2.714 Mahasiswa KKN Disebar di 4 Kabupaten

26758192_382299258896962_2215409657204964196_o
26850038_382299282230293_5359561485528935215_o
26850113_382299182230303_5917988192669357090_o
26910374_382299172230304_2634841430880237837_o
27023633_382299435563611_1544974265438657206_o

(Unila): Sebanyak 2.714 mahasiswa Universitas Lampung (Unila) diterjunkan di empat kabupaten utama di Provinsi Lampung. Agenda penyerahan mahasiswa KKN Periode I Unila itu secara simbolis dilakukan Rektor Unila Prof. Hasriadi Mat Akin kepada Pemerintah Provinsi Lampung di GSG kampus setempat, Jumat (19/01/2018).

Ketua BPKKN Unila Dr. Sri Waluyo dalam laporannya menjelaskan, 2.714 mahasiswa KKN periode I akan diterjunkan di 4 kabupaten utama, 42 kecamatan, dan 381 desa di wilayah Provinsi Lampung.

Rincinya, Kabupaten Tanggamus sebanyak 1.047 mahasiswa; Kabupaten Lampung Timur sebanyak 721 mahasiswa; Tulang Bawang Barat sebanyak 524 mahasiswa; dan Pringsewu sebanyak 338 mahasiswa. Tak hanya itu, program KKN periode ini akan mengalokasikan mahasiswa di wilayah-wilayah desa binaan Universitas Lampung, seperti Lampung Selatan dan Pesawaran.

Pada sambutannya Hasriadi mengatakan, tiap tahun Unila menerjunkan 5.000-an mahasiswa untuk belajar melalui masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Pelaksanaan kegiatan periode I tahun anggaran 2018 ini akan diselenggarakan di empat kabupaten utama dan akan berlangsung mulai 22 Januari hingga 2 Maret 2018.

Menurut Hasriadi, KKN merupakan kegiatan intrakurikuler. Di kampus, sambungnya, mahasiswa lebih banyak berkutat dengan kompetensi dan softskill. Tetapi saat menjalani program KKN, mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk memersiapkan diri menjadi pemimpin.

Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri yang turut hadir memberi sambutan menambahkan, KKN memberi kesempatan mahasiswa untuk mengetahui secara langsung kondisi riil sekaligus kebutuhan yang diperlukan masyarakat.

Perbedaan yang sering muncul antara dunia mahasiswa dan kehidupan masyarakat merupakan salah satu tantangan yang akan dihadapi. Mahasiswa seringkali lupa bahwa dirinya bagian dari masyarakat, namun cenderung sibuk memerkaya ilmu dan wawasannya di kampus. Ia pun menyebutnya dengan istilah eksklusifme.

Oleh karena itu, KKN akan berjalan efektif manakala pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. “Ingat lah dengan pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadikan lokasi KKN menjadi laboraturium mini untuk menambah pengetahuan dan keterampilan,” urainya.

Bachtiar pun mengimbau agar seluruh peserta KKN dapat selalu menjaga nama baik diri, keluarga, serta almamater.
Turut hadir dalam kegiatan para bupati dari kabupaten tempat pelaksanaan KKN periode I/2018.[Riky/Inay_Humas]