
(Unila): Di tengah eskalasi konflik global, Universitas Lampung (Unila) membuktikan batas teritorial dan dentuman proyektil tidak mampu menghentikan laju inovasi akademis yang berdampak bagi kemanusiaan.
Adalah Yahia K.I. Taha, mahasiswa berkebangsaan Palestina, yang berhasil menuntaskan studi Magister (S-2) Teknik Mesin Unila dengan membawa misi besar, membawa secercah cahaya untuk tanah kelahirannya yang dirundung kegelapan, Jalur Gaza.
Melalui tesisnya yang diuji di hadapan dewan pakar Unila, Yahia berhasil merancang Pemodelan Pembangkit Listrik Hybrid. Inovasi ini didesain khusus sebagai solusi taktis-aplikatif untuk mengatasi krisis energi akut di Gaza, wilayah konflik yang selama bertahun-tahun lumpuh akibat pemadaman listrik masif hingga belasan jam setiap hari.
Rektor Unila menegaskan, pencapaian Yahia adalah bukti nyata dari visi Unila Berdampak yang kini telah melintasi batas negara.
“Kami tidak hanya mendidik mahasiswa untuk lulus, tetapi membentuk mereka menjadi problem solver global. Keberhasilan Yahia menyusun formula energi terbarukan di tengah tekanan psikologis akibat konflik di tanah airnya adalah standar baru dari makna kegigihan akademik,” ujar pihak Rektorat Unila dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026.
Dari Mahasiswa Terbaik, Menuju Beasiswa Penuh
Jejak akademis Yahia di Bumi Ruwa Jurai dipenuhi dengan tinta emas. Mengawali perjalanannya dari jenjang Strata-1 (S-1) di Unila, ia konsisten menunjukkan performa luar biasa hingga dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Reputasi impresif inilah yang mengantarkannya meraih beasiswa penuh dari Unila untuk melanjutkan studi pascasarjana tanpa hambatan finansial, sebuah bukti komitmen Unila dalam mendukung inklusivitas pendidikan internasional.
Namun, mempertahankan fokus di ruang kuliah bukanlah perkara mudah bagi Yahia. Di balik meja laboratorium, ia harus bertaruh dengan kecemasan mendalam, menanti kabar dari keluarga di Gaza yang kerap diselimuti duka.
“Unila memberikan saya ruang aman saat dunia saya sedang tidak baik-baik saja. Di sini, riset saya tidak berakhir di perpustakaan sebagai tumpukan kertas, tetapi dibimbing untuk menjadi solusi nyata bagi kemanusiaan. Dukungan moral dari dosen dan keluarga di Gaza adalah alasan saya menolak untuk menyerah,” ungkap Yahia emosional.
Diplomasi Sains Indonesia-Palestina
Bagi Unila, kelulusan Yahia bukan sekadar angka statistik dalam upacara wisuda. Ini adalah bentuk diplomasi sains (science diplomacy) yang mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Palestina di level akar rumput.
Unila berkomitmen penuh agar cetak biru (blueprint) pembangkit listrik hybrid karya Yahia ini tidak berhenti di atas meja hijau, melainkan diupayakan melalui jaringan kolaborasi internasional agar dapat diimplementasikan langsung di Jalur Gaza.
Sebuah langkah nyata dari Lampung untuk menerangi kegelapan di Palestina, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dari Unila benar-benar hadir untuk mengabdi pada kemanusiaan dunia. [Humas]




