(Unila): Mahasiswi Universitas Lampung (Unila) kembali mengukir prestasi membanggakan. Calesta Adinda, mahasiswi Program Studi S1 Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), berhasil meraih Best Paper pada 2nd International Colloquium in Medical Biotechnology and Health Sciences (ICMBHS) Tahun 2025.
International Colloquium in Medical Biotechnology and Health Sciences (ICMBHS) Tahun 2025 merupakan sebuah kolokium (forum akademik/ilmiah) internasional yang diselenggarakan sebagai wadah pertukaran ilmiah, diskusi, dan kolaborasi bagi para peneliti, akademisi, serta praktisi di bidang bioteknologi medis, farmasi, dan ilmu kesehatan.
Acara ini dilaksanakan pada 14–15 Mei 2025 dan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lampung (Unila) bekerja sama dengan Biotechnology Research Institute, Universiti Malaysia Sabah (UMS).
Dalam kompetisi ini, Calesta mengangkat topik Analysis of Cadmium (Cd) and Lead (Pb) Levels in Water Samples by Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) at the Lampung Health Laboratory Center yang berhasil meraih Best Paper 2nd ICMBHS 2025.
“Saya memilih topik ini karena isu pencemaran logam berat di perairan semakin relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Penelitian ini saya harapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kualitas air serta mendukung upaya pengawasan lingkungan,” ujar Calesta saat wawancara via WhatsApp, Selasa, 6 Januari 2026.
Dalam penelitiannya, Calesta menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) karena memiliki sensitivitas tinggi, akurat, selektivitas yang baik, serta prosedur analisis yang sudah terstandar, sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Kontribusi utama dari penelitian ini adalah memberikan data ilmiah mengenai kadar Cd dan Pb pada air di wilayah tertentu sehingga dapat menjadi dasar pengawasan kualitas air, membantu evaluasi risiko kesehatan, mendukung kebijakan kesehatan lingkungan, serta menjadi referensi bagi penelitian lanjutan.
Meski demikian, dalam penelitiannya Calesta juga menyadari adanya keterbatasan, seperti jumlah sampel yang masih terbatas, fokus penelitian yang hanya pada dua jenis logam, serta cakupan wilayah pengambilan sampel yang belum luas.
“Saya berharap penelitian ini dapat dikembangkan dengan jumlah sampel yang lebih besar, analisis parameter logam yang lebih beragam, serta kajian dampak paparan terhadap kesehatan masyarakat,” ujar Calesta.
Sebagai penutup, ia berpesan agar mahasiswa tidak ragu menembus forum ilmiah internasional. Berasal dari Krui, Kabupaten Pesisir Barat, ia menegaskan bahwa latar belakang daerah bukanlah penghalang untuk berprestasi di tingkat global.
Menurutnya, keberanian untuk memulai, konsistensi belajar, serta kemauan berdiskusi dan berproses menjadi kunci utama. Dengan usaha yang berkelanjutan, doa orang tua, dan bimbingan dosen, mahasiswa dari daerah pun memiliki peluang yang sama untuk tampil dan diakui di forum ilmiah internasional. [Magang_Nurma Safira]


