(Unila): Fakultas Pertanian (FP) Universitas Lampung (Unila) berkolaborasi dengan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Provinsi Lampung menyelenggarakan seminar online akuakultur kobia, Kamis (25/6/2020).

Seminar yang berlangsung secara daring via aplikasi Zoom dan streaming Youtube ini mengusung tema “King Kobia Harta Terpendam Akuakultur Indonesia: Teknik Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran”.

Seminar diikuti 1.500-an peserta dan menghadirkan Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto sebagai pembicara kunci. Selain itu turut hadir narasumber lainnya yaitu Farok Afero (National Taiwan Ocean University), Suryadi Saputra (BBPBL Lampung), Rika Puspita (Sillyfish Indonesia), dan Munti Sarida (Jurusan Perikanan dan Kelautan FP Unila).

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja sama dan TIK Unila Prof. Suharso saat menyampaikan sambutan mengatakan, Provinsi Lampung memiliki sumber daya ikan yang luar biasa besar, salah satunya King Kobia

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Provinsi Lampung, budidaya kobia berhasil dilakukan secara mandiri oleh BBPBL Lampung.

Tidak hanya satu jenis, lebih lanjut Suharso mengutarakan bahwa Lampung berhasil membudidayakan ikan kerapu, kakap, bawal bintang, ikan badut, rumput laut, dan kuda laut melalui teknologi budidaya.

“Pada seminar lobster yang lalu, bapak menteri KKP juga mengungkapkan bahwa Provinsi Lampung dapat menjadi centre of fisheries industry karena didukung potensi alam dan SDM berkompeten,” ujar Guru Besar Kimia Anorganik itu.

Ia pun berharap, SDM yang dihasilkan Unila dapat mendukung upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mewujudkan Provinsi Lampung sebagai pusat industri perikanan.

Di kesempatan yang sama, Menteri Perikanan dan Kelautan Dr. Edy Prabowo secara daring menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, ini adalah sinergi positif antara pemerintah dan akademisi walau pun di masa pandemi.

Meski berlangsung secara online Edy menilai kegiatan ini berpotensi menumbuhkan sektor budidaya perikanan di Indonesia karena apa yang dilakukan merupakan komunikasi dua arah antara nelayan dan pemerintah.

Ia pun meyakini, dengan bertambahnya lapangan pekerjaan akan semakin menyejahterakan masyarakat. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar. Sebagai contoh, nilai ekonomi yang besar pada ikan kerapu dan kakap, namun kini budidayanya masih sangat terbatas.

Oleh karena itu mantan anggota DPR RI 2014–2019 ini berharap, bersama dengan KKP, Indonesia dapat berinovasi mengembangkan spesies baru budidaya perikanan di masa depan.

Edy juga menambahkan, pengembangan spesies King Kobia tidak terlepas dari peningkatan teknik budidaya, distribusi, pemasaran, serta manajemen usaha. KKP melalui seminar ini siap membantu para pelaku usaha dan Universitas Lampung untuk mengembangkan program budidaya melalui pinjaman bantuan.

“Saya yakin ini akan menjadi budidaya unggul. Perkembangan sejumlah industri pengolahan akan tumbuh seiring dengan keberhasilan budidaya,” ungkapnya. [Humas/Riky]