(Unila): Pembelajaran kewirausahaan di perguruan tinggi masih menghadapi tantangan dalam menjembatani penguasaan teori dengan kebutuhan praktik di dunia usaha dan industri. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga mampu membangun keterampilan berwirausaha melalui pengalaman nyata dan kolaborasi lintas sektor.

Berangkat dari persoalan tersebut, dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), Widya Hestiningtyas, mengembangkan Model Pentahelix Edupreneurshipsebagai inovasi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berwirausaha mahasiswa.

Gagasan tersebut menjadi fokus disertasinya yang dipresentasikan dalam ujian promosi doktor di FKIP Unila. Menurut Widya, pembelajaran kewirausahaan selama ini masih didominasi penyampaian teori, sementara dunia usaha membutuhkan lulusan yang memiliki pengalaman, kemampuan berinovasi, serta kecakapan membangun jejaring.

“Pembelajaran kewirausahaan harus mampu menghadirkan pengalaman autentik yang membuat mahasiswa belajar dari praktik, kolaborasi, dan interaksi dengan berbagai pemangku kepentingan seperti akademisi, pemerintah, bisnis, masyarakat, dan media. Keterampilan berwirausaha tidak cukup dipahami, tetapi harus dialami,” ujarnya.

Melalui penelitian tersebut, Widya mengembangkan model pembelajaran yang mengintegrasikan unsur perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media ke dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Penelitian ini menghadirkan tiga kebaruan utama, yakni mengintegrasikan Social Constructivism, Connectivism, dan Experiential Learning Theory sebagai landasan pembelajaran, merekonseptualisasi pendekatan pentahelix dari ekosistem bisnis menjadi ekosistem pembelajaran kewirausahaan, serta menghasilkan Model Pentahelix Edupreneurship yang dirancang secara sistematis untuk diterapkan di perguruan tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tersebut efektif meningkatkan keterampilan berwirausaha mahasiswa. Selain dinilai layak secara konseptual, struktural, dan operasional oleh para ahli, penerapannya juga menghasilkan capaian belajar yang lebih baik dibandingkan pembelajaran konvensional.

Widya berharap Model Pentahelix Edupreneurship yang dikembangkannya dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi dalam merancang pembelajaran kewirausahaan yang lebih efektif, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Jika diimplementasikan secara luas, model ini berpotensi memperkuat ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi sekaligus mendukung lahirnya generasi muda yang inovatif dan mandiri.

Ia juga merekomendasikan agar model tersebut diimplementasikan secara lebih luas melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media, sehingga mampu memperkuat ekosistem pembelajaran kewirausahaan sekaligus mendorong lahirnya lulusan yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing.

Pengembangan model tersebut menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran di perguruan tinggi terus bergerak mengikuti dinamika kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha. Pendekatan yang menghubungkan kampus dengan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkaya pengalaman belajar mahasiswa sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing. [Rilis]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

32 − 23 =