Unila: “Potensi zakat, infak, dan sodaqoh di Universitas Lampung (Unila) ini cukup besar jika dapat lebih dimaksimalkan,” ungkap Ketua pengelola Lembaga Amal Zakat Infak dan Sodaqoh (LAZIS) Rumah Amal Unila, Ageng Sadnowo, Kamis (24-7) pagi.
“Jumlah itu adalah hitung-hitungan kasar jika merujuk jumlah karyawan da dosen Unila yang berjumlah sekitar 1000 orang. Namun memang belum semuanya membayarkan zakat di Unila, mungkin karena sudah membayar ditempat lain,” ujarnya kemudian.
Dosen Jurusan Teknik Elektro Unila ini melanjutkan, hingga saat ini, potensi tersebut belum tergali maksimal. “Hingga kini, baru sekitar Rp. 8-10 juta perbulan potensi ZIS yang bisa dimaksimalkan,” ungkapnya lagi. Apalagi, pengelolanya sebagian besar masih mahasiswa yang merupakan relawan, sehingga ilmu manajemennya masih perlu dikembangkan.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa zakat tahunan yang diterima Unila juga masih berkisar antara Rp. 15-20 juta pertahun. “dua tahun lalu, zakat yang diterima Unila sebesar Rp. 20 juta, setahun yang lalu Rp. 18 juta. Tahun ini semoga saja meningkat. Belum dihitung semua karena masih dalam proses,” terusnya.
Menurut Ageng, penyaluran Zakat dari Unila difokuskan untuk pendidikan, selain wajib zakat yang memang harus menerima. Namun menurutnya, pengelolaan ZIS di Unila termasuk salah satu pengelolaan yang kreatif.
“Kita punya program unggulan untuk menyalurkan dana ini dan sinergi dengan kebijakan pendidikan nasional, namanya Beasiswa Perintis Nusantara. Program ini sejalan dengan program beasiswa pendidikan bidik misi yang diadakan pemerintah,” papar Ageng.
Program ini, terusnya, akan membantu siswa miskin yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi walau secara akademik mampu. Namun, mereka tidak dibiayai langsung dari zakat Unila, namun lebih pada pendampingan dan mengajak anak-anak mau terus sekolah setinggi-tingginya.
“Tahun lalu ada 26 dari 50 siswa yang menjadi dampingan lembaga zakat Unila ini yang diterima di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia. Kita tidak memberi mereka dana, namun kita membayar para pengajar mahasiswa dari Unila untuk membimbing mereka,” kata Ageng lagi.[] Andry