
(Unila) : Universitas Lampung (Unila) melakukan terobosan di bidang pelayanan. Hal ini dibuktikan dengan pembacaan Deklarasi Transformasi Universitas Lampung melalui Pelayanan Prima, Sabtu (17/8) di Lapangan Sepak Bola Unila.
Isi deklarasi dibacakan oleh Rektor Unila Prof. Dr. Sugeng P. Harianto, M.S. di hadapan peserta upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-68. Deklarasi tersebut berbunyi “Bahwa dalam upaya meningkatkan kepuasan seluruh pemangku kepentingan, maka dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami pimpinan dan staf Unila berkomitmen untuk melakukan transformasi Unila melalui pelayanan prima berbasis ISO 9001:2008 demi terwujud Unila yang dicita-citakan menjadi perguruan tinggi sepuluh besar di Indonesia”.
Rektor Unila menegaskan, langkah Unila dalam mendeklarasikan Layanan Prima melalui Transformasi Unila berbasis ISO 9001:2008 ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan selaras dengan Rencana Strategis (Renstra) Unila dalam Rencana Pengembangan Jangka Panjang (RPJP) Unila priode 2011-2015 tentang Penguatan Pelayanan (Strengthening Capacity of Services), yakni Unila harus mau dan mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap semua pemangku kepentingan.
Pembantu Rektor II Unila Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S., menjelaskan, deklarasi ini akan diikuti dengan tahapan lanjutan antara lain: (1) Dilaksanakan executive training bagi pejabat esselon III dan II di lingkungan Unila; (2) Pelatihan tim teknis pencapaian ISO 9001:2008 bagi para pejabat esselon IV di masing-masing unit kerja (biro, lembaga, dan UPT); (3) Penyusunan dokumen dan tahapan lanjutan lainnya.
Baik Rektor maupun Pembantu Rektor II mengharapkan doa, dukungan, dan komitmen dari seluruh civitas akademika dan karyawan Unila untuk mewujudkan Layanan Prima berbasiskan ISO 9001:2008.
Pascapembacaan deklarasi, para pembantu rektor, dekan, dan direktur pascasarjana, para ketua lembaga, dan ketua unit pelaksana teknis melakukan penandatanganan pada teks deklarasi tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Unila juga membacakan sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Upacara Peringatan HUT ke-68 RI. Menteri mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan pergeseran orientasi dari pertumbuhan ekonomi yang berbasis sumber daya alam ke kualitas sumber daya manusia yang kreatif, inovatif dan mampu berpikir orde tinggi.
“Disinilah mengapa, akses ke pendidikan yang kualitas dan berkeadilan menjadi penting dan strategis. Pendidikan Menengah Universal yang dimulai tahun pelajaran 2013/2014, perluasan akses ke jenjang pendidikan tinggi dan beberapa kebijakan afirmasi seperti beasiswa Bidikmisi, dimaksudkan untuk memperkuat kualitas SDM yang lebih berkeadilan. Kurikulum 2013, dimaksudkan untuk menyiapkan manusia Indonesia yang kreatif, inovatif dan mampu berpikir orde tinggi. Namun, kita pun juga harus menyadari, bahwa Indonesia ini dibangun di atas kontruksi masyarakat majemuk,” kata Rektor, membacakan sambutan Menteri.
Menteri berpesan, melalui dunia pendidikan, kita harus secara terus-menerus menyemai benih toleransi, kesantunan, saling menghargai dan saling menghormati. Hal ini, menurut Menteri, penting untuk kita tegaskan kembali, karena kemajemukan di samping sebagai anugerah juga harus dikelola dengan baik. Kalau tidak, maka kemajemukan tersebut bisa berpotensi menjadi sumber konflik yang bisa bermuara pada kesatuan bangsa. Kurikulum 2013 juga dirancang untuk memperkuat prinsip kemajemukan sebagai realitas sosial bagi bangsa Indonesia.[]