(Unila): Jarak yang jauh tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti Seleksi Mandiri Masuk Universitas Lampung (Simanila) tahun 2026. Salah satunya ditunjukkan Gischa Salsabila Adisti, peserta asal Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, menempuh perjalanan panjang demi mengikuti Tes Simanila yang dilaksanakan pada Rabu, 8 Juli 2026, di UPA TIK Unila.

Perjalanan menuju kampus menjadi bagian dari perjuangan Gischa untuk meraih cita-citanya melanjutkan pendidikan di Unila. Sehari sebelum pelaksanaan tes, Gischa bersama ayah dan ibunya berangkat dari Rawajitu Timur dan memilih menginap di Talang Padang agar dapat melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung pada dini hari. Mereka berangkat sejak waktu subuh agar dapat tiba tepat waktu di lokasi ujian.

Bagi Gischa, Simanila merupakan kesempatan terakhir untuk menjadi mahasiswa Unila pada tahun ini. Sebelumnya, ia telah mengikuti jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), namun belum berhasil lolos. Tidak menyerah, Gischa kembali mempersiapkan diri dan memilih mengikuti Simanila sebagai peluang terakhir untuk mewujudkan impiannya berkuliah di Unila.

Sang Ibu mengatakan bahwa anaknya memilih Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama dan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sebagai pilihan kedua. “Dari awal SNBP kemudian SNBT, pilihannya tidak berubah. Dia tetap memilih Bahasa Inggris dan PGSD Unila,” ujar sang Ibu.

Ketertarikannya pada bahasa Inggris telah tumbuh sejak usia dini. Minat tersebut terus berkembang hingga masa sekolah, bahkan ketika duduk di bangku SMA ia dipercaya menjadi Ukhty English, sebuah peran yang menunjukkan keaktifannya dalam kegiatan berbahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Kesungguhan Gischa tidak hanya terlihat dari perjalanan yang ditempuh, tetapi juga dari persiapannya menghadapi ujian. Ia telah mempersiapkan diri sejak jauh hari dengan mempelajari materi tes dan berlatih secara mandiri agar dapat memberikan hasil terbaik pada Simanila tahun ini.

Di balik perjuangan Gischa, terdapat doa dan dukungan penuh dari sang Ibu, Waida, yang mengantarkan putrinya mengikuti ujian dengan perasaan haru, cemas, sekaligus penuh harapan. Waida mengatakan, Simanila menjadi kesempatan terakhir bagi putrinya untuk meraih cita-cita berkuliah di Unila pada tahun ini. Waida mengaku dulu belum berkesempatan mengenyam pendidikan di Unila sehingga berharap sang anak dapat mewujudkan impian yang belum sempat ia raih.

Ibu dari dua putri ini berharap seluruh usaha, doa, dan perjuangan yang telah ditempuh putrinya membuahkan hasil terbaik. Baginya, keberhasilan Gischa lolos Simanila bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi langkah awal untuk menggapai cita-cita dan masa depan yang lebih cerah melalui pendidikan di Unila.

Kisah Gischa menjadi gambaran bahwa jarak bukanlah penghalang untuk mengejar pendidikan. Dengan tekad, persiapan yang matang, serta dukungan keluarga, perjalanan panjang dari Rawajitu Timur menuju Unila menjadi simbol semangat pantang menyerah dalam meraih mimpi. [Magang_Izma Nur Afni/Melati Sekar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

− 8 = 1