(Unila): Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) melakukan program-program inovatif di desa-desa lokasi KKN. Di antaranya pendampingan UMKM, pelatihan pembuatan pestisida nabati dan mikroorganisme lokal (MoL), pengadaan alat cuci tangan, serta pembagian masker, dan hand sanitizer sebagai edukasi protokol kesehatan Covid-19 kepada masyarakat.

Di masa pandemi Covid-19, Unila melakukan KKN Mandiri Putra Daerah di mana 4.317 mahasiswa KKN pada Periode I Tahun Ajaran 2020/2021 ini ditempatkan di desa tempat tinggal masing-masing yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung. Hal ini untuk meminimalkan mobilisasi semasa pandemi.

Dalam melakukan aktivitas KKN di desa-desa, para mahasiswa menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat. Mulai dari tes rapid, menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta menghindari kegiatan yang mengundang kerumuman massa.

Situasi ini, tidak mengurangi inovasi dan kreativitas mahasiswa Unila dalam melakukan program-program KKN yang solutif bagi masyarakat desa.

Elfani Ferdiyanti yang melaksanakan KKN di Desa Tambahrejo Induk, Gadingrejo, Pringsewu, melakukan program kerja unggulan digitalisasi UMKM. Elfani mengatakan, program digitalisasi UMKM ini dilakukan karena hampir semua UMKM yang ada di desa Tambahrejo belum memasarkan produk secara online/digital.

Padahal, lanjut Elfani, di era teknologi digital, ditambah lagi dengan pandemi Covid-19 saat ini, pemasaran berbagai produk sudah dilakukan secara online.

”Saya membantu memasangkan peta online (google maps) pada UMKM-UMKM yang ada di Tambahrejo. Dengan ini lokasi UMKM lebih mudah diketahui para konsumen di dunia maya. Selain itu, saya juga membantu pembuatan akun media sosial UMKM berupa media instagram yang mengatasnamakan UMKM Desa Tambahrejo,” tutur Elfani, pertengahan Maret 2021.

Pendampingan terhadap UMKM juga dilakukan kelompok KKN di Labuhan Ratu Raya, Labuhan Ratu, Bandarlampung. Ketua kelompok KKN Labuhan Ratu Raya, Setya Galih bersama kelompoknya melakukan inovasi pengolahan bibit lele di UMKM ternak bibit lele Farm Koi menjadi camilan Lele Crispy.

Menurut Setya Galih, selama masa pandemi Covid-19, pemilik UMKM Farm Koi mengalami kesulitan dalam menjual bibit lele. Setiap bulan terjadi penurunan penjualan. Untuk mengatasi hal tersebut, Setya Galih bersama kelompoknya melakukan inovasi pengolahan bibit lele agar tahan lama dan memiliki nilai jual.

“Kami membuat makanan ringan Lele Crispy dengan bahan utamanya adalah bibit lele. Makanan ini bisa menyasar semua usia dan semua kalangan. Tidak hanya untuk camilan, juga bisa dijadikan lauk untuk makan nasi,” tutur Setya Galih.

Dia menjelaskan, proses pembuatan Lele Crispy cukup sederhana. Dimulai dari membersihkan lele-lele bibit, kemudian mencelupkan ke dalam tepung basah yang telah diberi bumbu lada, garam, dan penyedap rasa. Setelah itu dibaluri tepung kering, digoreng menggunakan minyak yang banyak, dan benar-benar panas.

“Kami juga membantu UMKM membuat kemasan produk yang menarik. Untuk rasa, selain original, kami membuat rasa pedas dengan menambahkan bumbu balado ke dalamnya. Mengingat anak–anak muda zaman sekarang sangat suka menambahkan rasa pedas ke dalam makanan mereka,” ujarnya.

Mahasiswa KKN Unila ini juga membantu memasarkan produk dengan menjajakan produk Lele Cripsy ke warung-warung dan toko di sekitar Labuhan Ratu Raya.

Pertanian Organik

MAHASISWA KKN Mandiri Putra Daerah Unila juga melakukan program di bidang pertanian yang mendorong para petani di desa-desa menerapkan pertanian organik. Mahasiswa KKN di Pekon Wonodadi, Gadingrejo, Pringsewu mengundang tim Dosen Kimia FMIPA Unila Syaiful Bahri, S.Si., M.Si., Rinawati, S.Si., M.Si., Ph.D., dan Dr. Yuli Ambarwati, S.Si., M.Si., untuk memberikan pelatihan pembuatan pestisida nabati dan mikroorganisme lokal (MoL) kepada pada petani.

Syaiful Bahri menjelaskan pentingnya menggunakan pestisida nabati dalam memberantas hama tanaman, serta MoL sebagai pupuk cair organik di bidang pertanian. Menurut dia, bahan-bahan alami ini memiliki keuntungan jangka panjang dalam memperbaiki struktur dan kesuburah tanah. Tidak hanya itu, kualitas tanaman juga jauh lebih sehat dan bagus.

Untuk pembuatan pestisida nabati, tim dosen Unila ini menggunakan puntung rokok dan kulit bawang yang direndam air kemudian difermentasi sekitar tujuh hari. Pestisida ini dapat membunuh hampir semua hama yang merusak tanaman para petani.

“Syarat bahan pestisida nabati memiliki ciri-ciri, yaitu rasa yang pahit, panas, dan baunya menyengat, karena semua ini tidak disukai hama,” kata Syaiful Bahri.

Sementara untuk pembuatan MoL, digunakan bahan utama nasi basi yang diberi air dan gula sebagai media tumbuh bagi bakteri dekomposer (pengurai) serta dapat menjadi nutrisi bagi tanaman.

Syaiful mengatakan, selain proses pembuatan yang sederhana, dua produk organik ini memanfaatkan limbah rumah tangga sehingga membantu menjaga kebersihan lingkungan.

