(Unila) : Karya Wisata Ilmiah atau yang biasa disebut KWI merupakan agenda besar tahunan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila). Kegiatan ini dikemas dan dijalankan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FMIPA Unila dan merupakan agenda khusus bagi mahasiswa baru (maba).
Tahun ini KWI kembali dilaksanakan pada 22–23 Januari 2014 bertempat di Aula Islamic Center untuk indoor. Kegiatan outdoor akan dilakasanakan pada 27 Januari–1 Februari 2014 di Desa Mulyosari, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan.
Kegiatan indoor diisi dengan studium general (SG) menghadirkan tokoh yang ada di Provinsi Lampung. GS akan mendiskusikan dan membuka wawasan mahasiswa tentang kepemimpinan. Selain itu, terdapat materi-materi yang nantinya akan peserta terapkan selama di desa, seperti aplikasi teknologi tepat guna, etika bermasyarakat, teknik micro-teaching serta penjelasan singkat tentang daerah tempat KWI. Sedangkan pada saat outdoor mereka langsung terjun ke masyarakat menjalankan program sesuai dengan yang sudah dibuat.
Ketua Pelaksana KWI Muhammad Sobran mengatakan sudah ada beberapa tempat yang menjadi pilihan untuk KWI tahun ini. Namun, berdasarkan hasil survei dan musyawarah panitia maka ditetapkanlah desa tersebut karena dapat dikatakan masih sedikit tertinggal, akses perjalanan tidak terlalu jauh, serta terkondisikan dengan baik.
Peserta dari kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa baru FMIPA 2013 dan mahasiswa tahun sebelumnya yang belum mengikuti KWI, berkisar 400 mahasiswa.
Ia berharap KWI tahun ini pun bisa sukses sebagaimana suksesnya KWI pada tahun-tahun sebelumnya dan banyak manfaat, ilmu, dan pengalaman yang akan didapatkan oleh para peserta.
Dekan FMIPA Unila Prof. Suharso Ph.D. menjelaskan, KWI pertama kali dilaksanakan pada tahun 1990 dengan sebutan Kemah Wisata Ilmiah. Agenda kemah berada di pedesaan yang masih tertinggal di Provinsi Lampung. Dahulu KWI dilaksanakan hanya 3 hari, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu pada liburan perkuliahan akhir semester genap.
KWI pertama kali diadakan di Waylima yang dahulu bagian dari Kabupaten Lampung Selatan. “Dahulu baru ada dua jurusan yakni jurusan kimia dan biologi maka terlihat masih sedikit,” ujar Acho—sapaan akrab Suharso.
KWI dilaksanakan dengan tujuan kearah kajian ilmiah. Dengan tujuan awal membentuk watak ilmiah dan membangun karakter ilmiah yang kuat, santun, jujur serta membangun kesetaraan bukan penindasan, dan untuk membangun motivasi dalam diri agar tetap semangat.
Acho melanjutkan, seiring bertambahnya jurusan di FMIPA Unila, yakni jurusan fisika, matematika, dan ilmu komputer, kini KWI mengutamakan membangun kekompakan satu kesatuan keluarga besar FMIPA.
Pada kesempatan ini juga Eks Gubernur BEM FMIPA 2011—2012 Tri Julian Muhar ikut berbicara. Dahulu katanya, KWI menitiberatkan lebih kepada mahasiswanya bukan ke warga desa yang ditempatkan KWI. Sehingga, belum dapat dirasakan dampak positif ke warga dengan adanya KWI. Namun, beberapa tahun kemudian mulai disisipkan muatan kegiatan yang langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memberikan manfaat kepada warga desa.
Kini KWI dibentuk dengan dua tujuan, yakni ke dalam dan ke luar. Adapun ke dalam, yakni menyatukan mahasiswa baru FMIPA agar tidak terkotak-kotak antarjurusan tetapi harus satu keluarga karena satu fakultas harus saling berinteraksi.
Tujuan ke luar, yakni berbagi ke masyarakat sesuai hakikat manusia sebagai mahluk sosial. Selanjutnya, memberikan ilmu yang didapat oleh dosen dan mahasiswa kepada masyarakat.
Saat KWI, BEM juga mengangkat isu yang ada di desa tersebut, misalnya apa yang sedang menjadi kebutuhan warga desa. BEM berperan sebagai penghubung dan penyampai aspirasi warga untuk disampaikan kepada pemerintah setempat. Selanjutnya, memberikan motivasi kepada anak-anak sekolah agar semangat untuk menuntut ilmu tidak hanya sampai jenjang SD, SMP, dan SMA, tetapi juga sampai jenjang perguruan tinggi. Mereka diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang di dapat untuk kemajuan desa.
KWI memiliki program-program unggulan seperti penyuluhan, pengabdian dosen, pengobatan gratis, tabligh akbar, sunat massal, membuat taman baca, pembagian sembako, diskusi aspirasi, mahasiswa mengajar, lomba-lomba, nonton bareng, dan lain-lain. “Tiap tahun berbeda-beda karakternya tetapi secara umum hampir sama hanya menyesuaikan tiap tahunnya saja,” tutup Alan—sapaan akrab Tri Julian Muhar.[] Hermansyah R.