
(Unila) : Memperoleh beasiswa ke luar negeri ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Jika para calon penerima beasiswa mengetahui tips dan trik maka peluang itu sangat terbuka lebar. Seperti halnya meraih beasiswa program doktoral yang ditawarkan Kanazawa University.
Hal itu disampaikan Public Relation (PR) Kanazawa University Acep Purqon Ph.D., dalam sosialisasi penawaran beasiswa lanjut studi ke Jepang, di Universitas Lampung (Unila). Kegiatan yang dibuka langsung Pembantu Rektor I Unila Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin ini berlangsung di Gedung Rektorat Lantai II, Selasa (21/1).
Kanazawa University, katanya, tahun ini menyiapkan kuota beasiswa program doktoral untuk 30 dosen di Indonesia. Diharapkan ada perwakilan dari setiap universitas sehingga terbentuk semacam miniatur masyarakat Indonesia. Di mana nanti semua orang dari berbagai perguruan tinggi dari beragam daerah bisa bertemu dan bekerja sama. “Menariknya program ini tidak homogen tapi heterogen. Jadi ada keragaman,” tandasnya.
Acep yang juga menjabat sebagai asisten profesor di ITB ini memaparkan, setiap tahun Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti) menawarkan program beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Namun tingkat penyerapannya masih rendah. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya kendala teknis.
Tidak mudah bagi calon penerima beasiswa melakukan kontak langsung dengan profesor pembimbing. Banyak di antara pelamar beasiswa yang gagal justru ketika melakukan komunikasi awal, yakni pada saat mengajukan karya tulis.
Pria asal Bandung ini menguraikan, jika penulisan karya tulis yang diajukan terlalu panjang kemungkinan untuk dibaca oleh profesor sangat kecil, mengingat jadwal mereka yang sangat padat. “Kalau tulisan terlalu panjang, apalagi seperti curhat ya pasti nggak dibaca. Profesor itu kan sibuk. Jadi tulisan harus dibuat sederhana dan semenarik mungkin,” ungkapnya.
Problem lain yang sering kali ditemui yaitu perbedaan bidang studi antara calon mahasiswa dan profesor pembimbing. Jadi belum tentu kegagalan calon beaswan disebabkan karena kemampuan akademisnya yang rendah.
Selanjutnya, kata Acep, terkait proses pengajuan dan pendaftaran yang membutuhkan waktu, sementara di sisi lain jadwal penawaran beasiswa tidak teratur, sehingga kesempatan terkadang terlewat begitu saja. Maka para pendaftar memang diimbau untuk bisa berkoordinasi, bukan hanya dari mahasiswa tapi dari berbagai pihak.
Pria yang sudah melewati 6 tahun di Jepang ini mengatakan, Kanazawa University banyak memberikan kemudahan bagi para pelamar beasiswa Strata III (S3). Misalnya adanya proses matching. Di Jepang, lanjut Acep, belum ada universitas yang menawarkan program tersebut, di mana calon mahasiswa dipertemukan secara online oleh calon profesor pembimbing. Tiga profesor saat ini telah disiapkan untuk disandingkan dengan calon dosen penerima beasiswa.
Kemudahan lain yakni ditiadakannya research student sehingga tidak ada ketentuan bagi penerima beasiswa untuk masuk ke dalam program yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2014 mendatang.
Keuntungan selanjutnya yakni adanya program dana talangan yang tentunya ditujukan agar mahasiswa fokus dalam menjalani studi. Hal ini juga sebenarnya sudah menjadi misi bagi Kanazawa University untuk memberikan kesempatan mudah bagi peneliti Indonesia bergabung di sana. Kanazawa berani mengucurkan dana talangan pembiayaan masa studi sebesar Rp600 juta/orang untuk tiga bulan pertama.
Selain mengetahui trik dan kemudahan, peluang beasiswa ke luar negeri bagi tenaga pendidik di Indonesia sebenarnya terbuka lebar. Diungkapkan Acep, Dikti setiap tahunnya membuka kesempatan bagi 3.000 dosen di seluruh perguruan tinggi Indonesia untuk meraih beasiswa lanjut studi. Sayangnya daya serapnya masih sangat kurang hanya sekitar 600 orang per tahun. “Ini kan sebuah peluang. Jadi harus dimanfaatkan.” [] Inay