(Unila): Dalam rangka Ujian Akhir Semester, mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Tari, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lampung (Unila) menggelar pertunjukan koreografi lingkungan dengan mengangkat tema PlayStation yang diselenggarakan di Panglima Polem, Bandar Lampung pada Jumat, 28 Juni 2025.
Pertunjukan ini melibatkan Chika Putriayu, Diva Arum Kinanti, Rika Amelia, dan Methalia Relida selaku koreografer dengan bimbingan dosen pengampu Goesthy Ayu Mariana Lestari, S.Sn., M.Sn., Nabilla Kurnia Adzan, S.Pd., M.Pd., dan Lora Gustia Ningsih, S.Sn., M.Sn.
Koreografi lingkungan adalah metode penciptaan dan pementasan tari yang dilakukan di luar ruang pertunjukan konvensional, seperti panggung prosenium atau studio tari, dengan memanfaatkan ruang-ruang terbuka atau non-tradisional seperti taman, jalanan, area industri, atau ruang publik lainnya sebagai lokasi pertunjukan.
PlayStation dipilih karena bukan hanya sebagai media hiburan biasa, tetapi telah bertransformasi menjadi media edukatif, kreatif, dan sosial yang berdampak luas, terutama di era digital saat ini. Selain itu, playstation merupakan permainan yang memiliki pusat perhatian besar bagi kalangan anak muda.
Dalam fenomena sosial, playstation memberikan banyak jenis game yang membuat anak muda menjadi lupa waktu, hal ini tentunya mengganggu waktu belajar yang seharusnya dijalani oleh anak muda. Game playstation dapat memengaruhi watak dan cara berfikir anak muda bahkan memengaruhi gaya hidup mereka.
Permasalahan inilah yang menjadikan para koreografer tertarik untuk membuat sebuah koreografi non tradisi lingkungan sebagai motivasi bagi anak muda untuk membagi waktu bermain dengan hal positif lainnya agar tidak terpengaruh oleh dunia game.
Goesthy Ayu Mariana Lestari, S.Sn., M.Sn., selaku dosen pengampu mengapresiasi pertunjukan ini dimana kegiatan ini merupakan media bagi mahasiswa untuk mencoba berkarya dengan menjadikan fenomena lingkungan sebagai acuan dalam berkesenian.
“Menurut saya ini merupakan suatu ruang bagi mereka untuk mencoba berkarya langsung di lingkungan dan memang berangkat dari fenomena yang terjadi di kehidupan sekitar sehingga dari situ mereka mencoba merancang sebuah pertunjukan”, ujarnya.
Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan alternatif pertunjukan yang inovatif, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat ruang publik dengan cara yang berbeda sebagai tempat yang hidup, penuh makna, dan layak dihargai melalui ekspresi seni.[Magang_Aprial Wahyudi]