus berpikir masak untuk menaikkan berita. Jika dampaknya terhadap keberlangsungan hidup, redaksional harus dibuat sedemikian rupa atau pertimbangan lain harus dikedepankan. Namun, harus diakui bahwa mereka yang kreatif dan inovatiflah yang dapat bertahan dalam gempuran ini. Tampaknya, sekalipun lambat tapi pasti, Lampost dapat mengatasi problema besar ini.

Khusus tulisan ini, penulis ingin menyoroti bahwa meringkas opini menjadi mini adalah pekerjaan yang tidak mudah. Tugas redaktur menjadi terbebani, karena menyingkat tidak sama dengan memotong naskah. Menyingkat naskah tetap memegang teguh roh yang ingin disampaikan penulisnya, hanya pilihan diksi menjadi pertimbangan utama, sementara memotong naskah tidak perlu peduli dengan roh dari tulisan.

Tidak kalah sulitnya lagi bagi penulis, karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk meringkas pemikiran, memilih diksi, kemudian menyajikan dalam bentuk kalimat pendek. Pengalaman membimbing mahasiswa Pascasarjana baik itu Program Magister maupun Program Doktor, banyak di antara mereka mengalami kesulitan menulis abstrak hasil penelitian.

Meringkas informasi ilmiah menjadi padat ternyata bukan pekerjaan mudah. Hal itu sama juga saat penulis yang memiliki kebebasan berpikir, bahkan cenderung liar, harus masuk pada pakem memilih kata yang mewakili sejumlah hal untuk disampaikan kepada pihak lain dengan sesingkat mungkin, tanpa kehilangan esensi.

Tampaknya, kolom opini di Lampung Post menciptakan tantangan baru bagi para kontributornya. Selama ini dituntut untuk menguraikan pemikiran saja dengan sedikit longgar dalam jumlah kata. Akibat korona, kontributor tulisan sekarang dituntut untuk mengurai pemikirannya dalam bahasa tulis yang lebih cerdas, yaitu singkat, tepat, padat, dan memenuhi sasaran. Jika itu tidak dipenuhi oleh naskah yang dikirimkan, jangan kecewa jika para algojo editor akan menggunakan kewenangannya untuk mencukur tulisan atau malah mengotakkan.

Tidaklah salah jika salah satu novel menarik dari terbitan Balai Pustaka yang berjudul Sengsara Membawa Nikmat karya dari Tulis St Sati. Karya yang pertama kali diterbitkan pada 1929 itu menggambarkan bahwa tidak semua kesengsaraan berbuah pahit. Demikian pula dengan diringkasnya opini menjadi mini, akan membelajarkan para penulis untuk memeras pemikiran memilih kata yang dirangkai jadi kalimat singkat padat tapi penuh makna.

Persoalannya sekarang, langkah apa yang harus dilakukan penulis untuk mencoba masuk ke gelanggang penulisan opini yang menjadi mini. Pertama, pahami betul persoalan yang akan dijadikan sentral kajian, terutama ada-tidaknya nilai jurnalismenya. Bisa jadi persoalan itu adalah persoalan Anda atau sebagian dari anda, jadi bukan persoalan pada umumnya.

Kedua, pilihlah kata yang akan dijadikan kalimat. Usahakan yang bermakna tunggal, sehingga pembaca tidak mengalami gagal paham. Ketiga, dalam menulis akhir opini harus selesai dengan satu atau dua kalimat saja, jadi lebih ringkas dari kesimpulan.

Melihat ketiga hal tadi, tampak sekali kita dituntut harus cerdas dalam mengalirkan pemikiran dari domain kognisi, afeksi, dan konasi kita ke dalam bentuk tulisan. Ketiga panutan baku ini merupakan pakem yang harus dipegang teguh penulis opini di era korona ini.

Tampaknya, hikmah dari suatu peristiwa itu selalu terjadi, manakala kita mencermatinya dengan jernih, tanpa muatan emosi negatif. Korona yang menghantam ruang opini membuat penulisnya harus alih pola pikir secara cerdas, yaitu menata ulang kembali paradigma berfikir sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Sekat-sekat aliran berpikir yang memerlukan deskripsi lebih luas pada tataran sekarang hal itu diselesaikan di ruang kelas pembelajaran. Sementara di ruang publik yang diperlukan adalah tulisan yang cerdas dan mencerahkan, bahkan singkat tegas dan padat, yang utama dapat dipahami.

Hal ini juga menjadi bahan evaluasi bagi Lampung Post jika nanti akan mengadakan pelatihan penulisan opini. Model penulisan singkat juga diberikan kepada peserta jika menghadapi kondisi seperti ini.

Kepada para kontributor tulisan, kita hanya punya harapan kepada Lampost agar pada kondisi apa pun untuk tetap menyisakan halaman buat opini. Sebab, satu-satunya media masa cetak di Lampung hanya Lampost yang masih setia membuat kanal opini untuk menyalurkan ide buat konsumsi pembacanya. Sementara media cetak lainnya sudah lama menutup ini, dengan alasan klasik yang hampir sama, yaitu “ekonomi”.

Mari kita semua berdoa semoga pagebluk massal ini segera berlalu, sehingga keadaan pulih seperti sedia kala. Jalan menuju masa depan masih panjang. Semoga Lampost masih tetap setia menyediakan “kendaraan” guna menuju ke sana, dengan tetap menyediakan ruang opini bagi setiap generasi.***

[Artikel kolom pakar ini hasil kerja sama antara Universitas Lampung dan Lampung Post]