(Unila): Program Studi (prodi) Pendidikan Tari Universitas Lampung (Unila) kembali menggelar Helau Dance Festival 2025 yang berlangsung di Gedung Teater Tertutup, Taman Budaya Provinsi Lampung, pada 18 hingga 19 Desember 2025.
Festival ini mengusung tema “Tari sebagai Arsip Dekolonialisme”, yang menempatkan tubuh sebagai teks budaya untuk membongkar dominasi estetika kolonial.
Melalui gerak tari, festival ini menghadirkan upaya pemulihan ingatan lokal, penguatan identitas, serta sudut pandang yang berpihak pada pengalaman masyarakat sendiri.
Kegiatan ini diproduksi Tara Production sebagai tim produksi mahasiswa angkatan 2023 Prodi Pendidikan Tari Unila.
Helau Dance Festival 2025 menjadi ruang temu antara seni pertunjukan, arsip kultural, dan refleksi sosial, sekaligus wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan karya yang berpijak pada tradisi dan realitas masa kini.
Pada malam pementasan utama, kegiatan ini turut dihadiri Ketua Program Studi S-1 Pendidikan Tari Unila, Dr. Dwiyana Habsary, M.Hum., serta dosen pengampu mata kuliah Manajemen Seni Pertunjukan, yakni Nabilla Kurnia Adzan, S.Pd., M.Pd. dan Irna Khaleda Nurmeta, S.Pd., M.Pd.
Rangkaian pertunjukan diawali dengan penampilan pembuka berjudul Nuju Waya yang dibawakan Ikatan Mahasiswa Pendidikan Musik (Imasenik). Karya ini mengangkat salah satu sastra lisan dari wilayah Pesisir Lampung, yakni Hahiwang.
Karya ini menghadirkan syair mendayu-dayu yang berisi kisah kesedihan, serta mengajak penonton menyelami emosi dan ingatan kolektif masyarakat Lampung.
Panggung kemudian diisi dengan karya Muwasal, oleh Rizki Atmoko Dwinata, S.Pd., hadir sebagai bentuk kesadaran tubuh dalam menjaga kesinambungan tradisi. Muwasal diposisikan sebagai benteng ingatan, sebuah sikap sadar agar kelak tradisi tetap terbaca, tidak tergerus waktu, dan tidak hanyut menjauh dari asal muasalnya.
Karya berikutnya, Kepas Pulas, oleh Bety Cahyowati, S.Sn., mengangkat narasi tentang wanita. Tarian ini menggambarkan bahwa di balik sifat kelembutan, wanita juga memiliki kekuatan, keberanian, dan semangat juang dalam menghadapi kehidupan.
Selain itu, festival menampilkan Ngegisekh karya Syana Salsabila Nanpermai, S.Pd. Karya ini merepresentasikan bahasa Lampung sebagai sesuatu yang masih hadir, namun perlahan bergeser dari ruang asalnya. Pergeseran ruang dan posisi menjadi penanda perubahan peran bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian Karya Elok, oleh Herlando Agustiar, S.Pd., mengangkat cerita tentang kegelisahan terhadap standar keindahan dalam pertunjukan tari yang kerap dipersempit pada aspek visual semata.
Karya ini mengingatkan kembali filosofi dasar kepenarian, yakni keselarasan wiraga, wirasa, dan wirama, sebagai landasan keindahan yang utuh dan bermakna.
Karya terakhir, Ritual Perempuan Blok B No. 8, oleh Silvis Dewi Marthaningrum hadir dengan pendekatan reflektif dan personal.
Karya ini menelusuri hubungan antara kebiasaan modern dan warisan leluhur, dengan menjadikan rutinitas paling intim sebagai arsip yang bertransformasi menjadi sajian artistik.
Dr. Dwiyana Habsary, M.Hum., Ketua Program Studi S1 Pendidikan Tari Unila, menyampaikan harapannya agar Helau Dance Festival ke depan dapat berkembang hingga ke tingkat internasional.
“Harapannya semoga Helau Dance Festival dapat berkembang hingga go internasional, sehingga ke depan kita juga dapat mengundang koreografer internasional untuk melihat dan membandingkan bagaimana ekspresi tari di dunia internasional serta bagaimana ide dituangkan melalui gerak,” ujarnya.
Helau Dance Festival 2025 ditutup dengan sesi foto bersama antara para dosen, penampil, dan seluruh tamu undangan.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, Helau Dance Festival menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menuangkan ekspresi serta kegelisahan mereka terhadap berbagai fenomena yang hadir di tengah masyarakat melalui karya tari, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata dalam menghidupkan dan menguatkan atmosfer kesenian di Provinsi Lampung. [Magang_Yuki Haniyah/Samsul Sunardi]



