(Unila): Saat ini inovasi dan kreativitas menjadi kunci penting untuk mendukung pembangunan Indonesia berkelanjutan. Para mahasiswa yang tengah mengampu studi di Perguruan Tinggi harus disiapkan menjadi pembelajar yang ulet (agile learner), terampil, dan disiplin.
Kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia merupakan kerangka yang relevan untuk menyiapkan mahasiswa menjadi sarjana tangguh, sesuai dengan kebutuhan zaman, sekaligus mampu menjadi pemimpin yang berdaya saing.
Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 telah mengatur pemenuhan masa dan beban belajar untuk mahasiswa selama 1–2 semester agar dapat melakukan program magang/praktik kerja sesuai dengan passion mereka. Melalui program ini, para mahasiswa dapat mengembangkan soft skill dan hard skill melalui metode pembelajaran di luar kelas.
Oleh karena itu, Sustainable Development Goals (SDGs) Center Universitas Lampung (Unila) berkomitmen mendukung dan memfasilitasi kebijakan Merdeka Belajar melalui orientasi dan pengukuhan magang SDGs Center Universitas Lampung.
Kegiatan orientasi diselenggarakan pada Kamis (9/7/2020) di ruang sidang lantai 2 Rektorat Universitas Lampung. Orientasi diikuti 47 mahasiswa aktif yang terpilih sebagai peserta magang pada batch 1 dan 2 periode 2020. Mereka terpilih setelah mendaftar kemudian berhasil melalui seleksi verifikasi curicullum vitae (CV) dan wawancara.
Ketua SDGs Center Unila Dr. Unang Mulkhan dalam sambutannya menyampaikan beberapa poin penting terkait program magang di SDGs Center Unila. Menurutnya, program magang merupakan sarana pengembangan kompetensi diri bagi mahasiswa dalam memperdalam dan mengimplementasikan pengetahuan tentang agenda pembangunan berkelanjutan.
Unang berharap, peserta yang terpilih dapat mengikuti proses magang dengan tertib dan disiplin sehingga mampu bertukar ide sekaligus melaksanakan praktik pemberdayaan SDGs. Di antaranya melaksanakan project SDGs Village di Desa Bandung Agung dan Desa Baturaja, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran.
Dengan berbagai proyek kolaboratif, peserta magang dapat meningkatkan kapasitas dan kreativitas diri melalui kenyataan dinamika lapangan seperti permasalahan riil, kolaborasi, dan manajemen diri.
“Selain itu diharapkan, para peserta mampu mendukung 17 tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar Unang di sela-sela penyampaian materi pendekatan bottom-up SDGs village di hadapan tim dosen, panitia, dan seluruh peserta.
Pengukuhan magang SDGs Center Unila batch 1 dan 2 ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai program dan aktivitas SDGs Center.
Program antara lain workshop, Focus Group Discussion (FGD), tata kelola dashboard, pengembangan desa binaan, dan roadshow monitoring and evaluation (monev) SDGs berkolaborasi bersama pemangku kepentingan yaitu desa, kabupaten, universitas, organisasi nonpemerintah, dan pelaku usaha.
Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi forum transfer informasi dan ilmu yang akan dibagikan kepada seluruh peserta sebagai bekal magang di SDGs Center Unila. Mereka akan ditempatkan sesuai minat bakat diri seperti pelatihan, pengabdian, seminar nasional, QS-Star, dashboard, maupun Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).
Yunita Maya Putri, S.H., M.H., selaku Head of Human Resource Development dan Arif Darmawan, S.E., M.A., selaku Project Team Leader on SDGs Research, Monitoring, and Evaluation berharap, para peserta dapat berkontribusi secara maksimal membantu pelaksanaan program pembangunan berkelanjutan. [Humas/Rilis]