Pembelajaran Daring                                                                                         

0
2757

Sudjarwo                                                                                                                 Guru Besar FKIP Unila

MEREBAKNYA virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan corona di Indonesia mengguncangkan semua sendi kehidupan yang ada. Semua lini kehidupan sosial terdampak, termasuk pendidikan. Virus ini mengglobal. Saat ditulisnya naskah ini, Covid-19 sudah menjangkiti 186 negara di dunia dan mungkin sekarang sudah bertambah. Mereka yang menjadi korban keganasan corona pun terus meningkat. Virus ini tidak memandang usia, pangkat, jabatan. Apa pun dia, siapa pun dia, semua memiliki peluang untuk terserang.

Virus ini pun memaksa kehidupan sosial harus berubah, termasuk metode pembelajaran. Selama ini, pendidik berkutat pada metode pembelajaran konvensional, yaitu tatap muka di kelas antara guru dengan murid atau dosen dengan mahasiswa. Proses pembelajaran, diskusi, tanya-jawab, dan bimbingan semua berlangsung tatap muka. Sekarang harus menggali diri kepada metode belajar dalam jaringan atau disingkat daring (online).

Lompatan itu bukanlah berarti apa-apa untuk dunia perguruan tinggi, terutama bagi tenaga pengajar yang masih muda-muda, karena mereka memang generasi yang tumbuh pada era digital atau jaringan. Sementara tenaga pengajar yang sudah lanjut usia dipaksa harus berlari menyesuaikan diri dengan cara baru itu. Walaupun tampak kedodoran, mereka harus sigap untuk ikut perubahan.

Bagaimana dengan pendidikan tingkat dasar, seperti SD dan SMP? Tentu saja akan seru sekali jadinya karena pembelajaran daring di samping diperlukan kemampuan mengoperasionalkan jaringan dengan perangkatnya, juga harus dibekali paedagogi daring. Menjadi persoalan sebab paedagogi daring sendiri belum menjadi bahan baku pembelajaran selama ini.

Akhirnya, kita temukan tampilan pembelajaran daring yang menggelikan. Ada guru yang merekam mengajar berhadapan dengan bangku-bangku kosong, ada yang merekam mengajar lewat WA kemudian dibagikan, ada yang mengirim tugas lewat WA dan meminta jawaban lewat WA, dan masih banyak lagi kelucuan-kelucuan paedagogik seperti ini. Menjadi semakin riuh lagi kalau kita perhatikan pembelajaran di tingkat SMA dan SMK.

Untuk tingkat SD masih sedikit tertolong karena orang tua mereka, terutama ibu-ibu, selalu mendampingi anaknya belajar. Walaupun orang tuanya tidak begitu menguasai penggunaan perangkat, mereka masih bisa diajak bekerja sama untuk membimbing anak-anaknya.

Akan tetapi, menjadi persoalan tersendiri bagi anak-anak, bahwa ternyata tidak semua ibu bisa menjadi pendamping yang baik bagi anak-anaknya. Bahkan, cara ibunya mengajar membuat mereka tertekan secara psikologis, malah ada yang berontak dengan membuat puisi agar corona cepat berlalu supaya bisa bertemu guru.

Sementara itu, guru SMP dan SMA mengeluh karena ada topik-topik tertentu yang sulit didaringkan. Alasannya, transformasi kognisi bisa dilakukan dengan daring, sementara transformasi afeksi dan konasi masih banyak kendala yang dihadapi. Tentu ini merupakan tantangan tersendiri antara guru dan murid yang sudah beda zaman dan tantangan.

Hal yang menjadi lebih konyol adalah banyak guru memiliki persepsi bahwa pembelajaran daring harus selalu diakhiri dengan memberikan tugas sebanyak-banyaknya kepada peserta didik. Akibatnya, bukan hanya anak yang stres, termasuk kedua orang tuanya ikut stres. Pada satu sisi harus menyelamatkan keluarga agar kebutuhan dasar terpenuhi, sisi lain menyelamatkan anak-anak dari kebodohan.

Perguruan Tinggi

Hal yang sama juga ditemukan di perguruan tinggi, terutama bidang studi yang lebih banyak berkaitan dengan aplikasi afeksi dan konasi. Seorang dosen seni pertunjukan yang juga menguasai dengan baik teknologi pembelajaran daring masih mendapat keluhan dari para mahasiswanya bahwa ada hal-hal “rasa dalam berkesenian” yang mereka tidak dapatkan dalam daring. Sekalipun mereka sudah menggunakan tetap muka lewat media, tetap saja tidak terbangun rasa berkesenian yang mereka harapkan.

Berbeda dengan seorang doktor matematika yang sedang mengajarkan secara daring persamaan tersamar. Dengan metode daring dengan tetap muka lewat media, beliau tidak menemukan kendala apa pun, apalagi mahasiswanya juga jago-jago dalam penggunaan perangkat daring. Dosen ini berselancar dengan mahasiswanya di dunia maya bak peselancar menemukan gelombang tinggi di pantai Hawaii.

Seorang guru besar pendidikan fisika, pengajar di Pascasarjana Unila, lain lagi pengalamannya. Justru dengan diberlakukannya daring, beliau mengembangkan sistem seminar lewat jaringan, sehingga mahasiswa tidak harus hadir di kampus, cukup berhadapan dengan gadgetnya.

Interaksi proses seminar proposal dan seminar hasil penelitian dapat beliau lakukan dengan amat mudah. Sekarang sistem ini diadopsi banyak program studi di lingkungan Unila.