“Penggunaan pestisida sintetis dalam pertanian dapat merusak tanah, tanah menjadi pecah-pecah dan tidak gembur, dan unsur hara terkontaminasi. Maka dari itu, penggantian ke pestisida nabati sangat disarankan. Memang agak lama (daya kerjanya), tetapi manfaatnya lebih banyak, dan lebih bagus (hasilnya),” ujar Syaiful Bahri.

Pelatihan pengolahan pupuk organik juga dilakukan kelompok mahasiswa KKN di Desa Wayngison, Pagelaran, Pringsewu. Anggun Veranita dan Wanda Citra Permata melaksanakan program kerja pembuatan pupuk kompas dan pakan sapi (silase).

Anggun mengatakan, program kerja ini dilatarbelakangi oleh mayoritas masyarakatnya yang merupakan peternak sehingga banyak ditemukan feses sapi menjadi limbah karena tidak diolah.

“Untuk itu, kami mengajak remaja Desa Wayngison bersama-sama membuat pupuk kompos sekaligus menjelaskan fungsi serta pemakaian pupuk kompos tersebut,” kata Anggun.

Menurut Anggun, pembuatan pupuk kompos ini tidak hanya membantu masyarakat desa mengurangi limbah feses sapi, tapi pupuk kompos yang digunakan untuk tanaman juga membantu memperbaiki struktur dan hara tanah.

Duta Protokol Covid-19

SESUAI arahan dari Rektor Unila Prof. Karomani, ribuan mahasiswa KKN Mandiri Putra Daerah harus ikut membantu pemerintah menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat di desa lokasi KKN tentang protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19.

Untuk itu, mahasiswa KKN pada periode I ini didapuk sebagai Duta Protokol Pencegahan Covid-19. Program nyata mendukung pencegahan penyebaran Covid-19 ini dilakukan mahasiswa KKN di Kelurahan Sumberrejo, Kemiling, Bandarlampung yang dimotori Adinda Putri Maharani.

Mahasiswa FKIP Unila ini bersama timnya melakukan pengadaan alat cuci tangan dan pembagian hand sanitizer serta masker kepada masyarakat.

Adinda menjelaskan, saat turun ke lokasi KKN, mereka melihat kantor kelurahan Sumberrejo tidak memiliki alat cuci tangan. Padahal, alat cuci tangan ini menjadi standar protokol kesehatan di saat pandemi Covid-19 pada instansi-instansi pelayanan publik.

“Kami akhirnya berdiskusi tentang pengadaan alat cuci tangan ini dan menyerahkannya ke Kantor Kelurahan Sumberrejo,” ujar Adinda.

Selain itu, mereka membagikan hand sanitizer dan masker kepada masyarakat. Menurut Adinda, kesadaran masyarakat Sumberrejo untuk menggunakan masker dalam beraktivitas sehari-hari masih kurang.

Untuk memotivasi masyarakat mematuhi protokol kesehatan, maka mahasiswa KKN mengajak Lurah Sumberrejo, Edwin Putra Manaha, S.P., bersama-sama membagikan masker dan hand sanitizer kepada masyarakat.

Sementara, mahasiswa KKN di Desa Gadingrejo Timur, Gadingrejo, Pringsewu, yaitu Ihsaan Solaahuddin, Dian Apriansyah, Lusi Rahmanisa, dan Hellen Lorena, aktif melakukan sosialisasi protokol kesehatan pencegahan Covid-19 kepada masyarakat.

Mereka juga melakukan program taman obat keluarga yang sangat berguna sebagai sumber tanaman obat penambah daya imun masyarakat di masa pendemi. “Tanaman obat keluarga ini berisi tanaman obat tradisional seperti jahe, bidara, kunyit, kumis kucing, dan beberapa tanaman obat lainnya,” ujar Ihsaan.

Mahasiswa Mengabdi

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Prof. Cucu Sutarsyah mengatakan, KKN merupakan kuliah wajib yang harus diikuti mahasiswa Unila. Untuk menjadi seorang sarjana, seorang mahasiswa wajib mengabdikan diri ke desa sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Mereka harus turun  dan tinggal di desa membaur dengan masyarakat dan menjadi bagian anggota masyarakat. Mahasiswa juga wajib ikut membangun desa selaras dengan program dan kebijakan desa.

“Mereka terlibat dalam membangun desa atas bimbingan dan arahan aparat desa, camat dan bahkan bupati,” ujar Cucu yang merupakan DPL mahasiswa KKN wilayah Pringsewu dan Bandarlampung.

Menurut Cucu, persiapan KKN ini telah dilakukan sejak September 2020 melalui penjajakan dan mengurus perizinan pada pemda kabupaten lokasi KKN. Di pihak internal juga dilakukan koordinasi dan penyamaan persepsi tentang program KKN. Kegiatan berupa seminar dan workshop yang dihadiri narasumber dari berbagai bidang.

Materi mencakup program pembangunan desa, program peningkatan wawasan dan pengetahuan masyarakat, serta meningkatkan usaha ekonomi desa sekaligus kualitas hidup masyarakat.

“Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa calon peserta KKN dalam bentuk pembekalan. Salah satu bentuk pembekalan adalah terkait merencanakan program kerja KKN dan pelaksanaannya berdasarkan hasil survei (pra-KKN) berdasarkan analisis situasi dan permasalahan,” ujarnya.

Diharapkan, melalui program KKN, mahasiswa bertindak sebagai motivator dan inspirator masyarakat dalam pembangunan sehingga keberadaan mahasiswa di desa memberi perubahan dan perbaikan yang berguna bagi masyarakat setempat, baik dari segi fisik maupun nonfisik. [Humas]