Mahasiswa KKN Upayakan Digitalisasi Pemasaran Mocaf Purwodadi Melalui Google Maps

0
151

(Unila): Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) periode I tahun 2026 berhasil melaksanakan program kerja Workshop Optimalisasi Google Maps & Strategi Pengembangan Brand Mocaf (Modified Cassava Flour), yang berlokasi di Desa Purwodadi, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, dan terlaksana pada 21 Januari 2026.

Di balik hamparan kebun singkong yang menjadi denyut nadi ekonomi warga, tersimpan potensi besar bernama Mocaf (Modified Cassava Flour). Namun sebelum tersentuh program pengabdian mahasiswa, produk unggulan desa ini masih berjalan dalam sunyi alias dipasarkan secara terbatas, dengan visibilitas digital yang nyaris tak terlihat.

Keterbatasan pemasaran online, belum optimalnya branding, serta jangkauan pasar yang hanya berputar di wilayah lokal menjadi persoalan utama. Bahkan, sentra produksi Mocaf Purwodadi sebelumnya belum terdaftar di Google Maps dan belum memiliki aktivitas promosi di media sosial. Produk ada, kualitas terjaga, tetapi akses menuju pasar luas masih tertutup.

Melihat celah tersebut, mahasiswa KKN Tematik Unila menggagas program kerja berbasis digitalisasi pemasaran melalui Workshop Optimalisasi Google Maps & Strategi Pengembangan Branding Mocaf. Google Maps dipilih sebagai pintu masuk transformasi karena gratis, mudah diakses, dan terbukti efektif meningkatkan visibilitas lokasi usaha, terutama bagi UMKM desa yang ingin lebih mudah ditemukan konsumen.

Program kerja ini dijalankan oleh sejumlah mahasiswa-mahasiswi Unila dengan berbagai lintas jurusan, terdiri dari Bernadeta Bias Pertiwi dan Hanu Aji Rafly Saputra sebagai Person in Charge (PIC), beserta para anggota yang terdiri dari Rhafli Adhyaksa Pratama, Mayadha Syabbillah, Renita Dwi Wicahyani, Anggi Anggraini, Juan pembangun, Macario Jovan Hutabarat, Febri AnnasTia, Sulistyowati, dengan arahan Prof. Dr. Ir. Sugeng Prayitna Harianto, M.S., sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).

Dalam pelaksanaannya, workshop menghadirkan materi praktis yang aplikatif, mulai dari pengenalan branding UMKM, optimalisasi profil usaha di Google Maps, hingga pengelolaan media sosial sebagai etalase bisnis.

“Sebelum pelatihan, kami belum memahami bagaimana produk desa bisa ditemukan orang lewat internet. Setelah didampingi mahasiswa KKN, kami jadi tahu cara menampilkan lokasi usaha, mengelola profil, sampai mempromosikan mocaf secara digital,” ungkap Hanu.

Suasana pelatihan terasa hidup ketika peserta tak hanya mendengar, tetapi langsung mempraktikkan. Titik lokasi Sentra Mocaf didaftarkan dan dioptimalkan saat itu juga. Kini, rumah produksi tersebut telah memiliki profil digital yang informatif dan lebih mudah dilacak calon pembeli maupun mitra usaha.

Kolaborasi lintas kampus turut menjadi kekuatan dalam pelaksanaan program ini. Mahasiswa KKN-T Unila tidak berjalan sendiri, melainkan bersinergi dengan mahasiswa KKN-T IPB yang lebih dahulu mengabdi di Desa Purwodadi. Kehadiran tim IPB menjadi semacam pionir lapangan, mereka telah lebih dulu memetakan potensi desa, mengenali karakteristik masyarakat, serta merancang pijakan awal pengembangan Mocaf sebagai produk unggulan.

Berbekal data dan pengalaman tersebut, mahasiswa KKN Unila kemudian hadir membawa energi baru. Mereka mengakselerasi program melalui eksekusi teknis workshop, penguatan strategi digitalisasi, hingga pengembangan inovasi branding. Jika tim IPB berperan sebagai penyedia kompas arah, maka tim Unila menjadi motor penggerak di lapangan.

Dari sisi identitas produk, peserta didorong menonjolkan kekhasan lokal Purwodadi, mulai dari kualitas bahan baku singkong, proses produksi higienis, hingga narasi mocaf sebagai produk sehat unggulan desa. Pendekatan storytelling ini diyakini mampu menjadi pembeda di tengah persaingan produk mocaf dari daerah lain.

Antusiasme paling hangat datang dari ibu-ibu PKK dan Kelompok Wanita Tani. Rasa penasaran mereka terhadap teknologi perlahan berubah menjadi semangat. Media sosial yang sebelumnya dianggap sekadar hiburan, kini dipahami sebagai jembatan ekonomi. Meski sempat terkendala perangkat dan istilah teknis, pendampingan yang sabar membuat mereka justru tampil sebagai motor promosi digital desa.

Dukungan juga mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah Desa Purwodadi melihat mocaf sebagai identitas ekonomi strategis dan menyiapkan fasilitasi promosi serta penguatan kelembagaan UMKM. Semocindo turut memberi dukungan controlling serta membuka peluang jejaring pemasaran nasional, bahkan potensi ekspor di masa depan.

Sementara itu, Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu berkomitmen menjaga keberlanjutan, terutama dalam peningkatan nilai tambah singkong petani dan pengembangan produk turunan.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa KKN Unila meninggalkan tiga output konkret yakni digitalisasi lokasi produksi di Google Maps, pengelolaan akun Instagram oleh tim desa, serta banner identitas di sentra produksi. Langkah ini memastikan program tidak berhenti sebagai seremonial, melainkan menjadi fondasi pemasaran berkelanjutan.

Melalui program ini, Bernadeta berpesan agar kemandirian ekonomi desa dapat tumbuh dari potensi lokal yang dipadukan inovasi digital dan kolaborasi lintas sektor.
“Keterbatasan jangkauan pasar bukan lagi penghalang selama desa memiliki kemauan untuk bertransformasi dan terbuka terhadap pembaruan,” ungkapnya.

Dari singkong sederhana, Desa Purwodadi sedang mengukir jalan panjangnya menuju desa yang dikenal, dicari, dan diperhitungkan dari peta digital hingga pasar nasional. [Magang_Asnia Sundari]