Unila-Badan Geologi Tandatangani MoU

0
2096

(Unila): Universitas Lampung (Unila) dan Badan Geologi menggelar grand seminar dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangkaian acara Gephysics Workshop Expo and Seminar (GWES) 2015.

Penandatanganan dilakukan antara Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., dan Kepala Badan Geologi Dr. Ir. Surono, M.Sc., Jumat (8/5). Pembukaan grand seminar oleh rektor secara simbolis dengan pemukulan gong, dilanjutkan dengan pemutaran video pre-movie GWES 2015.

Dalam sambutannya Sugeng mengatakan, Lampung memiliki potensi sumberdaya alam yang besar dan belum tereksplorasi dengan baik. “Menjadi tantangan mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi sumberdaya alam kita ke depannya dengan memerhatikan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Seminar nasional yang digelar Jurusan Geofisika Fakultas Teknik (FT) Universitas Lampung ini menghadirkan lebih dari seratus mahasiswa FT Unila dan juga beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya, salah satunya adalah dari Universitas Hasanudin (Unhas).

Seminar bertajuk Explore to Empower Potential Natural Resources in Lampung ini menghadirkan Kepala Badan Geologi Nasional Dr. Surono, Kepala Seksi Geologi dan Pemetaan Distamben Lampung Ronald B. Aritonang, dan Pakar Geologi Dwandari Ralanarko sebagai pembicara.

Dalam paparannya Surono menyampaikan mengenai mitigasi gempa bumi dari sesar Sumatera. Ia menjelaskan, sejak tahun 2000-2012 terdapat 12 gempa bumi yang menewaskan lebih dari seribu korban jiwa. Ke-12 peristiwa gempa bumi ini genap menjadi 13 ketika terjadi kejadian serupa di Nepal beberapa hari lalu. “Tiga di antara gempa bumi itu ada di Sumatera. Justru adanya kejadian ini, ada tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus bisa beradaptasi dengan alam,” paparnya.

Surono yang kerap kali menjadi pembicara di tingkat nasional ini juga mengimbau mahasiswa Geofisika Unila agar bisa membantu otoritas penanggulangan bencana. “Mahasiswa juga harus bisa menjadi penyuluh terhadap masyarakat di daerah rawan bencana serta mencari tahu bagaimana cara menghadapi bencana yang tiba-tiba datang,” katanya.

Terpisah Ronald B. Aritonang menjelaskan, Lampung sebagai bagian dari tatanan geologi Indonesia terletak di lingkungan tektonik di mana terjadi pertemuan antara lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng benua Euro-Asia yang berpotensi membentuk kondisi geologi dengan beragam potensi SDA yang bernilai ekonomis.

“Potensi tersebut perlu dikelola secara sistematis baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha pertambangan, dimulai dari perumusan kebijakan berupa penetapan peraturan sampai dengan pemanfaatan dan pengusahaannya. Sehingga pendayagunaan SDA geologi dapat dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab, dan sesuai kemampuan daya dukungnya serta mengutamakan kemakmuran rakyat,” pungkasnya.[]