Mahasiswa Asing Belajar Penanganan Gempa Liwa

(Unila): Sejumlah mahasiswa asal Jepang, Filipina, dan Malaysia bersama mahasiswa Universitas Lampung mempelajari manajemen penanganan bencana gempa Liwa, di Liwa, Lampung Barat, Kamis (8/2/2018). Mereka menganalisis gempa yang terjadi di Liwa pada 1994.

Para mahasiswa pada kegiatan tersebut didampingi dosen masing-masing. Beberapa mahasiswa dari Universitas Lampung didampingi Wakil Rektor I Bidang Akademik Profesor Bujang Rahman, Kepala UPT Pengembangan Kerja sama dan Layanan Internasional Profesor Cipta Ginting, dan Guru Besar Ilmu Geologi Unila Profesor Suharno.

Sementara 16 mahasiswa asal Jepang didampingi dosen Yasuo Kawawaki dan Masahiko Murata. Di samping dari Jepang dan Unila, ada dua mahasiswa asal Malaysia dan satu dari Filipina.

Kedatangan mahasiswa tersebut disambut Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin di aula GSG RSU Alimuddin Umar Liwa. Asisten I Sekkab Lampung Barat, Adi Utama, mengemukakan mengenai terjadinya bencana gempa bumi di Liwa termasuk penanganannya. Pemaparan tersebut juga diterjemahkan dalam dua bahasa, bahasa Inggris dan Jepang.

Berdasarkan keterangan Adi, gempa yang terjadi pada 16 Februari 1994 merenggut 207 korban dan merusak banyak bangunan. Saat kejadian, Pemkab langsung melakukan evakuasi terhadap korban dan pemberian bantuan. Korban kemudian dikumpulkan dan dimandikan di Hamtebiu kemudian dimakamkan secara massal dalam dua lubang.

Pascabencana Pemkab Lampung Barat pun memperbaiki dan mendirikan bangunan, khususnya sarana umum. Semenjak kejadian itu, setiap pelaksanaan pembangunan harus mengikuti konstruksi gempa atau antigempa.

Selain mendengarkan pemaparan, mahasiswa diajak ke area permakaman massal 207 korban gempa Liwa yang terletak di sekitar RSUD Liwa. Di permakaman, mereka pun mewawancarai sebanyaktokoh masyarakat yang menjadi saksi mata gempa ketika itu.

Setelah itu mahasiswa pun mengunjungi Hamtebiu, tempat korban dimandikan sebelum dimakamkan secara massal.[Unila di Media/Inay_Humas]