Mahasiswa Lintas Disiplin Refleksikan Sistem Pangan Lokal dalam Sustainable Awareness Day #2

0
39

(Unila): Tim Harvest Universitas Lampung (Unila) melalui rangkaian kegiatan Sustainable Awareness Day (SAD) #2 Tahun 2026 menyelenggarakan kegiatan lokakarya sistem pangan lokal pada 9–10 Mei 2026 di Desa Bumijaya dan Desa Way Gelam, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan.

Kegiatan ini melibatkan mahasiswa lintas jurusan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Pertania, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan serta dua mahasiswa magang dari fakultas teknik ENTPE Lyon, Prancis.

Kegiatan lokakarya dirancang untuk memfasilitasi siswa belajar tentang pertanian dan pangan bersama dosen, praktisi, dan petani di lahan dan desa. Dalam kesempatan ini peserta belajar di tiga konteks ekosistem berbeda, yakni pekarangan sayur organik, sawah “konvensional”, dan kebun pertanian alami.

Berbeda dari kegiatan lapangan pada umumnya, lokakarya ini dirancang sebagai ruang belajar imersif, di mana proses belajar difasilitasi oleh dosen dan praktisi (petani), baik ketika di lahan maupun sesi diskusi dan refleksi.

Lokakarya ini mengedepankan bahwa prinsip ekologi yang melandasi keberlanjutan lingkungan adalah kunci untuk mengembangkan sistem pertanian dan pangan yang berkelanjutan.

Wilayah yang dikunjungi merupakan kawasan dataran rendah dengan lanskap sawah yang dominan, serta komunitas masyarakat transmigran spontan yang mayoritas berasal dari pulau Jawa, bersuku-bangsa Jawa dan Sunda.

Selama lokakarya, peserta dan panitia tinggal di rumah warga, berbagi ruang hidup selama dua hari satu malam. Sebuah pengalaman yang mempertemukan siswa dengan keseharian di desa.

Interaksi sehari-hari, mulai dari pembagian ruang tidur, penggunaan fasilitas bersama, hingga masak dan makan bersama, menjadi bagian dari proses belajar sosial yang memperkaya pemahaman peserta terhadap kehidupan komunitas petani.

“Ini menjadi kegiatan yang penting bagi para mahasiswa untuk menjembatani antara teori dan praktik lapangan langsung di dalam komunitas petani,” ungkap Fuad Abdulgani, Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sekaligus koordinator kegiatan lokakarya.

Kegiatan hari pertama difokuskan pada praktik “dari kebun ke meja makan”. Peserta diajak mengenal ekosistem pekarangan sayur organik yang dikelola oleh Kelompok Lumbung Kasih.

Dalam sesi ini, peserta tidak hanya mempelajari teknik dasar pertanian organik, tetapi juga memahami bagaimana pekarangan rumah menjadi ruang produksi pangan sekaligus ruang sosial bagi perempuan.

Dalam diskusi bersama fasilitator dan petani, terungkap bahwa ekosistem pekarangan tidak hanya berfungsi sebagai sumber pangan rumah tangga, tetapi juga sebagai strategi ekonomi kolektif. Perempuan memainkan peran sentral dalam menjaga keberlanjutan praktik pertanian pekarangan sekaligus memperkuat kohesi sosial kelompok.

Peserta kemudian terlibat langsung dalam proses panen dan memasak bersama perempuan petani. Aktivitas ini memunculkan refleksi bahwa sistem pangan bukan sekadar rantai produksi, tetapi juga praktik budaya dan relasi sosial yang hidup.

Ekosistem dipahami bukan sekadar kumpulan tanaman, melainkan sebuah sistem kehidupan yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi dalam satu siklus yang berkelanjutan di lingkungan tertentu.

Fasilitator, Sevagus Waskita Cahya, Direktur Wonder Farm Natural, menjelaskan bahwa dalam konteks pertanian, ekosistem tersebut berkembang menjadi agroekosistem, yaitu sistem yang melibatkan campur tangan manusia untuk menghasilkan pangan.

Dalam agroekosistem ini, manusia, dalam hal ini petani, tidak berdiri di luar sistem, melainkan menjadi bagian dari komponen biotik yang aktif mengelola dan memengaruhi keseimbangan ekosistem.

Peserta diajak mengidentifikasi peran berbagai unsur biotik dan abiotik dalam agroekosistem. Tumbuhan sebagai produsen menjadi sumber awal kehidupan dengan menghasilkan bahan pangan.

Selanjutnya, manusia dan hewan berperan sebagai konsumen, sementara organisme seperti cacing dan mikroorganisme bertindak sebagai dekomposer yang mengurai bahan organik dan mengembalikan unsur hara ke dalam tanah.

Diskusi kemudian berkembang pada peran manusia yang tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai pengelola utama agroekosistem. Dalam praktik di Desa Bumijaya, peran ini dijalankan dalam berbagai level.

Pada tingkat individu, petani terlibat langsung dalam proses menanam, merawat, hingga memanen tanaman. Di tingkat rumah tangga, pertanian pekarangan menjadi sumber penghidupan sekaligus ruang kerja bersama yang melibatkan pembagian peran antaranggota keluarga.

Sementara itu, pada tingkat yang lebih luas, terdapat pranata sosial atau kelembagaan kelompok tani yang mengatur praktik pertanian, termasuk penerapan prinsip-prinsip pertanian organik.

