(Unila): Dinda Annisa Fitri, mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lampung (Unila) menjadi satu di antara 15.000 mahasiswa “Relawan Kemanusiaan Melawan Covid-19” yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Indonesia.

Menjadi relawan mahasiswa untuk pencegahan penyebaran Covid-19 bukanlah hal mudah. Namun, minimnya pemahaman masyarakat tentang gejala dan risiko pandemi Covid-19 membuat mahasiswi FK angkatan 2016 ini merasa terpanggil untuk bergabung sebagai Relawan Covid-19 Nasional (Recon).

“Saya merasa masyarakat membutuhkan sosok yang mendampingi secara spesifik. Sebagai salah satu mahasiswa profesi dokter, saya ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah saya dapatkan melalui Recon ini,” jelas mantan Pengajar Pendidik Muda Unila tahun 2019 ini saat diwawancarai tim website, Senin (4/5/2020).

Usai mendaftarkan diri sebagai salah satu Relawan Covid-19 Nasional yang dibuka Kemdikbud Maret lalu, Dinda, demikian ia akrab disapa, terlibat pada Program Tele KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi).

Tele KIE merupakan bagian program aplikasi daring Recon yang diluncurkan Kemdikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berupa pendampingan secara daring kepada masyarakat dalam hal pencegahan dan penanganan Covid-19 oleh para relawan mahasiswa kesehatan.

Salah satu tugas peraih Juara 2 Lomba Artikel Unilatizen Tahun 2020 ini ialah memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat lingkungan sekitar tentang bahaya virus corona dan cara pencegahannya.

Pendampingan berupa komunikasi, infomasi, dan edukasi yang dilakukan secara rutin sesuai kondisi pelapor setiap harinya. Program-program yang dijalankan Recon Universitas Lampung dikoordinatori oleh Dr. dr. Betta Kurniawan, M.Kes., dan Case Manager Dr. dr. Khairunnisa, M.Kes., AIFO.

Mahasiswi yang pernah didapuk sebagai Semifinalis Unimed Cabang Muskuloskeletal Tahun 2019 ini mengungkapkan, ia bersama 28 relawan lain sudah dibekali pelatihan tiga hari yang difasilitasi Kemdikbud, WHO Indonesia, Kementerian Kesehatan RI, serta PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia).

Di bawah supervisi case manager tiap wilayah, relawan juga melakukan pendampingan secara secara daring melalui grup pada aplikasi Telegram baru melaksanakan tugas sebagai relawan. Tugas ini seluruhnya dilaksanakan full secara online melalui website relawan.kemdikbud.go.id dan platform lain seperti Whatsapp dan jaringan selular.

Website relawan.kemdikbud.go.id diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan pendampingan. Secara teknis masyarakat melakukan skrining mandiri dengan mengikuti panduan dalam website, kemudian sistem akan meneruskan informasi tersebut ke relawan sesuai domisili masyarakat yang sudah melakukan skrining.

“Misalnya Tn. A dari Lampung mengisi website Recon, maka nanti yang bersangkutan oleh sistem akan dihubungkan ke relawan yang ada di Lampung. Kemudian relawan tersebut akan menghubungi masyarakat untuk verifikasi dan pendampingan. Aplikasi daring Recon ini akan terus beroperasi sampai masa pandemi berakhir,” jelas mantan Pengurus Harian Wilayah terbaik III ISMKI Wilayah I Tahun 2017/2018 ini.

Berbeda dengan Fattur Rachman. Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Unila yang tergabung sebagai Recon kategori nonkesehatan ini secara sukarela berpartisipasi sebagai relawan Covid-19 untuk mengubah pola pikir masyarakat terkait isu-isu yang berkembang seputar wabah corona.

Pemberitaan negatif dan hoax terkait Covid-19 yang tersebar di media sosial menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dengan informasi seputar kasus positif, PDP, OTG, maupun ODP yang kian meningkat.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah Unila angkatan 2017 ini bertutur, masyarakat akibat pemberitaan yang tidak seimbang mengakibatkan masyarakat menjadi panik bahkan menganggap Covid-19 sebagai sebuah aib. “Di beberapa daerah terjadi penolakan jenazah pasien corona oleh warga dan keluarganya diikucilkan,” pungkas warga Negara Ratu, Natar, Lampung Selatan ini.

Melalui Recon Nonkesehatan, Mendikbud menjalankan program bernama Balai Edukasi Corona (Balai Erona). Projek Balai Erona bertujuan memberi edukasi berupa video dalam 33 bahasa daerah yang akan laksanakan oleh tiga tim. Yaitu tim videoanimator, audio actor, serta tim promotor-evaluator yang menjadi garda terdepan promosi kesehatan dan evaluasi.

Fattur yang berperan sebagai bagian tim promotor-evaluator selalu berkoordinasi dengan tim setelah video yang menjadi target proyek terbentuk. Hasil pembuatan video kemudian akan dievaluasi dengan memperhatikan poin-poin penilaian terkait hasil kerja tersebut. “Salah satu yang dinilai, apakah video edukasi tepat sasaran di daerah yang dituju,” ungkap peraih penghargaan Peserta Terbaik “Workshop Safety Management” Unila 2019 ini.

Baik Fattur maupun Dinda sama-sama merasakan banyak mendapat pengalaman berharga selama bergabung sebagai Recon. Dukungan dari orang-orang terdekat serta institusi  juga meningkatkan semangat mereka sebagai relawan. Mereka berharap, masyarakat dapat mengambil sisi positif dari setiap peristiwa yang terjadi selama pandemi dan mengambil pelajaran penting di masa mendatang.

“Menjadi Recon adalah kesempatan untuk bisa berkontribusi dalam penanganan Covid-19 di Indonesia ini. Mahasiswa harus aktif berperan untuk membantu masyarakat dan menjembatani program pemerintah agar dapat berjalan dengan baik,” tutupnya. [Humas/Angel]