(Unila): Buku ”Disrupsi Pemerintahan dan Politik Era 4.0” yang ditulis Dr. Ari Darmastuti dkk dan dieditori Syafarudin bersama Maulana Mukhlis telah diterbitkan Pusaka Media bekerjasama dengan Labpolotda JIP FISIP Universitas Lampung (Unila).

Syafarudin selaku kepala editor mengatakan, buku tersebut ditulis oleh sepuluh akademisi FISIP Unila yakni Ari Darmastuti, Arizka Warganegara, Andy Corry, Budi Kurniawan, Dedy Hermawan, Maulana Mukhlis, Robi Cahyadi Kurniawan, Simon S. Hutagalung, Syamsul Maarif, dan Syafarudin.

Buku tersebut sudah diluncurkan dan didiskusikan secara online pada 22 April 2020 ini dengan menghadirkan 13 narasumber. Mereka antara lain Mufti Salim, M.A. (Anggota DPRD Lampung/FPKS), Noverisman Subing, S.H. (Anggota DPRD Lampung/FPKB), Rahmat Mirzani Djausal, M.M. (Anggota DPRD Lampung/F-Gerindra), Tony Eka Candra (Anggota DPRD Lampung/F-Golkar), Suprapto (Anggota DPRD Lampung/FPAN), Apriliati, S.H. (Anggota DPRD Lampung/F-PDIP), dan Budi Yuhanda, S.H., M.Kn. (Anggota DPRD Lampung/F-Nasdem).

Selanjutnya Syahrudin Putera, M.M. (Sekdakab Lampung Timur), Saipul, M.I.P. (Sekdakab Waykanan), Fira Maureen (mahasiswa berprestasi FISIP, milennial influencer), Oyos Saroso H.N. (Jurnalis Teras Lampung ), Arizka Warganegara, Ph.D. (penulis, Dosen FISIP Unila), dan Syafarudin, M.A. (editor kepala, penulis, Dosen FISIP Unila).

Syafarudin menerangkan, disrupsi atau perubahan adalah sebuah keniscayaan. Hanya saja bisa parsial atau dirasakan sudah menjadi disrupsi total atau fundamental. Gelombang disrupsi telah mewarnai segala aspek kehidupan warga di berbagai bidang mulai dari bisnis, teknologi, sosial, budaya, pemerintahan, hingga politik, pada hampir di belahan negara di dunia.

Sayangnya upaya menuju perubahan yang lebih baik dalam era persaingan ketat di daerah dan nusantara masih dihadapkan pada lima tantangan atau problem besar. Pertama, korupsi yang mendera dan tidak ada kapoknya meski berkali terjadi OTT KPK. Kedua, ada upaya menarik birokrasi dari sudut netral ke berpihak kepada kandidat atau incumben ini tentu mengganggu profesionalitas dan kinerja birokrat.

Ketiga, pimpinan daerah hasil pilkada sulit diharapkan jadi agen penggerak inovasi karena sebagian kakinya terikat oleh pemodal yang biayai kontestasi pilkada yang mahal (high cost politic).

Keempat, swasta (pasar) dibantu media kadang mengambil alih peran instansi pemerintah yang gaptek (gagap teknologi) dan lembaga sampiran negara yang lelet. Pasar misalnya memotong red type lewat aksi live quick count, dan biro jasa pengurusan administrasi publik. Kelima, masih banyak pembangunan diskontinu atau dilanjutkan setengah hati oleh elite penerus. Ganti pemimpin, maka berganti pula kebijakan.

Dalam buku ini terdapat 37 artikel yang ditulis dalam rentang waktu 2012–2020 dan sudah mendapatkan testimoni dari sejumlah tokoh dan akademisi. Di antaranya, Prof. Sindung Haryanto, Guru besar Sosiologi Ekonomi Unila yang menuliskan, partisipasi publik di era masyarakat yang sedang mengalami perubahan cepat, berpotensi mengubah karakteristik partisipasi.

Perubahan cepat itu mengubah karakteristik partisipasi yang selama ini cenderung elitis, bias gender, terkendala sejumlah hal seperti regulasi, finansial, rekrutmen, serta faktor-faktor kultural dan struktural.

Buku ini sarat dengan kritik, satire, serta gagasan baru dan segar untuk membuka wawasan bagi sidang pembaca mengenai bagaimana seharusnya praktik pemerintahan dijalankan guna merespons tatanan sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang sedang berubah.

Prof. Yulianto, Guru Besar Administrasi Publik, dalam referensinya menuliskan, buku ini mengingatkan penyelenggara pemerintahan dan politik untuk melakukan perubahan mengikuti zaman yang sangat dinamis. Meskipun tidak sedikit yang pesimistis dalam membuat perubahan. Namun, tidak sedikit penyelenggara pemerintah yang telah melakukan perubahan, seperti melakukan self disruption dalam pemeritahannya.

Lain halnya dengan Syahrudin Putera, S.Sos., M.M., Sekdakab Lampung Timur ini menulis, buku ini menarik karena memotivasi dan menginspirasi kita selaku birokrat, politisi, bisnis, mahasiswa, dan masyarakat, bahwa di era revolusi 4.0 yang menjadi kunci survival dan unggul itu terletak pada kreativitas dan inovasi kebijakan, layanan, dan perilaku. Setidaknya ada delapan jenis inovasi penting yang bisa dipilih yakni inovasi produk, proses, konsep, metode, hubungan, teknologi, SDM, dan struktur organisasi.

“Buku setebal 220 halaman ini semakin mudah diperoleh pembaca. Buku ini bisa dipesan online melalui Whatsapp Ilham Agung pada nomor 083170873870 atau bisa juga dibeli di Toko Buku Gramedia Raden Intan dan Toko Buku Gramedia MBK,” kata Syafarudin. [Humas/Rilis]