Empat Persoalan

Tiga contoh di atas rasanya sudah cukup untuk melihat sisi gelap dan sisi terang dari pembelajaran dengan sitem daring. Kalau ditelisik lebih jauh, ada sejumlah persoalan di samping kemudahan.

Pertama, sistem daring memudahkan pembelajaran karena tidak terikat akan tempat dan waktu, tetapi perlu persiapan jauh hari semua perangkat dan bahan, termasuk kurikulumnya. Sementara persiapan itu selama ini tidak pernah ada, bahkan pembelajaran daring hanya diperuntukkan pendidikan guru dalam jabatan, sehingga baik guru (termasuk dosen) maupun masyarakat mengalami guncangan teknologi.

Kedua, pembelajaran sistem daring yang memerlukan perangkat teknologi gadget menjadi persoalan jika satu keluarga memiliki sejumlah anak yang tersebar di semua jenjang pendidikan, sementara penghasilan keluarga terbatas. Maka itu, tentu sistem daring akan sangat memberatkan. Subsidi melalui bebas kuota bagi keluarga seperti ini sangat membantu mereka.

Apalagi, bagi mahasiswa yang tidak mampu untuk membeli peranti teknologi, karena mereka masuk perguruan tinggi saja melalui jalur “bagi yang kurang beruntung dalam bidang ekonomi”. Bahkan, ada mahasiswa yang harus ngenger kepada dosennya untuk sekadar numpang hidup bisa mondok gratis, walau dibayar harus menjadi “pramuwisma” di rumah sang majikan. Jumlah mereka ini sepuluh persen di masing-masing program studi dan banyak dosen/guru menjadi “juru selamat” anak-anak bangsa seperti ini.

Ketiga, kurikulum yang ada secara nasional disiapkan untuk sistem pembelajaran konvensional. Dengan diberlakukannya sistem daring secara mendadak, tentu banyak persoalan yang menyertai keberlakuan sistem ini. Guru TIK, yang semula ada di sekolah dengan keberlakuan kurikulum 13, kini mapel ini ditiadakan.

Dengan kasus corona, ternyata menghilangkan TIK di sekolah adalah kurang tepat. Justru guru TIK harus diberi beban membuat transformasi bahan dari disajikan secara konvensional menjadi sistem daring, sehingga anak atau siswa yang berhalangan hadir ke sekolah karena alasan tertentu, mereka masih dapat belajar dengan mengakses melalui program daring. Termasuk jika terjadi kondisi darurat seperti sekarang, tidak perlu kita harus pusing memikirkannya.

Keempat, penguasaan teknologi yang belum merata. Ini harus kita akui secara jujur dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Belum semua mereka menguasai aplikasi program yang diperlukan untuk mengembangkan daring. Bisa jadi secara teknis mereka menguasai, tetapi jika mereka sebagai “tenaga kontrak” yang gajinya saja tidak cukup untuk makan, mereka yang harus membeli kuota demi menyelamatkan kariernya adalah kurang manusiawi.

Kebijakan pemerintah untuk membebaskan kuota pada provider guna belajar di rumah dan dosen mengajar di rumah adalah harga sosial yang harus dibayar untuk bangsa ini dan alhamdulillah di tengah tulisan ini dibuat berita pembebasan kuota sudah bisa direalisasi.

Tinggal bagaimana memberikan kursus singkat tentang keterampilan menyajikan program pembelajaran melalui daring bagi tenaga yang memerlukan. Hal ini perlu dilakukan terobosan. Sebagai contoh, bisa saja mengerahkan program studi atau jurusan komputer di satu lembaga perguruan tinggi atau lembaga kursus untuk membuka kursus singkat gratis bagi yang memerlukan.

Penghapusan UN

Dampak corona juga berimbas pada dihapuskannya UN. Ini berarti ada pekerjaan baru bagi para guru di lapangan mengingat rumusan kelulusan harus memperhatikan faktor beta adanya corona. Oleh sebab itu, alfa harus mengakomodasi tingkat kelulusan bukan hanya aspek kognisi, tetapi afeksi lebih ditonjolkan. Formulasi ini tentu bukan bicara soal keadilan akan, tetapi bicara kepatutan.

Penghapusan UN juga berdampak iring terhadap standar nasional pendidikan kita. Oleh karena itu, tingkat kelulusan untuk periode ini tidak bisa dijadikan standard nasional, tetapi lebih kepada kondisi darurat yang mendunia.

Sisi lain dengan adanya corona menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk sosial yang keberadaan dan keberlangsungan hidupnya juga bergantung pada relasi sosial yang dia bangun dengan orang lain. Kita bisa membayangkan pada waktu ditulis naskah ini di dunia sudah ada 186 negara terserang wabah ini. Jika dunia ini ada 216 negara, berarti sisa 30 negara saja yang aman. Namun, apakah betul-betul aman. Wallahualam bissawab.

Semoga pagebluk ini segera berlalu dan negara kita bisa pulih kembali, karena dampak dari peristiwa ini bukan hanya pada sektor pendidikan, tetapi mengena pada semua sendi kehidupan manusia Indonesia. Yang akibatnya bisa fatal untuk keberlangsungan kehidupan bernegara. Mari kita semua, tidak peduli siapa pun Anda, tundukkan kepala memohon kepada Tuhan agar bencana ini segera berlalu.

(Rubrik Kolom Pakar merupakan kerja sama antara Universitas Lampung dan Harian Umum Lampung Post)