
(Unila) : Rabu (28/11), pukul 14.00 – 16.30 WIB, bertempat di Gedung Auditorium Perpustakaan Universitas Lampung (Unila) berlangsung Seminar Daerah bertema “Memutus Mata Rantai Konflik Sosial di Provinsi Lampung”.
Kegiatan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila ini dihadiri oleh Dekan Fisip Unila Drs. Agus Hadiawan, M.Si. dan Pembantu Dekan III Fisip Unila Drs. Pairulsyah, M.H.
Selain itu, hadir pula Abdi Darmawan, S.H. (Kasubbid Intelkam Polda Lampung), Richard Heryanto, S.Sos. (Kabid Penanganan Konflik Kesbangpol Lampung) dan Darmawan Purba, S.I.P., M.I.P. (Dosen FISIP Unila).
Terdapat 157 peserta mahasiswa yang terdiri dari gubernur dan anggota BEM FISIP, serta para ketua Lembaga Mahasiswa (LK) di Lingkungan FISIP Unila.
Dalam sambutannya, Gubernur BEM FISIP Unila Robby Ruyudha menekankan agar diskusi ini menghasilkan rumusan solusi yang solutif bagi penyelesaian konflik-konflik di Lampung. Ia berharap mahasiswa turut serta dalam penyelesaian konflik di masyarakat.
Dekan FISIP Unila sangat apresiatif terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Ia berharap mahasiswa terus aktif mengurusi masalah-masalah sosial kemasyarakatan, terutama masalah konflik sosial. Lebih jauh Dekan FISIP mengharapkan mahasiswa bersama pemeritah daerah dan kepolisian dapat bersinergi dalam menghadapi potensi-potensi konflik di masa yang akan datang.
Seminar daerah ini dimoderatori oleh Ekky Julian DS. Pada kesempatan pertama pemaparan seminar disampaikan oleh Richard Heryanto, S.Sos. (Kabid Penanganan Konflik Kesbangpol Lampung), dilanjutkan oleh Abdi Darmawan, SH (Kasubbid Intelkam Polda Lampung), dan Darmawan Purba, S.IP., M.IP (Dosen FISIP Unila).
Para narasumber menerangkan bahwa persoalan konflik di Lampung semakin akut dan intensif. Oleh karena itu, pemerintah daerah dalam hal ini Kesbangpol Lampung, Kepolisian (Polda Lampung) dan Perguruan Tinggi (dosen maupun mahasiswa) dituntut untuk optimal dalam menangani masalah konflik yang terjadi di Lampung akhir-akhir ini.
Konflik sosial adalah perseteruan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.
Dari berbagai jenis konflik sosial yang terjadi, narasumber menyebutkan bahwa penyebab konflik antara lain: (1) permasalahan yang berkaitan dengan politik, ekonomi, dan sosial budaya; (2) perseteruan antarumat beragama dan/atau interumat beragama, antarsuku, dan antaretnis; (3) sengketa batas wilayah desa, kabupaten/kota, dan/atau provinsi; (4) sengketa sumber daya alam antarmasyarakat dan/atau antarmasyarakat dengan pelaku usaha; atau (5) distribusi sumber daya alam yang tidak seimbang dalam masyarakat.[] Rilis