Mahasiswa KKN Sosialisasi Budidaya Maggot

0
36

(Unila): Permasalahan sampah organik rumah tangga yang hingga kini belum terkelola secara optimal mendorong hadirnya solusi berbasis pemberdayaan masyarakat.

Di Kelurahan Rajabasa Nunyai, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung (Unila) menginisiasi program budidaya maggot sebagai alternatif pengelolaan sampah organik yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis.

Sosialisasi dan praktik budidaya maggot ini dilaksanakan pada Rabu, 4 Februari 2026, di RT 07 Lingkungan 02 Kelurahan Rajabasa Nunyai.

Hadir memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut Camat Rajabasa Rachmatsyah, Lurah Rajabasa Nunyai Nurmala Sari, Kepala Lingkungan satu dan Lingkungan dua serta Ketua RT, Linmas, PKK di LK dua Rajabasa Nunyai. Turut hadir Dosen Pembimbing Lapangan Rajabasa Nunyai, dr. Rasmi Zakiah Oktarlina, M. Farm., dan Pemateri Sosialisasi Amir Syarifudin, S.Pd.

Program budidaya maggot tersebut dilaksanakan melalui kegiatan sosialisasi yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat serta peresmian Rumah Maggot sebagai sarana pengelolaan sampah organik.

Warga mengikuti pemaparan materi terkait pengelolaan sampah organik dan mekanisme budidaya maggot, serta menerima modul panduan sebagai bahan pembelajaran lanjutan. Usai peresmian, masyarakat juga diajak melihat secara langsung kondisi maggot dan proses kerjanya dalam mengurai sampah organik.

Ketua KKN Universitas Lampung Kelurahan Rajabasa Nunyai 2, Harun Al Rasyid, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen mahasiswa Unila untuk menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di masyarakat.

“Kami ingin membantu warga mengelola sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Budidaya maggot adalah solusi sederhana yang bisa diterapkan oleh siapa saja,” jelasnya.

Sosialisasi dan pendampingan budidaya maggot ini dilaksanakan selama masa KKN periode 1 tahun 2026 yang berlangsung selama satu bulan. Tim KKN secara berkala memantau perkembangan budidaya maggot sekaligus memberikan pendampingan kepada warga agar program dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

Menurut Harun, Program Rumah Maggot ini adalah buah dari pengorbanan tenaga, pikiran, hingga materi yang telah dicurahkan sejak jauh hari, “Semoga dedikasi kami ini menjadi manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Keberadaan Rumah Maggot ini tidak hanya menjadi simbol fisik semata. Harun berharap fasilitas ini nantinya dapat diimplementasikan secara nyata oleh warga, khususnya di Kelurahan Rajabasa Nunyai, sebagai solusi cerdas dalam pengelolaan sampah organik sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat. Semoga apa yang kita upayakan hari ini membawa keberkahan bagi lingkungan.

Camat Rajabasa Rachmatsyah menyampaikan, sampah organik memiliki potensi besar apabila dikelola dengan tepat. Melalui budidaya maggot, limbah rumah tangga dapat diurai secara alami dan cepat sehingga mampu mengurangi volume sampah di lingkungan permukiman.

“Pemerintah tentu sangat mendukung dan memberikan apresiasi atas program ini. Melalui budidaya maggot, sampah organik sebenarnya dapat dikelola kembali sehingga mampu mengurangi limbah rumah tangga dan membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih,” ujarnya.

Ia juga menekankan, program budidaya maggot berpeluang menjadi usaha yang menjanjikan bagi masyarakat Kelurahan Rajabasa Nunyai. Budidaya ini dinilai mudah diterapkan karena tidak membutuhkan lahan yang luas serta memanfaatkan sampah organik sebagai pakan utama maggot.

“Budidaya maggot ramah lingkungan dan biaya produksinya rendah. Yang dibutuhkan hanya kemauan dan konsistensi,” ujar Rachmatsyah.

Ia berharap program ini dapat terus dijalankan meskipun masa KKN telah berakhir, “Jika dilakukan secara konsisten, budidaya maggot tidak hanya mampu mengurangi sampah organik rumah tangga, tetapi juga membuka peluang usaha kecil berbasis pengelolaan sampah bagi masyarakat Kelurahan Rajabasa Nunyai,” pungkasnya.

Program ini diawali dengan sosialisasi pengelolaan sampah organik, pengenalan budidaya maggot, hingga praktik langsung pembuatan media dan perawatan maggot. Pada sesi praktik, warga tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan dan aktif berdiskusi mengenai pemilahan sampah, proses penguraian, serta pemanfaatan hasil budidaya.

“Harapannya, kami TIM KKN Rajabasa Nunyai 2 ingin agar peresmian Rumah Maggot ini menjadi tonggak awal terciptanya ekosistem lingkungan yang mandiri di kelurahan ini. Kami berharap fasilitas ini terus dikelola secara konsisten oleh masyarakat, sehingga masalah sampah organik dapat tuntas di sumbernya sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga secara berkelanjutan,” ujar Tim KKN. [Magang_Shalu Munadiyan]