(Unila) : Akademisi Universitas Lampung (Unila) yang juga anggota tim ketahanan kota terhadap perubahan iklim Bandarlampung Maulana Mukhlis mengungkapkan pentingnya pemetaan sekolah rawan bencana terkait wacana pemberian materi mitigasi atau tanggap bencana alam di lingkungan sekolah.
“Hal penting yang perlu dilakukan adalah memetakan sekolah-sekolah rawan bencana, baik dari banjir, kekeringan, longsor, maupun bencana alam akibat perubahan iklim lainnya. Saat ini anak-anak kita, pada umumnya di sekolah, masih rentan terhadap bencana,” kata Maulana, Senin (27/1).
Dosen Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila ini mencontohkan, sekolah yang terpetakan rawan banjir nantinya, baik guru maupun siswa, perlu ditingkatkan kapasitasnya untuk tanggap terhadap banjir. Baik dari upaya pencegahan maupun antisipasi jika terjadi banjir.
Menurutnya jika terjadi banjir, siswa sekolah semestinya bukan diliburkan melainkan tetap datang ke sekolah. Mereka harus melihat secara langsung dampak dari banjir sehingga bisa turut berperan merehabilitasi sekolah sesuai dengan kemampuannya.
Usai melakukan studi komparasi di Batam beberapa waktu lalu, tim ketahanan kota terhadap perubahan iklim di Bandarlampung telah mengupayakan melakukan pemetaan sekolah rawan bencana, terutama pada empat sekolah uji coba penerapan materi terhadap perubahan iklim di Kota Tapis Berseri.
Setiap sekolah uji coba yakni, SMPN 7, SMPN 27, SD 1 Karangmaritim, dan SDN 1 Langkapura, memiliki karakteristik potensi bencana alam yang berbeda-beda. “SMPN 27 Bandarlampung misalnya yang berlokasi di daerah pesisir tentu rawan banjir sehingga materi mitigasi yang cocok diberikan di sana adalah mengatasi banjir,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan media ini, Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Lampung Admi Syarif mengimbau pentingnya memberikan materi mitigasi kepada siswa di sekolah mengingat potensi bencana akibat fenomena alam sebagai akibat cuaca ekstrem makin menggejala, termasuk di Lampung. Admi berpendapat, dengan antisipasi yang tepat maka kerugian yang kemungkinan terjadi dapat diminimalisir.[] Inay