Peluang dan Tantangan Kerja Sama Riset antara Perguruan Tinggi Indonesia dan Australia

0
949

(Unila): Internasionalisasi menjadi salah satu poin penting dalam pencapaian IKU dan meningkatnya kualitas sebuah perguruan tinggi. Oleh karena itu, sangat penting bagi sebuah perguruan tinggi untuk membangun komunikasi dan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri.

Demikian disampaikan Prof. Dr. Mukhamad Najib, S.TP., M.Si., Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra saat membuka pemaparan materinya di Seminar Peluang dan Tantangan Kolaborasi Riset dan Kerja Sama Perguruan Tinggi di Australia pada Rabu, 12 Juli 2023, di ruang sidang utama lantai dua Rektorat Unila.

Pemerintah Indonesia menginginkan perguruan tinggi di seluruh Indonesia melakukan penguatan terhadap kualitasnya sehingga ketika pemerintah mendorong pembangunan internasionalisasi, sudah pasti bukan semata-mata karena prestise, tetapi karena ingin bisa sejajar dengan universitas di luar negeri dan karena perlu belajar untuk bisa meningkatkan kualitas.

“Karena itu kita membutuhkan partner dari luar negeri yang kita anggap lebih advance, lebih maju, lebih baik dari perguruan tinggi kita, dengan begitu harapannya kita bisa termotivasi dan menemukan cara juga lebih baik dari mereka,” ujarnya saat berbicara didampingi Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia, D.E.A., I.P.M., dan Ketua LPPM Dr. Habibullah Jimad, S.E., M.Si.

Prof. Najib melanjutkan, Australia adalah salah satu negara yang memiliki potensi dan besar untuk diajak bekerja sama dalam rangka mendukung program internasionalisasi ini. Selain karena jaraknya yang dekat dengan Indonesia, kualitas pendidikan di Australia jauh lebih baik dari Indonesia, yakni peringkat sepuluh pendidikan terbaik di dunia dan dari 43 universitas, delapannya (Group of Eight) telah masuk top 100 university.

Tak hanya itu, Australia memiliki teknologi lebih maju, kolaborasi DUDI yang kuat, serta telah memiliki hubungan bilateral kuat dengan Indonesia melalui The Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), serta membangun kampus pertama di luar negeri.

Saat ini telah ada 237 universitas di Indonesia, baik negeri maupun swasta, yang telah melakukan kerja sama dengan Australia. Ia berharap, ke depannya Unila juga dapat aktif melakukan kerja sama dengan Australia.

Beberapa program yang sangat memungkinkan dilakukan dengan universitas di Australia, antara lain dalam bentuk Partnership & Academic Reputation melalui kegiatan Join/Double Degree, Joint Research & Collaboration, dan Visiting Scholar.

Salah satu program yang sedang berjalan saat ini di Australia, menurut Prof. Najib, yaitu program Split Site Master, penulisan jurnal bersama dalam kegiatan workshop, word class professor, dan lainnya. Sementara program yang didukung pemerintah salah satunya melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yakni IISMA, IISMAVo, dan Faculty Mobility.

Untuk dapat terkoneksi dengan universitas di Australia, dapat dilakukan melalui metode person to person (P2P), University to University (U2U), dan Government to University (GtoU), dengan pendekatan pragmatis dan idealistis.

Ada beberapa tantangan yang dipaparkan, seperti jumlah mahasiswa Indonesia yang masih terbilang sedikit. Namun lewat forum ini, ia berharap informasi tentang jalan untuk melanjutkan studi ke Australia dapat diberikan secara lengkap kepada mahasiswa Indonesia, khususnya Unila.

KBRI Canberra siap memberikan bantuan apabila Unila ingin melakukan kerja sama dengan Australia. Adapun aktivitas yang dilakukan diantaranya melakukan inisiasi ke universitas di Australia untuk menyampaikan kebijakan internasionalisasi dan membuat networking, kemudian memfasilitasi pertemuan dengan universitas dan komunitas yang ada di Australia secara daring maupun offline, melakukan akselerasi dan maintaining untuk mengevaluasi.

“Kami siap memberikan bantuan dan fasilitasi untuk melakukan kerja sama dengan Australia,” katanya.

Prof. Lusmeilia memberikan tanggapan optimistis setelah mendengar pemaparan yang disampaikan narasumber. Dengan berbekal prestasi akreditasi internasional, perankingan dunia seperti QS World Ranking, Scimago, dan IKU, serta pembukaan kelas internasional, ia yakin Unila bisa mendorong terwujudnya kerja sama yang diharapkan sekaligus bisa mengikuti jejak universitas yang ada di Australia.

“Terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Najib atas kerja samanya dalam pertemuan ini. Kami akan segera menindaklanjuti hasil-hasil yang telah disepakati bersama. Selain itu, kami mengharapkan adanya kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan IPB dalam upaya mencapai world class university. Kami juga berencana untuk belajar dari universitas-universitas di Australia yang telah memiliki reputasi internasional,” tutupnya.

Seminar Peluang dan Tantangan Kolaborasi Riset dan Kerja Sama Perguruan Tinggi di Australia yang diselenggarakan LP2M ini diikuti ketua senat, para wakil rektor, dekan, dan wakil dekan, ketua lembaga, dan perwakilan unit kerja di lingkungan kampus.*

[Angelino Vinanti Sonjaya]