Daerah Perlu Kreatif Menghadapi MEA

SEKRETARIS Direktorat Jenderal (Dirjen) Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Ashariyadi meminta Pemerintah Provinsi Lampung lebih kreatif dan inovatif untuk mengemas potensi daerahnya dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Kreativitas tersebut dapat dilakukan pada sektor jasa maupun industri agar mampu bersaing dikenal masyarakat luas dan dapat menembus pasar ASEAN.

“Pemerintahnya harus kreatif. Saya contohkan ada kawah vulkanik bluefire di Dataran Tinggi Dieng. Itu dikemas baik hingga dikenal sampai mancanegara. Di Lampung bisa saja TNWK dan TNBBS dikemas lebih baik lagi,” ujar Ashariyadi usai memberikan materi dalam seminar bertajuk Mewujudkan Masyarakat ASEAN 2025 dengan Penguatan Potensi Daerah, di Gedung D FISIP Unila, beberapa waktu lalu.

Ashariyadi mengungkapkan, kualitas semberdaya manusia maupun IPM Indonesia masih di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Akan tetapi dengan program Presiden RI yang mengubah grand desain pendidikan, yakni mengedepankan pendidikan vokasi, sarjana siap bekerja, dan mampu bersaing di MEA, diharapkan secara bertahap dapat meningkatkan daya saing SDM Indonesia.

“Kami juga melibatkan Bapenas agar grand desain pembangunan bersinergi dengan MEA. Terutama SDM yang disiapkan melalui pendidikan. Kami harap hal ini juga terjadi di Lampung,” ujarnya.

Sementara itu Dosen Hubungan Internasional Gita Paramita Djausal yang juga menjadi pemateri seminar mengatakan hal yang perlu diutamakan untuk penguatan potensi daerah menuju era masyarakat ASEAN 2025 adalah terbentuknya tata kelola pemerintahan yang baik atau good government yang dimulai dari kabupaten/kota provinsi hingga nasional.

Good government tersebut membuat investor baik lokal maupun luar mau menanamkan modalnya di Lampung sehingga sektor industri perkebunan, jasa pariwisata, bisa lebih baik, maju, dan tercipta lapangan pekerjaan yang semain luas. “Kendalanya ketika mengurus izin, kondisi daerah kurang nyaman, apa-apa dipersulit sehingga investor sulit masuk,” ujar Gita.

Begitu juga dengan sektor pariwisata, pengemasan yang harus diperbaiki dipadukan dengan kualitas SDM yang mumpuni. Pemanfaatan potensi daerah tersebut menurutnya menjadi pekerjaan utama di setiap daerah. “Seperti TNWK dan TNBBS seharusnya dapat dimaksimalkan potensinya karena sudah jadi wolrd heritage,” ujar Sekretaris Pusat Studi ASEAN (PSA) FISIP Unila ini.[LampungPost_Inay/Humas]