(Unila): Komitmen terhadap pelestarian bahasa daerah mengantarkan mahasiswa Program Studi Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), R. J. Bladys Sultany Xyalam, meraih predikat Terbaik II Duta Bahasa Provinsi Lampung.

Pada ajang tersebut, ia menghadirkan inovasi digital bernama Siger-Bot yang berfokus pada edukasi dan pelindungan bahasa Lampung.

Bagi Bladys, capaian tersebut bukan sekadar prestasi kompetitif, melainkan amanah untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

“Hal ini bukan sekadar tentang memenangkan kompetisi, melainkan sebuah amanah, tanggung jawab, dan ruang pengabdian yang baru. Saya berkomitmen penuh untuk membawa nama baik almamater Universitas Lampung melalui aksi nyata di masyarakat,” ujarnya.

Motivasinya mengikuti pemilihan Duta Bahasa berangkat dari keprihatinan terhadap menurunnya budaya literasi dan penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.

Ia meyakin,i bahasa tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam berbagai bidang, termasuk agribisnis yang menjadi bidang studinya saat ini.

Bersama tim Daksa Siger, Bladys mengembangkan Siger-Bot atau Sahabat Interaktif Gerakan Bahasa & Ragam Lampung, sebuah asisten digital berbasis WhatsApp yang dirancang untuk membantu masyarakat mempelajari bahasa Lampung secara praktis.

Platform tersebut menyediakan fitur penerjemahan, kamus bergambar, pengenalan aksara, audio penutur jati, hingga edukasi kebahasaan yang dikemas secara interaktif.

Lahirnya inovasi tersebut dilatarbelakangi menurunnya jumlah penutur bahasa Lampung, khususnya di kalangan generasi muda perkotaan.

Menurut Bladys, banyak anak muda mengalami kesulitan mengakses sumber belajar bahasa daerah, sementara kebutuhan pelindungan bahasa daerah semakin mendesak seiring berbagai kebijakan pemerintah yang mendorong pelestarian budaya lokal.

“Bahasa daerah adalah jangkar identitas budaya. Tanpa adanya digitalisasi bahasa, bahasa Lampung terancam mengalami penyusutan penutur di era globalisasi,” jelasnya.

Oleh Karena itu, ia dan tim memilih menjadikan isu kebahasaan sebagai fokus utama inovasi yang mereka kembangkan.

Proses pengembangan Siger-Bot dimulai dari pengumpulan data kebahasaan resmi, penyusunan sistem percakapan chatbot, hingga integrasi berbagai fitur edukatif.

Inovasi tersebut kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui sosialisasi di SMA Perintis 2 Bandar Lampung yang dikemas dalam bentuk drama komedi situasi agar lebih dekat dengan generasi muda.

Respons yang diterima pun sangat positif. Kehadiran Siger-Bot dinilai mampu menghilangkan rasa canggung masyarakat dalam mempelajari bahasa Lampung karena proses belajar dapat dilakukan secara mudah melalui percakapan digital sehari-hari.

Selain itu, platform ini juga membantu menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap identitas budaya lokal.

Pengembangan Siger-Bot menghadapi tantangan akurasi penerjemahan berbagai dialek bahasa Lampung yang diatasi melalui kurasi data dari sumber resmi Balai Bahasa Provinsi Lampung. Inovasi ini akan dikembangkan lebih luas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor pendidikan.

Inovasi ini menjadi bukti bahwa dari ruang-ruang belajar di Unila dapat lahir karya yang tidak hanya mengantarkan mahasiswa meraih prestasi, tetapi juga membawa harapan bagi pelestarian budaya daerah.

Melalui semangat inovasi dan pengabdian, Unila terus mendukung hadirnya generasi muda yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebermanfaatan bagi masyarakat luas. [Magang_Asnia Sundari]