(Unila): Dr. Karomani, M.Si., dikukuhkan sebagai guru besar ke-60 Universitas Lampung (Unila). Pengukuhan dilakukan oleh Wakil Rektor I Prof. Bujang Rahman mewakili rektor yang berhalangan hadir pada saat itu, di Gedung Serbaguna Unila, Selasa (1/3).
Pada sidang penerimaan jabatan itu, Karomani didaulat sebagai Profesor Bidang Ilmu Komunikasi Sosial Universitas Lampung. Dalam rapat luar biasa senat itu Karomani yang juga Wakil Rektor III Unila ini menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Model Komunikasi Antarelite Lokal di Banten” (Sebuah Refleksi untuk Kajian Komunikasi Antarbudaya di Lampung).
Saat diwawancara, kepada awak media Karomani menyampaikan, usulan guru besarnya ini sempat terhambat karena ada syarat yang tidak terpenuhi dalam hal persamaan rumpun ilmu di mana jika ia ingin menjadi guru besar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) maka jalur pendidikan yang ditempuhnya mulai S-1 hingga S-3 harus linear.
Sementara antara jenjang S-1 dan S-2nya memiliki rumpun ilmu yang berbeda. Karena itu ia meminta kepada rektor terdahulu untuk dimutasi ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) lantaran jalur pendidikan akademik yang ia tempuh di strata II dan III berada di rumpun ilmu FISIP.
Dan usahanya itu membuahkan hasil, dalam waktu dua bulan saja Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) akhirnya menyetujui Karomani untuk dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Lampung pada 1 Maret 2016.
“Sebelumnya karena tidak linear rumpun ilmunya maka sempat mandek lama di FKIP. Setelah melakukan mutasi ke FISIP barulah dua bulan kemudian guru besar saya turun,” ujar Karomani.
Ia menjelaskan alasan memilih judul “Model Komunikasi Antarelite Lokal di Banten” dalam orasi ilmiah karena menurutnya rekayasa sosial dan ilmu komunikasi sosial itu penting untuk melihat fenomena hubungan antaretnik, antarlembaga, maupun antarorang.
Jika seseorang sudah tahu hubungan antaretnik, antarorang, dan antarlembaga maka bisa berkomunikasi dengan baik. Sebagai contoh ketika kita masuk dalam komunikasi masyarakat jawa dan nonjawa apabila tidak pas komunikasinya maka hampir dipastikan menimbulkan masalah.[inay]