Lemlit Dorong Pendidikan Mitigasi

0
1077

(Unila) : Ketua Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Lampung (Unila) Dr.Eng. Admi Syarif menilai sudah waktunya pendidikan mitigasi atau tanggap bencana diberikan di sekolah.

“Maraknya bencana di berbagai daerah, termasuk di Lampung harus disikapi serius. Saat ini datang akibat cuaca ekstrem, salah satu dampak dari perubahan iklim. Pendidikan mitigasi atau tanggap bencana sebaiknya mulai dikenalkan di sekolah,” ujarnya saat ditemui, Jumat
(24/1).

Koordinator Tim Ahli Program Penerapan Materi Perubahan Iklim pada Jenjang Pendidikan Dasar (Dikdas) di Kota Bandarlampung ini mengatakan, baik pemerintah maupun masyarakat tentunya tidak menghendaki terjadinya bencana alam. Namun bencana itu sudah merupakan kehendak Tuhan. “Tugas kita sebagai manusia adalah harus bersikap tangap dan siap ketika bencana itu datang,” kata Admi.

Terlebih, lanjutnya, hasil penelitian tim dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Lampung dalam mengidentifikasi kerentanan kota terhadap bencana menyimpulkan paling tidak ada lima potensi bencana yang mungkin muncul akibat adanya perubahan iklim.

Ancaman perubahan iklim itu meliputi bahaya banjir, ancaman angin ribut atau puting beliung, tanah longsor, kekeringan, serta erosi pantai. Semuanya dapat menimbulkan kerugian bagi warga, baik langsung maupun tidak langsung.

Bencana banjir menurutnya dapat memengaruhi sektor perikanan dan kehidupan pesisir di bidang perumahan serta kesuburan tanah di bidang pertanian. Selain itu, menyebabkan penyakit karena air dan vector-borne (menular), serta rusaknya infrastruktur (transportasi dan komunikasi).
Sementara angin ribut dan tanah longsor menurutnya dapat memorak-porandakan perumahan dan fasilitas umum, mengakibatkan hancurnya infrastruktur, dan menyebabkan kerugian ekonomi. Sementara kekeringan dan erosi pantai mengakibatkan ancaman kekurangan air besih, menghambat pertanian, dan buruknya sanitasi lingkungan.

Terkait hal ini, Admi menjelaskan, penerapan kurikulum ketahanan kota terhadap perubahan iklim di Bandarlampung dimaksudkan membentuk para guru dan siswa untuk tanggap menghadapi bencana alam. “Harapannya, mereka memiliki kemampuan adaptif dari potensi bencana yang mungkin datang akibat perubahan iklim,” tandasnya.[] Inay