Kuliah Umum Danrem 043/Gatam: Peran Pemuda Menghadapi Proxy War

0
2455

Kuliah Umum Danrem 043-Gatam

(Unila): Indonesia kaya akan sumberdaya alam meliputi sumber energi, pangan, dan konsumsi. Tetapi banyak negara lain yang tampaknya tidak ingin Indonesia lebih ‘maju’. Oleh karena itu kita harus bijak dan bersatu agar ancaman ke depan bisa diantisipasi sejak dini.

Di antara langkah antisipasi itu melalui perwujudan persepsi tentang ancaman dan solusi oleh semua komponen masyarakat, khususnya pemuda sebagai motor penggerak. Demikian diungkapkan Komandan Korem 043 Garuda Hitam Kol. Inf. Joko Purwo Putranto, M.Sc., saat memberikan kuliah umum (general stadium) dalam Program Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Universitas Lampung (Unila), di GSG Unila, Selasa (25/8).

“Banyak generasi muda yang akan menjadi pejuang-pejuang dalam menghadapi proxy war. Mahasiswa akan menjadi agen perubahan dalam mengantisipasi hal tersebut,” ujar lulusan akademi militer tahun 1990 ini.

Proxy war, sambung Joko, dalam konteks perang adalah perang di mana salah satu pihak atau kedua belah pihak yang bertikai menggunakan pihak ketiga atau kelompok lain melalui berbagai aspek (ipoleksosbudhankam). Perang melalui berbagai aspek berbangsa dan bernegara. Tidak bisa terlihat siapa kawan atau pun lawan. “Dan ini dilakukan oleh non state actor tapi dikendalikan oleh state,” kata dia.

Dalam proxy war menurut Joko, peran pemuda sangat strategis dan menentukan. Lalu apakah hal tersebut ada di Indonesia ? Ia memaparkan, jika dilihat dari perspektif sejarahnya Indonesia sudah mulai menghadapi proxy war. Ini terlihat dari beberapa indikator mulai dari lepasnya Timor Timur, demonstrasi buruh yang terjadi di berbagai tempat, demo buruh besar-besaran, tawuran antarpelajar, pengrusakan fasilitas pemerintah, fasilitas umum, dan objek vital.

Dan hal lainnya seperti bentrok antara mahasiswa dan masyarakat hingga penyalahgunaan narkoba sehingga mengakibatkan generasi yang tidak berkualitas (lost generation). Indonesia banyak memiliki keunggulan tapi keunggulan itu tidak dimanfaatkan untuk bersatu malah disalahgunakan dalam pertikaian. Oleh karena itu pemuda harus memperjuangkan kebersamaan, persatuan, dan rasa senasib seperjuangan untuk menangkal hal negatif itu.

“Definisikan masalah bangsa, apa yang paling besar ? Apakah korupsi, kurikulum, narkoba, atau posisi kita yang menjadi alat proxy war. Tidak ada gunanya kita makmur dan modern namun kehilangan hal terfundamental dan yang terbaik dari bangsa kita. Melalui pancasila, kebhinekaan, semangat persatuan, toleransi, dan kesantunan lah hal-hal negatif itu dapat teratasi,” paparnya.[]