(Unila): ASIIN, lembaga akreditasi internasional asal Jerman, kembali melibatkan sivitas akademika Universitas Lampung (Unila) dalam sejumlah prosedur akreditasi internasional di Indonesia.
ASIIN merupakan salah satu lembaga akreditasi bergengsi di Eropa yang hingga saat ini telah mengakreditasi sebanyak 7.073 program studi di 70 negara.
Di tingkat nasional, Unila tercatat telah memiliki 15 program studi (prodi) terakreditasi internasional dari ASIIN, menjadikan Unila sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia dengan keterlibatan aktif dalam pengembangan mutu pendidikan berbasis standar internasional.
Kepercayaan ASIIN terhadap Unila terus meningkat dari tahun ke tahun. Sejumlah dosen dan mahasiswa Unila terus dipercaya menjadi bagian dari panel expert dalam prosedur akreditasi ASIIN di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Pada tahun 2026 ini, terdapat dua mahasiswa Unila yang bergabung sebagai student representative dalam panel asesor ASIIN. Mahasiswa pertama adalah M. Aqwam Nugraha, alumnus Prodi Biologi yang lulus pada April 2026.
Aqwam terlibat dalam proses akreditasi enam prodi di FMIPA dan FKIP Universitas Syiah Kuala pada 3 hingga 6 Mei 2026.
Mahasiswa kedua adalah Rosa Arum Kinasih, mahasiswa Program Studi Agroteknologi angkatan 2022, terlibat dalam prosedur akreditasi di Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin pada 5 hingga 8 Mei 2026.
Aqwam mengaku pengalaman sebagai student representative memberikan wawasan baru mengenai bagaimana kualitas sebuah program studi dievaluasi secara komprehensif.
Menurutnya, proses akreditasi tidak hanya menilai kelengkapan dokumen, tetapi juga implementasi nyata yang dirasakan mahasiswa dalam proses pembelajaran.
Ia menilai diskusi selama proses asesmen menunjukkan sinergi yang baik antara perspektif akademik, industri, dan mahasiswa.
Pengalaman tersebut juga meningkatkan ketertarikannya terhadap dunia akreditasi internasional dan ia menyatakan kesediaannya apabila kembali diberi kesempatan menjadi student representative ASIIN di masa mendatang.
Sementara itu, Rosa Arum Kinasih menilai keterlibatannya sebagai Student Expert ASIIN membuka perspektif baru sebagai mahasiswa.
Ia mengaku awalnya mengira akreditasi internasional hanya berkaitan dengan kelengkapan dokumen dan sistem administrasi, namun ternyata jauh lebih mendalam karena menyangkut kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Rosa mengatakan dirinya belajar melihat kualitas program studi bukan hanya dari sudut pandang mahasiswa di kelas, tetapi juga sebagai pengamat yang harus kritis menilai kesiapan lulusan menghadapi persaingan nasional dan internasional.
Ia juga mengungkapkan pengalaman berharga saat berdiskusi bersama profesor dan praktisi dari Jerman maupun Indonesia, serta menjadi jembatan aspirasi mahasiswa dalam menentukan arah kualitas jurusan ke depan.
Rosa menambahkan, sebelum menjadi Student Expert ASIIN dirinya mendapatkan berbagai pelatihan, mulai dari International Seminar for Student Expert ASIIN hingga pembekalan terkait tata cara penilaian mutu program studi. Dalam proses tersebut, ia belajar langsung dari para expert ASIIN.
Menurut Rosa, pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai standar mutu pendidikan tinggi berbasis sistem Jerman. Rosa berharap, semakin banyak mahasiswa Unila yang dapat terlibat sebagai Student Expert ASIIN di masa mendatang, sehingga mampu meningkatkan daya saing lulusan dan mutu institusi di tingkat global.
Selain mahasiswa, keterlibatan sivitas akademika Unila dalam ASIIN juga datang dari kalangan dosen.
Dosen Fakultas Pertanian Unila, Rara Diantari, kembali dipercaya bertugas dalam prosedur akreditasi ASIIN di Universitas Diponegoro pada 14 hingga 16 April 2026. Penugasan tersebut menjadi kali kedua bagi Rara setelah sebelumnya juga terlibat dalam proses akreditasi di Universitas Halu Oleo.
Selain Rara, Priyambodo juga dipercaya menjadi bagian dari expert panel dalam prosedur akreditasi di Universitas Syiah Kuala pada 3 hingga 6 Mei 2026. Bagi Kepala Pusat Akreditasi Internasional Unila tersebut, keterlibatan ini merupakan kali ketiga setelah sebelumnya bertugas dalam akreditasi di Universitas Sebelas Maret dan Universitas Halu Oleo.
Tidak hanya terlibat dalam prosedur akreditasi di Indonesia, Priyambodo juga diundang ASIIN sebagai mitra internasional dalam proses re-authorization ASIIN pada European Quality Assurance Register for Higher Education (EQAR).
Keterlibatan tersebut menunjukkan semakin luasnya pengakuan internasional terhadap kontribusi akademisi Unila dalam pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi.
Capaian ini menjadi bukti meningkatnya kepercayaan lembaga internasional terhadap kiprah akademik sivitas akademika Unila, sekaligus memperkuat posisi Unila dalam jejaring akreditasi dan penjaminan mutu pendidikan tinggi di tingkat global. [Rilis]




