
(Unila) : Pelayanan prima sejatinya diterapkan pada semua stakeholder universitas maupun fakultas, baik internal (mahasiswa, dosen, dan karyawan) maupun eksternal. Pelayanan prima yang akan diterapkan universitas nantinya akan bersinergi dengan pelayanan prima yang juga diterapkan di fakultas (dalam hal ini Fakultas Ekonomi dan Bisnis) yang terlebih dahulu menerapkannya di Unila. Maka, nanti akan menjadi satu kesatuan yang baik jika semua fakultas dan universitas menerapkan pelayanan prima ini.
Demikian komentar Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila) Prof. Dr. Satria Bangsawan mengenai pelayanan prima yang mulai diterapkan Unila.
Program ini akan menyinergikan pelayanan satu dengan yang lain. “Begini. Pelayanan akademik kepada mahasiswa misalnya, tentu saja tidak selesai hanya di fakultas, pasti berkaitan dengan universitas. Maka, dengan pelayanan prima yang diterapkan universitas, tentunya dengan di ISO, akan semakin lengkap dengan fakultas, akan menjadi satu kesatuan. Secara keseluruhan, menurut saya dengan adanya ISO yang coba diraih universitas untuk pelayanan prima, maka akan memberikan daya dukung terhadap FEB yang terlebih dahulu mendapat ISO untuk pelayanan prima,” urai Satria, 12 November lalu, di ruang kerjanya.
Ia juga berharap, antara fakultas dan universitas saling mendukung untuk mewujudkan hal tersebut.
Pada dasarnya, lanjut Satria, pelayanan prima adalah memberikan pelayanan yang berbasis pada standar mutu.
Dari awal mula penerapan, salah satu kendalanya adalah merubah mindset sumber daya manusia yang akan melaksanakan pelayanannya, baik bagian akademik maupun non-akademik.
“Kesulitan merubah mindset misalnya, menerapkan sistem yang biasa saja atau menanggapi dengan apa adanya saja pada pola pelayanan prima. Di awal-awal, masih banyak yang belum memiliki visi ke depan bahwa penerapan pelayanan prima ini akan berdampak positif ke depannya serta manfaat yang baik pada semua stakeholder,” kata guru besar dari FEB Unila ini.
Namun, menurutnya, kendala itu dapat diatasi perlahan-lahan dengan memberi pemahaman pada orang-orang yang akan melaksanakannya. Setelah diberi pemahaman, orang pasti akan mengerti apa manfaat yang bisa diambil dari penerapan pelayanan prima ini.
Satria melanjutkan, pada awalnya penerapan pelayanan prima di FEB juga sulit, namun kini sudah mulai terbiasa. Roh dari pelayanan prima ini sebenarnya, semua pihak yang terlibat harus bisa menjiwai pekerjaannya. Pemahaman itu tidak bisa diberikan hanya dalam bentuk lisan saja, sebagai pimpinan juga harus memberi contoh.
“Pelayanan prima itu kan harus dimulai dengan kedisiplinan dan ketertiban. Misalnya, penerapan pelayanan prima di FEB dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB. Sebagai pimpinan harus mencontohkan hadir pada pukul 07.30 WIB. Setelah itu semua bentuk pelayanan yang akan dilakukan kepada mahasiswa dipersiapkan. Sehingga jika mahasiswa membutuhkan pagi-pagi, kita sudah siap,” pungkasnya.[] Andro