Salah satu peserta mencatat bahwa pendekatan ini memperlihatkan bagaimana pertanian bukan sekadar aktivitas produksi, tetapi juga sistem sosial yang terorganisir. Aturan-aturan kelompok, seperti standar budidaya organik, menjadi bentuk kesepakatan bersama yang menjaga kualitas hasil sekaligus keberlanjutan lingkungan.

Melalui pengalaman ini, peserta mulai memahami ekosistem pertanian tidak bisa dipisahkan dari relasi manusia, alam, dan struktur sosial yang membingkainya. Pekarangan yang tampak sederhana ternyata menyimpan kompleksitas sistem kehidupan yang saling terhubung dari tanah, tanaman, hingga manusia yang mengelolanya.

Melalui sesi eksplorasi lanskap sawah di Desa Bumijaya sesi terakhir hari pertama dan kunjungan ke kebun Wonder Farm Natural di Desa Way Gelam di hari kedua, peserta diajak memahami pertanian sebagai bagian dari sistem ekologi yang lebih luas.

Proses belajar ekosistem sawah difasilitasi oleh Rizky Rahmadi, dosen Teknologi Produksi Tanaman Pangan dari Politeknik Negeri Lampung dan Abah Soma petani Bumijaya. Para siswa mengamati lanskap sawah monokultur dengan budidaya “konvensional” warisan Revolusi Hijau di mana penggunaan pupuk, pestisida, dan herbisida agrokimia sintetik sangat intensif.

Abah Soma bercerita tentang tantangan budidaya yang mencakup masifnya hama, penggunaan air dari sumur bor, bagaimana petani merespon akan datangnya El Nino. Rizky mengutarakan dalam lanskap sawah, upaya menuju praktik berkelanjutan yang sesuai dengan prinsip ekologi mensyaratkan organisasi sosial diantara petani yang padu, kompak, dengan visi yang sama.

Di kebun pertanian alami Wonder Farm Natural, desa Way Gelam, peserta melihat praktik pertanian alami yang melingkupi ragam ekosistem secara terintegrasi, meliputi sawah, kolam, dan kebun sayur.

Diskusi bersama fasilitator, Frans Cahya, yang memprakarsai Wonder Farm Natural, menggarisbawahi perbedaan organik dan organis yang terangkum dalam motto “organis adalah perilaku (manusia), organik adalah produknya”, kemudian pentingnya konsistensi dalam berpraktik, peran kunci pengetahuan, serta tantangan dalam menjaga keseimbangan antara prinsip ekologis dan kebutuhan ekonomi.

Beberapa poin refleksi yang mengemuka antara lain sistem pangan lokal memiliki potensi besar, namun seringkali terpinggirkan oleh sistem pangan industri. Kemudian, pengetahuan lokal dan pengalaman petani merupakan sumber pembelajaran yang penting, namun belum sepenuhnya terintegrasi dengan pengetahuan berbasis sains dan menjadi pengetahuan bersama.

Diperlukan jembatan antara praktik lokal, sains dan kebijakan publik agar inisiatif-inisiatif komunitas dapat berkembang secara berkelanjutan. Dalam diskusi tersebut juga menekankan pentingnya melihat pangan tidak hanya sebagai komoditas, tetapi sebagai bagian dari sistem sosial-ekologis yang kompleks.

Salah satu refleksi penting lainnya yang muncul adalah perlunya pendekatan multidisiplin dalam memahami sistem pangan. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa isu pertanian tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang keilmuan.

Mahasiswa dari berbagai jurusan (sosiologi, administrasi negara, hubungan internasional, agronomi, pendidikan Pancasila, dan teknik sipil) menyadari pentingnya keluar dari “zona nyaman” disiplin masing-masing untuk melihat keterkaitan antara aspek ekologis, sosial, ekonomi, hingga kelembagaan dalam satu kesatuan sistem.

Seluruh rangkaian field trip dan lokakarya ini menjadi dasar bagi peserta untuk menyusun refleksi dan presentasi yang akan dibahas lebih lanjut dalam forum diskusi dan Focus Group Discussion (FGD) pada 13 Mei 2026 di FISIP Unila.

Kegiatan ini manifestasi komitmen Unila dalam mendukung Kinerja Utama (KU) 7, yaitu meningkatkan persentase keterlibatan aktif universitas dalam pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan global. Melalui inisiatif ini, Unila mengintegrasikan lima pilar SDGs sebagai fondasi kegiatan.

Melalui fokus pada SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), kegiatan ini mempromosikan pertanian regeneratif sebagai solusi sistemik. Pertanian regeneratif tidak hanya bertujuan untuk memproduksi pangan, tetapi juga memulihkan kesehatan tanah.

Inisiatif ini juga menjadi wadah bagi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Melalui metodologi experiential learning, mahasiswa tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi terjun langsung ke lapangan melalui Lokakarya di tingkat tapak.

Aspek pemberdayaan dalam kegiatan ini berkontribusi langsung pada SDG 1 (Tanpa Kemiskinan). Dengan memperkenalkan teknik pertanian yang efisien biaya dan ramah lingkungan, petani lokal didorong untuk memiliki kemandirian ekonomi.

Seluruh rangkaian kegiatan ini dibingkai dalam semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Struktur kegiatan yang menghubungkan mahasiswa, petani, akademisi, dan pemangku kebijakan menciptakan ekosistem kolaboratif yang inklusif.

Sustainable Awareness Day#2 menjadi upaya untuk menjembatani dunia akademik, praktik komunitas, dan ruang kebijakan dalam membangun sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan. [Rilis]

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here

27 − = 25