(Unila): Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Lampung (Unila) resmi menjadi motor penggerak perumusan kebijakan pembangunan regional berbasis keberlanjutan. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya Konferensi Indonesian Regional Science Association (IRSA) ke-21 di Diamond Grand Ballroom, Grand Mercure Lampung, Senin, 6 Juli 2026. Forum ilmiah internasional tahunan ini mengintegrasikan inovasi, konektivitas, dan inklusi sosial guna memperkuat sektor agro-maritim nasional.
Dipilihnya Lampung sebagai tuan rumah menegaskan posisi strategis wilayah ini sebagai koridor utama ketahanan pangan dan ekonomi hijau di Indonesia. Konferensi ini mempertemukan ratusan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan dunia untuk membedah tantangan global di sektor pertanian, akuakultur, dan kehutanan.
Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., saat membuka acara menegaskan, perguruan tinggi harus menjadi jembatan utama yang menghubungkan potensi lokal dengan jaringan inovasi global.
“Unila berkomitmen penuh membuka ruang kolaborasi lintas sektor yang inklusif. Melalui forum IRSA ini, kita merajut kemitraan bermakna antara Lampung, Indonesia, dan komunitas internasional untuk melahirkan rekomendasi kebijakan yang berbasis sains (science-based policy),” ujar Prof. Lusmeilia.
Ia menambahkan, karakteristik wilayah Lampung yang kaya akan sektor pertanian dan perdagangan menjadikannya laboratorium hidup yang ideal untuk menguji model transformasi regional ekonomi hijau.
Konferensi bergengsi ini turut menghadirkan jajaran pakar dan pengambil kebijakan lintas negara sebagai keynote speakers, di antaranya Prof. Wing Thye Woo; Dr. Maria Monica Wihardja; Prof. Dr. Bustanul Arifin; Dr. Ani Adiwinata Nawir; dan Jeffrey Neilson. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memperkuat bobot akademis konferensi dalam merumuskan Solusi Inovatif atas isu-isu krusial pembangunan.
Presiden IRSA, Dr. Djoni Hartono, S.Si., M.E., bersama Ketua Pelaksana IRSA, Prof. Dr. Susi Sarumpaet, S.E., M.B.A., Ak., menyatakan, sinergi lintas sektor yang diusung dalam tema “Synergizing Innovation, Connectivity, and Social Inclusion in Agriculture, Aquaculture, and Forestry” ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata.
Konferensi ini ditargetkan menghasilkan cetak biru (blueprint) solusi konkret yang mendukung percepatan transformasi ekonomi regional yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Melalui penyelenggaraan IRSA ke-21 ini, FEB Unila membuktikan peran strategis humas perguruan tinggi dalam mengamplifikasi kontribusi nyata kampus terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.[Red/Magang_ Izma Nur Afni]



